KONSEP
DASAR ANTROPOLOGI, SOSIOLOGI DAN PSIKOLOGI SOSIAL
(MAKALAH)
DOSEN : 1. Dr. Hi. PARGITO, M.Pd
2.
Dr. Hi. DARSONO, M. Pd.
OLEH:
DIAN
RAMAHWATI
GUSNETTY
JAYASINGA
IKA
LELY IRAWATI
NIKKI
TRI SAKUNG
SRI
ENDAH CAHYANI
TUTUT
ZATMIKO
PROGRAM
PASCASARJANA PENDIDIKAN IPS
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
LAMPUNG
2013
KATA
PENGANTAR
Alhamdulillah
dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, maka tugas ini dapat
diselesaikan dalam rangka memenuhi tugas perkuliahan desain model pembelajaran
IPS pada Program Studi Magister Pendidikan IPS Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Lampung.
Penulis
menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan sehingga kritik
dan saran dari Bapak Dr. Hi. Pargito, M.Pd dan Dr. Hi Darsono, M. Pd sangat
diharapkan dengan senang hati. Demikian tugas ini disusun semoga bermanfaat
bagi semua pihak.
Metro, Oktober 2013
Penulis
DAFTAR
ISI
HALAMAN
JUDUL ......................................................................... 1
KATA
PENGANTAR
....................................................................... 2
DAFTAR
ISI .......................................................................................
3
BAB
1. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
................................................................................
4
2. Rumusan Masalah
........................................................................... 5
3. Tujuan penulisan
............................................................................. 5
BAB
2. PEMBAHASAN
2.1 Konsep Dasar
Antropologi ............................................................... 6
2.2 Konsep Dasar
Sosiologi .................................................................... 11
2.3 Konsep Dasar
Psikologi Sosial .......................................................... 18
BAB
III. PENUTUP .............................................................................
26
DAFTAR
PUSTAKA
BAB
1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pengetahuan
sosial merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia
baik tingkah laku perorangan maupun tingkah laku kelompok. Ada bermacam-macam
aspek tingkah laku manusia dalam masyarakat, seperti aspek budaya sikap,
mental, ekonomi, dan hubungan sosial. Aspek-aspek inilah yang kemudian
mengkondisikan untuk menghasilkan pengetahuan disiplin ilmu sosial dan
dipelajari di sekolah.
IPS
merupakan perwujudan dari satu pendekatan interdisipliner dari pelajaran
ilmu-ilmu sosial. Ia merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial
antara lain: Sosiologi, Antropologi Budaya, Sejarah, Psikologi Sosial,
Geografi, Ekonomi, Politik, dan Ekologi.
Hal
itulah yang melatarbelakangi penulis untuk membuat makalah konsep dasar
antropologi, sosiologi dan psikologi sosial. Dimana Isu perubahan sosial,
terkikisnya karakter yang mengakibatkan hilangnya identity suatu negara
merupakan hal yang perlu dihindari.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah di atas, maka permasalahan dalam makalah ini adalah:
1.
Apakah konsep dasar antropologi itu?
2.
Apakah konsep dasar sosiologi itu?
3.
Apakah konsep dasar psikologi sosial itu?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan
latar rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian dalam makalah ini adalah:
1.
Memahami konsep dasar antropologi
2.
Memahami konsep dasar sosiologi
3.
Memahami konsep dasar psikologi sosial
BAB
11
PEMBAHASAN
2.1 KONSEP DASAR ANTROPOLOGI
a.
Pengertian
dan Ruang Lingkup Antropologi
Antropologi
berasal dari dua kata Yunani, anthropos yang berarti manusia dan logos yang
berarti ilmu. Dengan demikian, secara harfiah antropologi berarti ilmu tentang
manusia. Para ahli antropologi sering mengemukakan bahwa antropologi merupakan
studi tentang umat manusia yang berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat
tentang manusia dan perilakunya, dan untuk memperoleh pengertian atau pemahaman
yang lengkap tentang keanekaragaman (Haviland, 1999:7; Koentjaraningrat,
1987:1-2). Jadi, antropologi merupakan ilmu yang berusaha mencapai pengertian
atau pemahaman tentang manusia dengan mempelajari aneka warna bentuk fisik,
masyarakat, dan kebudayaannnya.
Secara
khusus ilmu antropologi terbagi kedalam lima sub ilmu yang mempelajari:
1.
