(MAKALAH)
MATA KULIAH: DESAIN MODEL PEMBELAJARAN IPS
DOSEN: 1. Dr. R. GUNAWAN SUDARMANTO, SE. MM.
2. Dr.PUJIATI, M.Pd

OLEH :
GUSNETTY JAYASINGA/ 1323031012
PROGRAM PASCASARJANA PENDIDIKAN IPS
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2013
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena dengan
rahmat dan hidayahNya maka tugas ini dapat diselesaikan dalam rangka memenuhi
tugas perkuliahan Desain Model Pembelajaran IPS pada Program Studi Magister
Pendidikan IPS Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.
Penulis menyadari sepenuhnya masih banyak kekurangan dalam penyajian dan
referensi yang dapat penyusun pergunakan dan menyadari bahwa dalam penulisan
makalah ini banyak kelemahan dan kekurangan sehingga diharapkan kritik dan
saran dari Bapak Dr. R. Gunawan sudarmanto, SE. MM. dan Dr.Pujiati, M.Pd
sebagai dosen pengampu mata kuliah Desain Model Pembelajaran IPS demi perbaikan
dan kesempurnaan pemahaman yang penyusun dapatkan dalam
pembuatan tugas-tugas lainnya. Demikian tugas ini disusun semoga
bermanfaat bagi semua pihak.
Metro, Oktober 2013
Penulis
DAFTAR ISI
|
|
|
Halaman
|
|
HALAMAN JUDUL
|
...............................................................................
|
1
|
|
KATA PENGANTAR
|
...............................................................................
|
2
|
|
DAFTAR ISI
|
...............................................................................
|
3
|
|
BAB I.
|
PENDAHULUAN
...............................................
A.
Latarbelakang
...........................................
|
4
4
|
|
|
B.
Rumusan Masalah ....................................
|
5
|
|
|
C.
Batasan Masalah
......................................
|
5
|
|
|
D.
Tujuan Penulisan
......................................
|
5
|
|
|
|
|
|
BAB II.
|
PEMBAHASAN
..................................................
|
6
|
|
|
A.
Pengembangan Model Pembelajaran .................
B.
Pendekatan Pembelajaran ..................................
C.
Strategi Pembelajaran .......................................
D.
Metode Pembelajar .............................................
|
6
7
15
16
|
|
BAB III.
|
PENUTUP
...........................................................
|
21
|
|
DAFTAR PUSTAKA
|
...............................................................................
|
22
|
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Dalam dunia pendidikan
banyak sekali inovasi yang dilakukan tak terkecuali dalam pembelajaran, karena
pembelajaran adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengoptimalkan potensi siswa
agar dapat mencapai tujuan pendidikan. Untuk itu perlu adanya perrencanaan yang
matang, dalam perencanaan ini terdapat pendekatan pembelajaran yang meliputi
strategi, metode, model, teknik, dan taktik pembelajaran. Pendekatan
pembelajaran ini harus dilakukan pembaharuan agar sesuai dengan perkembangan
zaman.
Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di
Indonesia, para guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka
pilihan model pembelajaran. Jika para guru (calon guru) telah dapat memahami
konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep
dan teori) pembelajaran sebagaimana akan dikemukakan, maka pada dasarnya guru
pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran
tersebut secara tersendiri dan khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat
kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model
pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya
khazanah model pembelajaran yang telah ada.
Namun dalam dunia pendidikan terdapat banyak istilah, baik yang bersifat filosofis,
konseptual, maupun praktis. Terkadang para guru atau calon guru tidak memahami
perbedaan masing-masing istilah tersebut, atau secara sengaja mengaburkan
batasan-batasan istilah tersebut karena ketidak-tahuannya, sehingga mereka
memperoleh pemahaman yang rancu terhadap istilah tersebut. Akibatnya, mereka
secara tanpa sadar juga mengimplementasikan istilah tersebut dalam pembelajaran
meskipun pada hakikatnya tidak tepat.
Terkadang metode dipahami sebagai pendekatan, atau strategi dipahami
sebagai teknik, atau sebaliknya. Padahal sintaks (urutan) makin mengkerucut
tentang istilah-istilah tersebut adalah sebagai berikut:
worldview-paradigma-pendekatan-strategi-metode-teknik-taktik.
1.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan pada latar belakang yang sudah penulis uraikan
tersebut di atas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut :
1.
Apa yang
dimaksud dengan pengembangan model pembelajaran?
2.
Apa yang dimaksud dengan pendekatan pembelajaran?
3.
Apa yang dimaksud dengan strategi pembelajaran?
4.
Apa yang dimaksud dengan metode pembelajaran?
2.
Batasan
Masalah
Dalam hal ini penulis
membatasi masalah pada pengembangan model, pendekatan, strategi dan metode
pembelajaran.
3.