Masalah asal dan perkembangan manusia
atau evolusinya secara biologis
2.
Masalah terjadinya aneka ragam ciri
fisik manusia
3.
Masalah terjadinya perkembangan dan
persebaran aneka ragam kebudayaan manusia.
4.
Masalah asal perkembangan dan persebaran
aneka ragam bahasa yang diucapkan diseluruh dunia.
Berkaitan
dengan pembagian kelima sub disiplin antropologi tersebut Koentjaraningrat
(1981:244) membuat pembagian ilmu antropologi.
Secara
makro antropologi dibagi kedalam dua bagian yaitu:
1. Antropologi
Fisik
Dalam antropologi fisik
terdapat cabang ilmu peleoantropologi dan antropologi biologis
2. Antropologi
budaya
Dalam antropologi
budaya terdapat cabang ilmu antropoli prehistori, etnolinguistik dan etnologi.
Dalam etnologi terdapat etnologi dalam arti khusus dan antropologi sosial.
b.
Konsep
Antropologi
Adapun
yang merupakan contoh konsep-konsep antropologi, diantaranya:
1.
Kebudayaan
2.
Evolusi
3.
Culture area
4.
Enkulturasi
5.
Difusi
6.
Akulturasi
7.
Etnosentrisme
8.
Tradisi
9.
Ras dan etnik
10. Stereotip
11. Kekerabatan
12. Magis
13. Tabu
14. Perkawinan
c.
Teori-Teori
Antropologi
1.
Teori orientasi nilai budaya dari
Kluckhon
Berdasarkan
isi orientasi nilai budaya tersebut, maka dapat dijabarkan sebagai berikut:
a.
Dalam kaitannya dengan makna hidup
manusia, bagi beberapa kebudayaan yang menganggap bahwa hidup ini adalah sumber
penderitaan maka kemungkinan variasi konsepsi orientasi nilai budayanya
dirumuskan kluckhon dengan kata evil. Sebaliknya,dalam banyak kebudayaan yang
menganggap hidup itu adalah sumber kesenangan dirumuskan dengan kata good.
b.
Berkenaan dengan hubungan manusia dengan
alam sekitarnya, banyak kebudayaan yang mengkonsepsikan alam sedemikian dahsyat
dan sempurna sehingga manusia sepatutnya tunduk saja kepadanya. Juga terdapat
pula alternatif lain yang menghendaki hidup selaras dengan alam.
c.
Dalam kaitanya dengan persepsi manusia
dengan waktu, ada kebudayaan yang mementingkan masa sekarang (present),
sementara banyak pula yang berorientasi kemasa depan (future).
d.
Dalam kaitannya dengan makna dari
pekerjan, karya dan amal perbuatan manusia, banyak kebudayaan yang menganggap
bahwa manusia bekerja untuk mencari makan, selain untuk bereproduksi. Hl itu
dirumuskan oleh kluchkohn dengan kata being. Dan doing untuk sebagian
kebudayaan yang menganggap bahwa hidup itu luas daripada bekerja.
e.
Dalam kaitannya dengan hubungan antara
sesama manusia, banyak kebudayaan yang mengajarkan sejak awal untuk hidup
bergotong royong serta menghargai terhadap perilaku pemuka-pemukanya sebagai
acuan kebudayaan sendiri.
2.
Teori evolusi sosiokultural
paralel-konvergen-divergen Sahlins dan Harris
Beberapa
penganut evolusionisme berpendapat bahwa arah kecenderungan utama dalam evolusi
sosiokultural adalah bertambahnya kompleksitas masyarakat. Menurut dua
antropolog yakni Marshall Sahlins (1960) dan Marvin Harris (1968) bahwa:
a.
Evolusi sosiokultural meliputi seluruh
sistem sosiokultural maupun komponen-komponen yang terpisah dari sistem
tersebut.
b.
Evousi sosiokultural bukanlah proses
tunggal, unitary terjadi dengan cara yang sama pada seluruh masyarakat.
Sebagaimana evolusi biologis, evolusi sosiokultural memiliki karakter ganda
(Sahlins, 1960). Ia memperlihtkan suatu karakter umum dan pola terarah dalam
semua masyarakat yang mengalaminya. Proses itu biasanya disebut evolusi umum
atau general evolution (Sahlins, 1960).
c.
Pembedaan tersebut dapat dirinci sebagai
evolusi paralel, evolusi konvergen dan evolusi divergen (Harris, 1968)
d.