Tujuan
Penulisan
1. Memahami
tentang pengembangan model pembelajaran?
2. Memahami
tentang pendekatan pembelajaran?
3. Memahami
tentang strategi pembelajaran?
4. Memahami
tentang metode pembelajaran?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengembangan
Model Pembelajaran
Model Pembelajaran diartikan sebagai prosedur
sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan
belajar. dapat juga diartikan suatu pendekatan yang digunakan dalam kegiatan
pembelajaran. Jadi, sebenarnya model pembelajaran
memiliki
arti yang sama dengan pendekatan,
strategi atau metode pembelajaran. saat ini
telah banyak dikembangkan berbagai macam
model pembelajaran, dari yang sederhana sampai model yang agak kompleks
dan rumit karena memerlukan banyak alat bantu dalam penerapannya.
1.
Rasional teoritik yang logis yangdisusun oleh para
pencipta atau pengembangnya.
2.
Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa
belajar.
3.
Tingkah laku mengajar yang diperlukanagar model
tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil.
4.
Lingkungan belajar yang duperlukanagar tujuan
pembelajaran dapat tercapai.
Sedangkan model pembelajaran menurut
Kardi dan Nur ada lima model pembelajaran
yang dapat digunakan dalam mengelola pembelajaran, yaitu: pembelajaran
langsung; pembelajaran kooperatif; pembelajaran berdasarkan masalah; diskusi;
dan learning strategi.
2. Memilih Model Pembelajaran Yang Baik
Sebagai seorang guru harus mampu memilih model pembelajaran yang tepat bagi peserta didik.
Karena itu dalam memilih model pembelajaran, guru harus memperhatikan keadaan
atau kondisi siswa, bahan pelajaran serta sumber-sumber belajar yang ada agar
penggunaan model pembelajaran dapat
diterapkan secara efektif dan menunjang keberhasilan
belajar siswa.
Seorang guru diharapkan memiliki motivasi dan semangat pembaharuan dalam
proses pembelajaran yang dijalaninya.
Menurut Sardiman A. M, guru yang kompeten adalah guru yang mampu mengelola
program belajar-mengajar. Mengelola di sini memiliki arti yang luas yang
menyangkut bagaimana seorang guru mampu menguasai keterampilan dasar mengajar,
seperti membuka dan menutup pelajaran, menjelaskan, menvariasi media, bertanya,
memberi penguatan, dan sebagainya, juga bagaimana guru menerapkan strategi, teori belajar dan pembelajaran,
dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif.
Pendapat serupa dikemukakan oleh Colin Marsh menyatakan bahwa guru harus
memiliki kompetensi mengajar, memotivasi peserta didik, membuat model
instruksional, mengelola kelas, berkomunikasi, merencanakan pembelajaran, dan
mengevaluasi. Semua kompetensi tersebut mendukung keberhasilan guru
dalam mengajar.
Setiap guru harus memiliki kompetensi
adaptif terhadap setiap perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan
di bidang pendidikan, baik yang menyangkut perbaikan
kualitas pembelajaran maupun segala hal yang berkaitan dengan peningkatan prestasi belajar peserta
didiknya.
B. Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut
pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang
terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum,
di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran
dengan cakupan teoretis tertentu.
Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan,
yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student
centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau
berpusat pada guru (teacher centered approach).
1. Student Centered Approach
Student-centered Approach (SCA)
adalah pendekatan yang didasarkan pada pandangan bahwa mengajar dianggap
sebagai proses mengatur lingkungan dengan harapan agar siswa belajar. Dalam
konsep ini yang penting adalah belajarnya siswa. Yang penting dalam mengajar
adalah mengubah perilaku. Dalam konteks ini mengajar tidak ditentukan oleh
lamanya serta banyaknya materi yang disampaikan, tetapi dari dampak proses
pembelajaran itu sendiri. Bisa terjadi guru hanya beberapa menit saja di muka
kelas, namun waktu yang sangat singkat itu membuat siswa sibuk melakukan proses
belajar, itu sudah dikatakan mengajar.
Dalam SCA, mengajar tidak ditentukan oleh selera guru, akan tetapi sangat
ditentukan oleh oleh siswa itu sendiri. Hendak belajar apa siswa dari topik
yang harus dipelajari, bagaimana cara mempelajarinya, bukan hanya guru yang
menentukan tetapi juga siswa. Siswa mempunyai kesempatan untuk belajar sesuai
dengan gayanya sendiri. Dengan demikian peran guru berubah dari sebagai sumber
belajar menjadi peran sebagai fasilitator, artinya guru lebih banyak sebagai
orang yang membantu siswa untuk belajar.