Evolusi paralel merupakan evolusi yang
terjadi dalam dua atau lebih sosiobudaya atau masyarakat yang berkembang dengan
cara yang sama dan dengan tingkat yang pada dasarnya sama.
e.
Evolusi konvergen, terjadi ketika
bebagai masyarakat yang semula berbeda perkembangannya, namun akhirnya
mengikuti poal yang serupa kemajuannya.
f.
Evolusi divergen, terjadi ketika
berbagai masyarakat yang semula mengikuti banyak persamaan yang serupa, namun
akhirnya mencapai tingkat perkembangan yang jauh berbeda.
3.
Teori evolusi kebudayaan Lewis H. Morgan
Karya
terpenting dari Lewis H. Morgan berjudul Ancient Society (1987) yang memuat
delapan tahapan tentang evolusi kebudayaan, yaitu:
a.
Zaman liar tua, merupakan zaman sejak
adanya manusia sampai menemuakan api, kemudian menemukan kepandaian meramu.
b.
Zaman liar madya, zaman dimana manusia
menemukan senjata busur dan panah.
c.
Zaman liar muda, manusia menemukan
barang-barang tembikar, namun kehidupannya masih berburu
d.
Zaman barbar tua, manusia pandai membuat
tembikar sampai beternak dan bercocok tanam.
e.
Zaman barbar madya, manusia beternk,
bercocok tanam sampai pndai membuat benda-benda dari logam
f.
Zaman barbar muda, manusia memiliki
kepandaian mebuat alat dari logam sampai mengenal tulisan
g.
Zaman peradaban purba, menghasilkan
peradaban klasik zaman batu dan logam
h.
Zaman peradaban masa kini, sejak zaman
perdaban tua sampai sekarang
4.
Teori evolusi animisme dan magic dari
Taylor dan Frazer
Secara
garis besar inti dari teori ini adalah:
a. Aninisme
adalah kepercayaan pada kekuatan pribadi yang hidup dibalik semua benda.
b. Asal
mula religi adalah dari perbedaan yang tampak pada manusia antara hal yang
hidup dan yang mati dan dari peristiwa mimpi (Taylor, 1871/1903;429)
c. Manusia
memecahkan beberapa persoalan hidupnya selalu dengan akal dn sistem
pengetahuannya.
d. Ilmu
gaib mulanya hanya untuk mengatasi pemecahan masalah hidup manusia yang berada
diluar kemampuan akal dan sistem pengetahuannya.
e. Karena
anggapan bahwa lam dihuni oleh mahluk halus timbullah agama (koenjaraningrat,
1987:54).
f. Agama
dan magic itu berbeda.
g. Magic
memiliki dua prinsip utama yaitu persamaan menimbulkan persamaan, kedua prinsip
magic senggol.
5.
Teori evolusi keluarga J.J. Bachoven
Inti
teori evolusi keluarga dari Bachoven tersebut bahwa seluruh keluarga diseluruh
dunia mengalami perkembangan melalui empat tahapan (koentjaraningrat,
1987:38-39) sebagai berikut:
a. Tahap
promiskuitas, manusia hidup serupa binatang berkelompok, laki-laki dan
perempuan berhubungan dengan bebas dan melahirkan keturunannya tanpa ikatan.
b. Manusia
sadar akan hubungan antara ibu dengan anaknya sebagai keluarga inti. Disini ibu
berperan merngkap sebagai kepala keluarga. Pada sistem masyarakat luas, hal ini
yang dinamakan matriachate
c. Sistem
patriachate, diamana ayah menjadi kepala keluarga.
d. Perkawinan
tidak selalu dari luar kelompok tetapi juga dari dalam kelompok.
d.
Tujuan
dan Kegunaan Antropologi
Diantara
ilmu-ilmu sosial dan alamiah, antropologi memiliki kedudukan, tujuan dan
manfaat yang unik karena bertujuan dan bermanfaat dalam merumuskan
penjelasan-penjelasan tentang perilaku manusia yang didasarkan pada studi atas
semua aspek biologis manusia dan perilakunya disemua masyarakat.Selain itu
antropologi bermaksud mempelajari umat manusia secara objektif paling tidak
mendekati objektif dan sistematis (Kapplan dan Manners, 1999:33).
2.2
Konsep
Dasar Sosiologi
a.
Pengertian,
Karakteristik dan Ruang Lingkup Sosiologi
Secara
terminologi sosiologi berasal dari bahasa Yunani, yakni kata socius yang
berarti kawan, berkawan ataupun bermasyarakat dan logos berarti ilmu atau dapat
juga berbicara tentang sesuatu. Dengan demikian, secara harfiah istilah
sosiologi dapat diartikan ilmu tentang masyarakat (Spencer dan Inkeles, 1982:4;
Abdulsyani, 1987:1).
Beberapa
definisi sosiologi menurut para ahli:
1.
Pitirim Sorokin (1928:760-761)
2.
William Ogburn dan Meyer F. Nimkoff
(1959:12-13) berpendapat bahwa sosiologi adalah penelitian secara ilmiah
terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial.
3.
Roucekj dan Warren (1962:3) berpendapat
bahwa sosiologi adalah ilmu tentang hubungan antara manusia dengan
kelompok-kelompoknya.
4.
J.A.A Van Doom dan C.J Lammers (1964:24)
mengemukakan bahwa sosiologi ilmu tentang struktur-struktur dan proses-proses
kemasyarakatan yang bersifat stabil.
5.
Meta Spencer dan Alex Inkeles (1982:4)
mengemukakan bahwa sosiologi ilmu tentang kelompok hidup manusia.
6.
David Popenoe (1983:107-108) berpendapat
bahwa sosiologi adalah ilmu tentang interaksi manusia dalam masyarakat sebagai
suatu keseluruhan.
7.
Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi
(1982:14) menyatakan bahwa sosiologi adalah ilmu tentang struktur sosial dan
proses-proses sosial termasuk perubahan-perubahan sosial.
Para
sosiologi beranggapan bahwa komunitas adalah imagined (yang dibayangkan).
Sebagaimana pandangan dalam sosiolog kontemporer komunitas adalah sesuatu yang
dipostulatkan. Postulat tersebut menjadi kenyataan ketika tindakan dilakukan
seolah-olah tindakan tersebut adalah realitas. Karena itu ada sifat saling
mempengaruhi yang konstan antara aktor dan komunitas mereka yang tidak diberi
prioritas didalam analisis sosiologi (Bauman, 2000:1030).
Objek
kajian soiologi adalah masyarakat dan perilaku sosial manusia dengan meneliti
kelompok-kelompoknya. Kelompok tersebut mencakup keluarga, etnis atau suku
bangsa, komunitas pemerintahan dan berbagai organisasi sosial, agama, politik,
budaya, bisnis dan organisasi lainnya (Ogburn dan Nimkoff,1959:13; Horton dan
Hunt, 1991:4). Sosiologi pun mempelajari perilaku dan interaksi kelompok,
menelusuri asal-usul pertumbuhannya, serta menganalisis pengaruh kegiatan
kelompok terhadap para anggotanya. Dengan, demikian sebagai objek kajian
sosiologi adalah masyarakat manusia yang dilihat dari sudut hubungan antar
manusia dan proses-proses yang timbul dari hubungan manusia dalam masyarakat.
Karakteristik
sosiologi menurut Soekanto (1986:17) adalah sebagai berikut:
1.
Sosiologi merupakan bagian dari ilmu
sosial.
2.
Sosiologi merupakan disiplin ilmu yang
bersifat kategoris
3.
Sosiologi bertujuan untuk menghasilkan
pengertian-pengertian dan pola-pola umum (nomotetik).
4.
Sosiologi merupakan ilmu sosial yang
bersifat empiris, faktual dan rasional.
5.
Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan
yang abstrak.
6.
Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan
yang menghasilkan pengertian-pengertian dan pola-pola umun.
Secara
tematis, ruang lingkup sosiologi dapat dibedakan menjadi :
1.
Sosiologi pedesaan (Rural sociology)
2.
Sosiologi industri (Industrial
sociology)
3.
Sosiologi perkotaan (Urban sociology)
4.
Sosiologi medis (Medical sociology)
5.
Sosiologi wanita (Woman sociology)
6.
Sosiologi militer (Military sociology)
7.
Sosiologi keluarga (Family sociology)
8.
Sosiologi agama (Religion sociology)
9.
Sosiologi pendidikan (Educational
sociology)
10. Sosiologi
seni (sociology of art)
b.
Konsep
Sosiologi
Adapun
konsep-konsep yang tedapat dalam sosiologi tersebut, adalah:
1.
Masyarakat
2.