Tujuan utama mengajar adalah untuk membelajarkan siswa. Oleh sebab itu,
kriteria keberhasilan proses mengajar tidak diukur dari sejjauh mana siswa
telah menguasai materi pelajaran, melainkan diukur dari sejauh mana siswa telah
melakukan proses belajar. Dengan demikian guru tak lagi berperan hanya sebagai
sumber belajar tapi berperan sebagai orang yang membimbing dan memfasilitasi
agar siswa mau dan mampu belajar. Inilah makna proses pembelajaran berpusat
pada siswa.
Siswa tidak dipandang sebagai objek belajar yang dapat diatur dan dibatasi
oleh kemauan guru, melainkan siswa ditempatkan sebagai subjek yang belajar
sesuai dengan minat, bakatnya, dan kemampuan yang dimikinya. Oleh sebab itu
materi apa yang seharusnya dipelajari dan bagaimana mempelajarinya tidak
semata-mata ditentukan oleh keinginan guru, tetapi memperhatikan setiap perbedaan
siswa. Ciri kedua: siswa sebagai subjek belajar. Dalam proses mengajar sebagai
proses mengatur lingkungan, siswa tidak dianggap sebagi organisme yang pasif
yang hanya sebagai penerima informasi, akan tetapi dipandang sebagai organisme
yang aktif, yang memiliki potensi untuk berkembang. Mereka adalah individu yang
memiliki potensi dan kemampuan.
Ciri ketiga, proses pembelajaran berlangsung dimana saja. Sesuai dengan
karakteristik pembelajaran yang berorientasi kepada siswa, maka proses
pembelajaran dapat terjadi di mana saja. Kelas bukanlah satu-satunya tempat
belajar siswa. Siswa dapat memanfaatkan berbagai tempat belajar sesuai dengan
kebutuhuhan dan sifat materi pelajaran. Ketika siswa akan belajar tentang
fungsi pasar misalnya, maka pasar itu sendiri merupakan tempat belajar siswa.
Ciri terakhir, pembelajaran berorientasi pada pencapaian tujuan. Tujuan
pembelajaran bukanlah penguasaan materi pelajaran, akan tetapi proses untuk
mengubah tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Oleh karena
itulah penguasaan materi pelajaran bukanlah akhir dari proses pengajaran, akan
tetapi hanya sebagai tujuan antara untuk pembentukan perilaku siswa itu
sendiri. Untuk itulah metode dan strategi yang digunakan guru tidak hanya
sekedar metode ceramah, tetapi menggunakan berbegai metode.
2. Teacher-centered approach
Teacher-centered approach adalah suatu pendekatan belajar yang berdasar pada pandangan
bahwa mengajar adalah menanamkan pengetahuan dan keterampilan (Smith, dalam
Sanjaya, 2008: 96). Cara pandang bahwa pembelajaran (mengajar) sebagai proses
menyampaikan atau menanamkan ilmu pengetahuan ini memili beberapa ciri sebagai
berikut.
Pertama memakai pendekatan berpusat pada guru atau teacher-centered approach.
Pertama memakai pendekatan berpusat pada guru atau teacher-centered approach.
Dalam TCA gurulah yang harus menjadi pusat dalam KBM. Dalam TCA, guru
memegang peran sangat penting. Guru menentukan segalanya. Mau diapakan siswa?
Apa yang harus dikuasai siswa, semua tergantung guru. Bahkan seorang guru di
TCA memiliki hak legalitas keabsahan pengetahuan (yang benar itu seperti yang
dikatakan guru). Oleh karena begitu pentingnya peran guru, maka biasanya
proses pengajaran hanya akan berlangsung
manakala ada guru, dan tak mungkin ada pembelajaran apabila tidak ada guru. Sehubungan
dengan pembelajaran yang berpusat pada guru, minimal ada tiga peran utama yang
harus dilakukan guru, yaitu: guru sebagai perencana; sebagai penyampai
informasi; dan sebagai evaluator.
Selain guru sebagai pusat yang menentukan segalanya dalam pembelajaran,
ciri lain adalah siswa ditempatkan sebagai objek belajar. Siswa
dianggap sebagai organisme yang pasif, yang belum memahami apa yang harus
dipahami, sehingga dalam proses pembelajaran siswa dituntut untuk memahami
segala sesuatu yang disampaikan guru. Peran siswa adalah sebagai penerima
informasi yang diberikan guru. Jenis pengetahuan dan keterampilan kadang tidak
mempertimbangkan kebutuhan siswa, akan tetapi berangkat dari pandangan yang
menurut guru dianggap baik dan bermanfaat.
Sebagai objek belajar, kesempatan siswa untuk mengembangkan kemampuan sesuai
dengan bakat dan minatnya, bahkan untuk belajar sesuai dengan gaya belajarnya
menjadi terbatas. Sebab dan proses pembelajaran segalanya diatur dan ditentukan
oleh guru.