Peran
3.
Norma
4.
Saksi
5.
Interaksi sosial
6.
Konflik sosial
7.
Perubahan sosial
8.
Permasalahan sosial
9.
Penyimpangan
10. Globalisasi
11. Patronase
12. Kelompok
patriarki
13. Hierarki
c.
Teori-Teori
sosiologi
1.
Teori tindakan sosial dan sistem sosial
Talcot Parsons
a. Teori
tindakan sosia
Dalam anaisisnya, Parsons menggunakan
kerangka alat tujuan (means end framework) yang intinya:
1. Tindakan
itu diarahkan pada tujuannya atau memiliki suatu tujuan.
2. Tindakan
terjadi dalam suatu situasi dimana beberapa elemennya sudah pasti, sedangkan
elemen-elemen lainnya digunakanoleh yang bertindak sebagai alat untuk mencapai
tujuan tersebut
3. Secara
normatif tindakan itu diatur sehubungan dengan penentuan alat dan
tujuan.elemen-elemen dasar dari suatu tindakan adalah tujuan, alat, kondisi,
dan norma (Johnson, 1986:106).
b. Teori
sistem sosial
Dalam teori sisitem sosial, Parsons dan
rekan-rekannya mengembangkan kerangka A-G-I-L (adaptation, goal attainment,
integration dan latent pattern maintenance) (Johnson, 1986:129-131) sebagai
empat persyaratan fungsional dalam semua sistem sosial yang dikembangkan.
a.
Adaptation menunjuk kepada keharusan
bagi sistem-sistem sosial untuk menghadapi lingkungannya yang bersifat
tranformasiaktif dari situasi yang pada umumnya segi-segi situasi yang dapat
dimanipulasi sebagai alat untuk mencapai tujuan dan infexible suatu kondisi yang
tidak dapat ataupun sukar diubah.
b.
Goal attainment merupakan persyaratan
fugsional yang berasumsi bahwa tindakan itu selalu diarahkan pad tujuannya,
terutama pada tujuan bersama para anggota dalam suatu sitem sosial.
c.
Latent pattern maintenance, menunjukkan pada
berhentinya interaksi baik itu karena letih mapun jenuh serta tunduk padasitem
sosial dimana dia berada.
2.
Teori evolusi sosial Herbert Spencer
Dalam
bukunya yang berjudul Principle of Sociology (1876-1896) menggunakan
bahan-bahan etnogafi secara luas dan sitematis mengemukakan Teori Evolusi
Sosial sebagai berikut:
a. Masyarakat
yang merupakan suatu organisme, berevolusi menurut pertumbuhan manusia seperti
tubuh yang hidup, masyarakat bermula seperti kuman yang berasal dsri massa yang
dalam.
b. Suku
primitif berkembang melalui peningkatan jumlah anggotanya, perkembangan itu
mencapai suatu titik dimanasuatu suku terpisah menjadi beberapa suku yang
secara bertahap timbul beberapa perbedaan satu sama lain.
c. Pertumbuhan
masyarakat tidk sekedar menyebabkan perbanyakandan penyatuan kelompok, tetapi
juga meningkatkan kepadatan penduduk atau meningkatkan solidaritas bakhan
memajukan massa yang lebih akrab.
d. Dalam
tahapan masyarakat yang belum beradab itu bersifat homogen karena mereka t
erdiri dari kumpulan manusia yang memiliki kewenangan, kekuasaan, dan fungsi
yang relatif sama, terkecuali masalah jenis kelamin.
e. Suku
nomaden memiliki ikatan karena dipersatukan oleh ketertundukan kepada pemimpin
suku.
f. Jenis
kelamin pria diidentikkan dengan simbol-simbol yang menuntut kekuasaan fisik.
g. Kepemimpinan
muncul sebagai konsekuensi munculnya keluarga yang sifatnya tidak tetap atau
nomaden
h. Wewenang
atau kekuasaan seseorang ditentukan oleh kekuatan fisikdan kecerdikan seseorang
i.
Peningkatan kapasitas pun menandai
proses pertumbuhan masyarakat.
3.
Teori teknologi dan ketinggalan budaya
(Cultural lag) William F.
Ogburn
Ogburn
dalam karyanya social change with respect to culture and original nature
mengemukakan hal sebagai berikut:
a.
Perilaku manusia merupakan produk
warisan sosial atau budaya
b.
Kenyataan sosial pada dasarnya terdiri
atas pola-polaperilaku individu yang nyata dan konsekuensi-konsekuensinya.
c.
Perubahan-perubahan kebudayaan materiil
terbentang mulai dari penemuan awal seperti perkakas tangan, komputer
beroperasi dengan cepat sampai satelit komunikasi.
d.
Kebudayaan nonmateriil yang tidak mampu
mengejar karena kecepatan perubahan dalam kebudayaan materiil terus melaju.
4.
Teori dramaturgi Erving Goffman
Secara
rinci, teori dramaturgi Goffman adalah:
a. Dalam
suatu situasi sosial, seluruh kegiatan dari partisipan tertentu disebut sebagai
suatu penampilan, sedangkan orang-orang lain yang terlibat didalam situasi
sebagai pengamat atau partisipan.
b. Para
aktor adalah mereka yang melakukan tindakan-tindakanatau penampilan rutin.
c. Individu
dapat menyajikan suatu show bagi orang lain tetapi kesan pelaku terhadap
pertunjukan dapt berbeda-beda.
d. Karena
itulah perlu dibedakan antara panggung depan dengan panggung belakang. Panggung
depan adalah bagian penampilan individu secara teratur berfungsi sebagai metode
umum untuk tampil didepan publik sebagai sosok yang ideal.
e. Sedangkan
pada panggung belakang terdapat sejenis masyarakat rahasia yang tidak
sepenuhnya dapat dilihat diatas permukaan.
5.
Teori strukturasi Anthony Giddens
Secara
lebih rinci, teori strukturasi Giddens tersebut dapat dikemukakan sebagai
berikut:
a.
Teori sosial memerlukan adanya
rekonstruksi yang berbeda dari mazhab sosiologi interpretatif, fungsionalisme
dan strukturalisme.
b.
Untuk itu, diperlukan langkah
rekonstruksi daripada sintesis untuk mencapai apa yang disebut kearah teori
strukturasi.
c.
Praktik-praktik sosial harus dipahami
sebagai kesesuaian antara ucapan dan tindakan atau signifikansi
d.
Rekonseptualisasi atas tindakan,
struktur dan sitem diawali dengan memandang praktik-praktik sosial yang terus
berlagsung sebagai segi analitis terpenting.
e.
Mengetahui bagaimana berpartisipasi atau
bagaimana bertindak dalam konteks kehidupan sosial pun mencangkup pengetahuan
tentang bagaimana mematuhi peraturan.
f.
Peraturan bukanlah suatu rumusan yang
terisolir, namun peraturan lebih merupakan pembangkit atau media bagi
praktik-praktik sosial dan adanya saling ketergantungan antara struktur dan
tindakan.
g.
Subjek dipandang bukan sebagai objek
yang dideterminasi maupun sebagai subjek yang bebas sepenuhnya.
6.
Teori globalisasi “of nothing” George
Ritzer
Dalam
tulisan Ritzeryang berjudul The Globalization of Nothing (2004) mengemukakan
bahwa:
a.
Pengertian nothing adalah bentuk yang
dibayangkan dan dikontrol secara sentral yang sebagian besar adalah kosong dari
isi yang berbeda.
b.
Sesuatu (something) dipahami sebagai
bentuk yang dibayangkan dan dikontrol secara indigenous yang umumnya kaya dalam
isi yang berbeda.
c.
Secara keseluruhan, ada empat tipe
nothing yaitu:
1.
Nonplaces atau setting yang sebagian
besar kosong dari isi
2.
Nonthings, seperti kartu kredit dimana
tidak banyak berbeda dengan yang lain.
3.
Nonpeople atau jenis karyawan yang
diasosiasikan
4.
Nonservis, misalnya yang disediakan oleh
ATM
d.
Dalam membedakan nothing dengan something,
nonplaces dengan places, nonpeople dengan people, nonservices dengan services
terdapat lima hal yang dapat dilakukan.
d.
Kegunaan
sosiologi
Fenomena-fenomena
kekecewaan dan penderitaan masyarakat tersebut dinamakan problema sosial yang
berhubungan erat dengan nilai-nilai sosial. Dengan demikian, kegunaan sosiologi
secara praktis dapat berfungsi untuk mengetahui, mengidentifikasi dan mengatasi
problema sosial (Soekanto,1986:339-340). Dari sisi fokus kajian mikro,
sosiologi juga berfungsi dalam memberikan informasi untuk mengatasi
masalah-masalah keluarga seperti disorganisasi keluarga. Pengertian dari
disorganisasi keluarga, seperti yang dikatakan Goode (1963:391), yaitu sebagai
perpecahan dalam keluarga sebagai suatu unit.