Ciri yang ketiga adalah kegiatan pembelajaran terjadi pada tempat dan waktu tertentu. Misalnya dengan penjadwalan yang ketat, siswa hanya belajar manakala ada kelas yang telah didesain sedemikian rupa sebagai tempat belajar. Adanya tempat yang telah ditentukan, sering pengajaran terjadi sangat formal, siswa duduk di bangku berjejer, dan guru didepan kelas. Demikian juga hanya dalam waktu yang diatur sangat ketat. Misalnya manakala waktu belajar satu materi tertentu telah habis, maka segera siswa akan belajar materi lain sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Cara mengajarinya pun seperti bagian-bagian yang terpisah, seakan-akan tak ada kaitannya antara materi pelajaran yang satu dengan lainnya.
Ciri yang ketiga adalah kegiatan pembelajaran terjadi pada tempat dan waktu tertentu. Misalnya dengan penjadwalan yang ketat, siswa hanya belajar manakala ada kelas yang telah didesain sedemikian rupa sebagai tempat belajar. Adanya tempat yang telah ditentukan, sering pengajaran terjadi sangat formal, siswa duduk di bangku berjejer, dan guru didepan kelas. Demikian juga hanya dalam waktu yang diatur sangat ketat. Misalnya manakala waktu belajar satu materi tertentu telah habis, maka segera siswa akan belajar materi lain sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Cara mengajarinya pun seperti bagian-bagian yang terpisah, seakan-akan tak ada kaitannya antara materi pelajaran yang satu dengan lainnya.
Ciri keempat, tujuan utama pengajaran adalah penguasaan materi pelajaran.
Keberhasilan suatu proses pengajaran diukur dari sejuah mana siswa dapat
menguasai materi pelajaran yang disampaikan guru. Materi pelajaran itu sendiri
adalah pengetahuan yang bersumber dari materi pelajaran yang disampaikan di
sekolah. Sedangkan mata pelajaran itu sendiri merupakan pengelaman-pengalaman
manusia masa lalu yang disusun secara sistematis dan logis, kemudian diuraikan
dalam buku-buku pelajaran dan selanjutnya isi buku itu harus dikuasai siswa.
Kadang-kadang siswa tidak perlu memahami apa gunanya mempelajari bahan
tersebut. Oleh karena kriteria keberhasilan ditentukan oleh penguasaan materi
pelajaran, maka alat evaluasi yang digunakan biasanya adalah tes hasil belajar tertulis (paper and pencil test) yang
dilaksanakan secara periodik.
Macam -macam pendekatan pembelajaran yaitu sebagai
berikut :
1. Pendekatan Konstektual
Pendekatan Kontekstual atau Contextual
Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu
guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa
dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (US
Departement of Education, 2001). Dalam konteks ini siswa perlu mengerti apa
makna belajar, manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya. Dengan
ini siswa akan menyadari bahwa apa yang mereka pelajari berguna sebagai
hidupnya nanti. Sehingga, akan membuat mereka memposisikan sebagai diri sendiri
yang memerlukan suatu bekal yang bermanfaat untuk hidupnya nanti dan siswa akan
berusaha untuk menggapainya.
Dalam pengajaran kontekstual
memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang penting,yaitu:
a. Mengaitkan
Mengaitkan adalah strategi yang paling hebat dan
merupakan inti konstruktivisme. Guru menggunakan strategi ini ketia ia
mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa. Jadi dengan
demikian,mengaitkan apa yang sudah diketahui siswa dengan informasi baru.
b. Mengalami
Mengalami merupakan inti belajar kontekstual dimana
mengaitkan berarti menghubungkan informasi baru dengan pengelaman maupun
pengetahui sebelumnya. Belajar dapat terjadi lebih cepat ketika siswa dapat
memanipulasi peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang
aktif.
c. Menerapkan
Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia malakukan
kegiatan pemecahan masalah. Guru dapet memotivasi siswa dengan memberikam
latihan yang realistic dan relevan.
d. Kerjasama
Siswa yang bekerja secara individu sering tidak
membantu kemajuan yang signifikan. Sebaliknya,siswa yang bekerja secara
kelompok sering dapat mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan.
Pengalaman kerjasama tidak hanya membanti siswa mempelajari bahan ajar,tetapi
konsisten dengan dunia nyata.
e. Mentransfer
Peran guru membuat bermacam-macam pengalaman belajar
dengan focus pada pemahaman bukan hapalan.
2. Pendekatan Konstrutivisme
Pendekatan konstruktivisme merupakan pendekatan dalam
pembelajaran yang lebih menekankan pada tingkat kreatifitas siswa dalam
menyalurkan ide-ide baru yang dapat diperlukan bagi pengembangan diri siswa
yang didasarkan pada pengetahuan.
Pada dasarnya pendekatan konstruktivisme sangat
penting dalam peningkatan dan pengembangan pengetahuan yang dimiliki oleh siswa
berupa keterampilan dasar yang dapat diperlukan dalam pengembangan diri siswa
baik dalam lingkungan sekolah maupun dalam lingkungan masyarakat.
Dalam pendekatan konstruktivisme ini
peran guru hanya sebagai pembimbing dan pengajar dalam kegiatan pembelajaran.
Oleh karena itu, guru lebih mengutamakan keaktifan siswa dan memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menyalurkan ide-ide baru yang sesuai dengan
materi yang disajikan untuk meningkatkan kemampuan siswa secara pribadi.
Secara umum yang disebut konstruktivisme menekankan
kontribusi seseorang pembelajar dalam memberikan arti,serta belajar sesuatu
melalui aktivitas individu dan sosial. Tidak ada satupun teori belajar tentang
konstruktivisme ,tetapi terdapat beberapa pendekatan konstruktivis, misalnya
pendekatan yang khusus dalam pendidikan matematik dan sains. Beberapa pemikir
konstruktivis seperti Vigotsky menekankan berbagi dan konstruksi sosial dalam
pembentukan pengetahuan (konstruktivisme sosial);sedangkan yang lain seperti
Piaget melihat konstruksi individu lah yang utama (konstruktivisme individu).
a.
Konstrukstivisme Individu
Para psikolog konstruktivis yang tertarik dengan
pengetahuan individu, kepercayaan, konsep diri atau identitas adalah mereka
yang biasa disebut konstruktivis individual. Riset mereka berusaha mengungkap
sisi dalam psikologi manusia dan bagaimana seseorang membentuk struktur
emosional atau kognitif dan strateginya
b.
Konstruktivisme social
Berbeda dengan Piaget,Vygotsky percaya bahwa
pengetahuan dibentuk secara sosial,yaitu terhadap apa yang masing-masing
partisipan kontribusikan dan buat secara bersama-sama. Sehingga perkembangan
pengetahuan yang dihasilkan akan berbeda-beda dalam konteks budaya yang
berbeda. Interaksi sosial,alat-alat budaya,dan aktivitasnya membentuk
perkembangan dan kemampuan belajar individual.
Ciri-ciri pendekatan konstruktivisme
- Dengan adanya pendekatan konstruktivisme,pengembangan pengetahuan bagi peserta didik dapat dilakukan oleh siswa itu sendiri melalui kegiatan penelitian atau pengamatan langsung sehingga siswa dapat menyalurkan ide-ide baru sesuai dengan pengalaman dengan menemukan fakta yang sesuai dengan kajian teori.
- Antara pengetahuan-pengetahuan yang ada harus ada keterkaitan dengan pengalaman yang ada dalam diri siswa.
- Setiap siswa mempunyai peranan penting dalam menentukan apa yang mereka pelajari.
- Peran guru hanya sebagai pembimbing dengan menyediakan materi atau konsep apa yang akan dipelajari serta memberikan peluang kepada siswa untuk menganalisis sesuai dengan materi yang dipelajari
3. Pendekatan Deduktif
Pendekatan deduktif (deductive approach) adalah
pendekatan yang menggunakan logika untuk menarik satu atau lebih kesimpulan (conclusion)
berdasarkan seperangkat premis yang diberikan. Dalam sistem deduktif yang
kompleks,peneliti dapat menarik lebih dari satu kesimpulan. Metode deduktif
sering digambarkan sebagai pengambilan kesimpulan dari sesuatu yang umum kesesuatuyangkhusus.
Pendekatan deduktif merupakan proses penalaran yang
bermula dari keadaan umum ke keadaan khusus sebagai pendekatan pengajaran yang
bermula dengan menyajikan aturan,prinsip umum dan diikuti dengan contoh contoh
khusus atau penerapan aturan,prinsip umum ke dalam keadaan khusus.
4. Pendekatan Induktif
Pendekatan induktif menekanan pada pengamatan dahulu,
lalu menarik kesimpulan berdasarkan pengamatan tersebut. Metode ini sering
disebut sebagai sebuah pendekatan pengambilan kesimpulan dari khusus menjadi
umum.
Pendekatan induktif merupakan proses penalaran yang
bermula dari keadaan khusus menuju keadaan umum.
APB Statement No. 4 adalah contoh dari penelitian
induksi,Statement ini adalah suatu usaha APB untuk membangun sebuah
teori akuntansi. Generally Accepted Accounting Principles (GAAP) yang
dijelaskan di dalam pernyataan (statement) dibangun berdasarkan
observasi dari praktek yang ada.
5. Pendekatan Konsep
Pendekatan konsep adalah pendekatan yang mengarahkan
peserta didik meguasai konsep secara benar dengan tujuan agar tidak terjadi
kesalahan konsep (miskonsepsi). Konsep adalah klasifikasi perangsang
yang memiliki ciri-ciri tertentu yang sama. Konsep merupakan struktur mental
yang diperoleh dari pengamatan dan pengalaman.
Pendekatan Konsep merupakan suatu pendekatan
pengajaran yang secara langsung menyajikan konsep tanpa memberi kesempatan
kepada siswa untuk menghayati bagaimana konsep itu diperoleh.
Ciri-ciri suatu konsep adalah:
a. Konsep memiliki gejala-gejala tertentu
b. Konsep diperoleh melalui pengamatan dan pengalaman
langsung
c. Konsep berbeda dalam isi dan luasnya
d. Konsep yang diperoleh berguna untuk menafsirkan
pengalaman-pengalarnan
e. Konsep yang benar membentuk pengertian
f. Setiap konsep berbeda dengan melihat ciri-ciri
tertentu
Kondisi-kondisi yang dipertimbangkan dalam kegiatan
belajar mengajar dengan pendekatan konsep adalah:
a. Menanti kesiapan belajar, kematangan berpikir
sesuai denaan unsur lingkungan.
b.Mengetengahkan konsep dasar dengan persepsi yang
benar yang mudah dimengerti.
c. Memperkenalkan konsep yang spesifik dari pengalaman
yang spesifik pula sampai konsep yang komplek.
d. Penjelasan perlahan-lahan dari yang konkret sampai
ke yang abstrak.
Langkah-langkah mengajar dengan pendekatan konsep
melalui 3 tahap yaitu,
a.Tahap enaktik
Tahap enaktik dimulai dari:
- Pengenalan benda konkret.
- Menghubungkan dengan pengalaman lama atau
berupa pengalaman baru.
- Pengamatan,penafsiran tentang benda baru
b.Tahap simbolik
Tahap simbolik siperkenalkan dengan:
- Simbol,lambang,kode,seperti angka,huruf.
kode,seperti (?=,/) dll.
- Membandingkan antara contoh dan
non-contoh untuk menangkap apakah siswa cukup mengerti akan
ciri-cirinya.
- Memberi nama,dan istilah serta defenisi.
c.Tahap ikonik
Tahap ini adalah tahap penguasaan konsep secara
abstrak,seperti:
- Menyebut nama,istilah,defmisi,apakah siswa sudah
mampu mengatakannya
6. Pendekatan Proses
Pendekatan proses merupakan pendekatan pengajaran yang
memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghayati proses penemuan atau
penyusunan suatu konsep sebagai suatu keterampilan proses.
Pendekatan proses adalah pendekatan yang berorientasi
pada proses bukan hasil. Pada pendekatan ini peserta didik diharapkan
benar-benar menguasai proses. Pendekatan ini penting untuk melatih daya pikir
atau mengembangkan kemampuan berpikir dan melatih psikomotor peserta didik.
Dalam pendekatan proses peserta didik juga harus dapat mengilustrasikan atau
memodelkan dan bahkan melakukan percobaan. Evaluasi pembelajaran yang
dinilai adalah proses yang mencakup kebenaran cara kerja, ketelitian,
keakuratan, keuletan dalam bekerja dan sebagainya.
7. Pendekatan Sains, Teknologi, dan Masyarakat
Pendekatan Science,Technology and
Society (STS) atau pendekatan Sains,Teknologi dan Masyarakat (STM)
merupakan gabungan antara pendekatan konsep, keterampilan proses, CBSA,
Inkuiri dan diskoveri serta pendekatan lingkungan. (Susilo,1999). Istilah Sains
Teknologi Masyarakat (STM) dalam bahasa Inggris disebut Sains Technology
Society (STS), Science Technology Society and Environtment (STSE) atau Sains
Teknologi Lingkungan dan Masyarakat. Meskipun istilahnya banyak namun
sebenarnya intinya sama yaitu Environtment,yang dalam berbagai
kegiatan perlu ditonjolkan. Sains Teknologi Masyarakat (STM) merupakan pendekatan
terpadu antara sains,teknologi,dan isu yang ada di masyarakat. Adapun tujuan
dari pendekatan STM ini adalah menghasilkan peserta didik yang cukup memiliki
bekal pengetahuan,sehingga mampu mengambil keputusan penting tentang
masalah-masalah dalam masyarakat serta mengambil tindakan sehubungan dengan
keputusan yang telah diambilnya
Filosofi yang mendasari pendekatan STM adalah
pendekatan konstruktivisme,yaitu peserta didik menyusun sendiri konsep-konsep
di dalam struktur kognitifnya berdasarkan apa yang telah mereka ketahui.
C. Strategi Pembelajaran
Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang
harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara
efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David,
menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan.
Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang
keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran.
Dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan mengemukakan empat unsur
strategi dari setiap usaha, yaitu:
1.
Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan
kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus
dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat
yang memerlukannya.
2.
Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk
mencapai sasaran.
3.
Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik
awal sampai dengan sasaran.
4.
Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai
taraf keberhasilan (achievement)
usaha.
Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut
adalah:
1.
Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan
pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.
2.
Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan
pembelajaran yang dipandang paling efektif.
3.
Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau
prosedur, metode dan teknik pembelajaran.
4.
Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran
keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.
Sementara itu, Kemp mengemukakan bahwa. Dilihat dari strateginya,
pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning. Ditinjau dari
cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan
antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.
Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk
mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan
kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something”
sedangkan metode adalah “a way in achieving something”.
Strategi pembelajaran adalah cara-cara tertentu yang digunakan secara
sistematis & prosedural dalam kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan
kualitas proses dan hasil belajar. Contoh : contextual teaching-learning, Quantum teaching-learning, Active
learning, Mastery learning, Discovery-inquiry learning, cooperative Learning
dan PAIKEM.
D. Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan
untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan
nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode
pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi
pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4)
simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8)
debat, (9) simposium, dan sebagainya.
Macam-Macam Metode pembelajaran :
1. Metode Ceramah
Metode
pembelajaran ceramah adalah penerangan secara lisan atas bahan
pembelajaran kepada sekelompok pendengar untuk mencapai tujuan pembelajaran
tertentu dalam jumlah yang relatif besar. Seperti ditunjukkan oleh Mc Leish
(1976), melalui ceramah, dapat dicapai beberapa tujuan. Dengan metode ceramah,
guru dapat mendorong timbulnya inspirasi bagi pendengarnya.
Gage dan Berliner (1981:457), menyatakan metode ceramah cocok untuk digunakan dalam pembelajaran dengan ciri-ciri tertentu. Ceramah cocok untuk penyampaian bahan belajar yang berupa informasi dan jika bahan belajar tersebut sukar didapatkan.
Gage dan Berliner (1981:457), menyatakan metode ceramah cocok untuk digunakan dalam pembelajaran dengan ciri-ciri tertentu. Ceramah cocok untuk penyampaian bahan belajar yang berupa informasi dan jika bahan belajar tersebut sukar didapatkan.
Metode
pembelajaran diskusi adalah proses pelibatan dua orang peserta atau
lebih untuk berinteraksi saling bertukar pendapat, dan atau
saling mempertahankan pendapat dalam pemecahan masalah sehingga didapatkan
kesepakatan diantara mereka. Pembelajaran yang menggunakan metode diskusi
merupakan pembelajaran yang bersifat interaktif (Gagne & Briggs. 1979:
251).
Menurut Mc. Keachie-Kulik dari hasil penelitiannya,
dibanding metode ceramah, metode diskusi dapat meningkatkan anak dalam
pemahaman konsep dan keterampilan memecahkan masalah. Tetapi dalam transformasi
pengetahuan, penggunaan metode diskusi hasilnya lambat dibanding penggunaan
ceramah. Sehingga metode ceramah lebih efektif untuk meningkatkan kuantitas
pengetahuan anak dari pada metode diskusi.
3. Metode Demonstrasi
Metode
pembelajaran demontrasi merupakan metode pembelajaran yang sangat
efektif untuk menolong siswa mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan
seperti: Bagaimana cara mengaturnya? Bagaimana proses bekerjanya? Bagaimana
proses mengerjakannya. Demonstrasi sebagai metode pembelajaran adalah bilamana
seorang guru atau seorang demonstrator (orang luar yang sengaja diminta) atau
seorang siswa memperlihatkan kepada seluruh kelas sesuatau proses. Misalnya
bekerjanya suatu alat pencuci otomatis, cara membuat kue, dan sebagainya.
Kelebihan Metode Demonstrasi
:
a. Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan.
c. Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran
lebih melekat dalam diri siswa.
Kelemahan metode Demonstrasi
:
a. Siswa kadang kala sukar melihat dengan jelas benda
yang diperagakan.
b. Tidak semua benda dapat didemonstrasikan.
c. Sukar dimengerti jika didemonstrasikan oleh
pengajar yang kurang menguasai apa yang didemonstrasikan.
4. Metode Ceramah Plus
Metode
Pembelajaran Ceramah Plus adalah metode pengajaran yang menggunakan lebih
dari satu metode, yakni metode ceramah yang dikombinasikan dengan metode
lainnya. Ada tiga macam metode ceramah plus, diantaranya yaitu:
a. Metode ceramah plus tanya jawab dan tugas
b. Metode ceramah plus diskusi dan tugas
c. Metode ceramah plus demonstrasi dan latihan (CPDL)
5. Metode Resitasi
Metode
Pembelajaran Resitasi adalah suatu metode pengajaran dengan
mengharuskan siswa membuat resume dengan kalimat sendiri.
Kelebihan
Metode Resitasi adalah :
a. Pengetahuan yang diperoleh peserta didik dari hasil
belajar sendiri akan dapat diingat lebih lama.
b. Peserta didik memiliki peluang untuk meningkatkan
keberanian, inisiatif, bertanggung jawab dan mandiri.
Kelemahan
Metode Resitasi adalah :
a. Kadang kala peserta didik melakukan penipuan yakni
peserta didik hanya meniru hasil pekerjaan orang lain tanpa mau bersusah payah
mengerjakan sendiri.
b. Kadang kala tugas dikerjakan oleh orang lain tanpa
pengawasan
c. Sukar memberikan tugas yang memenuhi perbedaan
individual.
6. Metode Eksperimental
Metode
pembelajaran eksperimental adalah suatu cara pengelolaan pembelajaran di
mana siswa melakukan aktivitas percobaan dengan mengalami dan membuktikan
sendiri suatu yang dipelajarinya. Dalam metode ini siswa diberi kesempatan
untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri dengan mengikuti suatu proses,
mengamati suatu obyek, menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri
tentang obyek yang dipelajarinya.
7. Metode Study Tour (Karya
wisata)
Metode study tour Study tour (karya wisata) adalah
metode mengajar dengan mengajak peserta didik mengunjungi suatu objek guna memperluas
pengetahuan dan selanjutnya peserta didik membuat laporan dan mendiskusikan
serta membukukan hasil kunjungan tersebut dengan didampingi oleh pendidik.
8. Metode Latihan
Keterampilan
Metode
latihan keterampilan (drill method) adalah suatu metode mengajar
dengan memberikan pelatihan keterampilan secara berulang kepada peserta didik,
dan mengajaknya langsung ketempat latihan keterampilan untuk melihat proses
tujuan, fungsi, kegunaan dan manfaat sesuatu (misal: membuat tas dari mute).
Metode latihan keterampilan ini bertujuan membentuk kebiasaan atau pola yang
otomatis pada peserta didik.
9. Metode Pengajaran Beregu
Metode
pembelajaran beregu adalah suatu metode mengajar dimana pendidiknya
lebih dari satu orang yang masing-masing mempunyai tugas. Biasanya salah
seorang pendidik ditunjuk sebagai kordinator. Cara pengujiannya, setiap
pendidik membuat soal, kemudian digabung. Jika ujian lisan maka setiapsiswa
yang diuji harus langsung berhadapan dengan team pendidik tersebut.
10. Peer Theaching Method
Metode
Peer Theaching sama juga dengan mengajar sesama teman, yaitu suatu metode mengajar
yang dibantu oleh temannya sendiri.
11. Metode Pemecahan Masalah
(problem solving method)
Metode
problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya sekadar metode
mengajar, tetapi juga merupakan suatu metode berpikir, sebab dalam problem
solving dapat menggunakan metode-metode lainnya yang dimulaidengan mencari data
sampai pada menarik kesimpulan.
Metode problem solving merupakan metode yang
merangsang berfikir dan menggunakan wawasan tanpa melihat kualitas pendapat
yang disampaikan oleh siswa. Seorang guru harus pandai-pandai merangsang
siswanya untuk mencoba mengeluarkan pendapatnya.
12. Project Method
Project
Method adalah
metode perancangan adalah suatu metode mengajar dengan meminta peserta didik
merancang suatu proyek yang akan diteliti sebagai obyek kajian.
13. Taileren Method
Teileren
Method yaitu
suatu metode mengajar dengan menggunakan sebagian-sebagian,misalnya ayat per
ayat kemudian disambung lagi dengan ayat lainnya yang tentusaja berkaitan
dengan masalahnya
14. Metode Global (ganze
method)
Metode Global yaitu suatu metode mengajar
dimana siswa disuruh membaca keseluruhan materi, kemudian siswa meresume apa
yang dapat mereka serap atau ambil intisaridari materi tersebut.
Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari
masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:

BAB
III
PENUTUP
Berdasarkan uraian di atas, bahwa
untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut
dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan
berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana
diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Mencermati upaya reformasi
pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia, para guru atau calon guru
saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, yang
kadang-kadang untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian
tindakan) sangat sulit menemukan sumber-sumber literaturnya. Namun, jika para
guru (calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran
yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana
dikemukakan di atas, maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif
mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri
yang khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga
pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang
bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang
telah ada.
DAFTAR PUSTAKA
Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi
Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja.
Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990. Strategi
Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung.
Udin S. Winataputra. 2003. Strategi Belajar
Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
Wina
Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/09/12/pendekatan-strategi-metode-teknik-dan-model-pembelajaran/ diakses tgl 25/10/2013 at 09.23
http://jaririndu.blogspot.com/2012/09/pengertian-pendekatan-metode-teknik.html diakses tgl 25/10/2013 at 09.46
http://joyabelnaisha.wordpress.com/2012/05/18/pendekatan-strategi-metode-model-teknik-dan-taktik-pembelajaran/ 25/10/2013 at 09.52