2.2
Konsep
Dasar Psikologi Sosial
a.
Pengertian
dan Ruang Lingkup Psikologi
Para
ahli psikologi terdahulu mendefinisikan psikologi sebagai studi kegiatan mental
(Atkinson, 1996:18). Istilah mental menyinggung masalah pikiran, akal dan
ingatan atau proses yang berasosiasi dengan pikiran, akal dan ingatan. William
James (1980) ahli psikologi Jerman, memberikan definisi bahwa psikologi adalah
ilmu mengenai kehidupan mental termasuk fenomena dan kondisi-kondisinya.
Sedangkan menurut Kenneth Clark dan George Millter (1970) mendefinisikan bahwa
psikologi sebagai studi ilmiah mengenai prilaku. Dari berbagai definisi
tersebut secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa psikologi sebagai studi
ilmiah mengenai proses perilaku dan proses-proses mental.
Terdapat
beberapa pendekatan studi psikologi dari beberapa sudut pandang meliputi
hal-hal berikut:
1.
Pendekata neurobiologi
2.
Pendekatan behaviorisme (perilaku)
3.
Pendekatan kognitif
4.
Pendekatan psikoanalitik
5.
Pendekatan psikologi gestalt
6.
Pendekatan fenomenologi dan humanistik
Dalam
penggunaan metode yang dipakai, ilmu psikologi mengenal beberapa metode kerja
sebagai berikut:
1.
Metode eksperimental
2.
Metode pengamatan
3.
Metode survei
4.
Metode tes
5.
Metode riwayat hidup atau kasus
Beberapa
jenis ilmu psikologi secara tematis maupun terapan dapat dirinci sebagai
berikut:
1.
Psikologi sosial
2.
Psikologi klinis dan penyuluhan
/konseling (clinical psychology and conselling)
3.
Psikologi konstitusional
4.
Psikofarmologi
5.
Psikologi okupasional
6.
Psikologi politik
7.
Psikologi sekolah dan pendidikan
8.
Psikologi perkembangan
9.
Psikologi kepribadian
10. Psikologi
lintas budaya
11. Psikologi
rekayasa
12. Psikologi
lingkungan
13. Psikologi
konsumen (consumen psychology)
14. Psikologi
industri dan organisasi (industrial and organizational psychology)
Merupakan
penerapan dari prinsip-prinsip psikologi industri perdagangan. Dalam kajian ini
terdapat tiga bidang kajian psikologi, yaitu:
a. Psikologi
personalia yaitu menekankan pembuatan keputusan mengenai seleksi personalia,
pelatihan, promosi, transfer pekerjaan, cuti, pemutusan hubungan kerja,
kompensasi dan sebagainya (Atkinson, 1996:23; Landy, 2000:479). Sedangkan alat
yang digunakan dalam psikologi personalia yang paling umum adalah analisis
pekerjaan dan tes kemampuan.
b. Psikologi
industri atau sosial klinis berurusan dengan penyesuaian timbal balik antara
orang-orang dan lingkungannya yang memfokuskan pada kesejahteraan psiklogis
para pekerja.
c. Psikologi
sumber daya manusia atau rekayasa manusia menganggap bahwa orang sebagai
konstanta atau faktor tetap sedangkan lingkungan sebagai variabel atau faktor
yang berubah.
d.
Konsep
Psikologi
Konsep
yang dikembangkan dalam psikologi adalah:
1.
Motivasi
Motivasi
adalah suatu keadaan dan ketegangan individu yang membangkitkan dan memelihara
serta mengarahkan tingkah laku yang mendorong (drive) menuju pada suatu tujuan
(goal) untuk mencapai suatu kebutuhan (need) (Chaplin, 1999:310;Thoha,
1993:180-181). Dalam motivasi anda akan menerima pertanyaan mengapa dan dalam
menjawabnya kita dapat mengemukakan atas dasar beberapa pendekatan (Apter,
1996:688-689) yaitu:
a. Pendekatan
hedonisme
b. Pendekatan
psikoanalitis
c. Pendekatan
insting
d. Pendekatan
eksperimental
e. Pendekatan
teori rangsangan optimal
f. Pendekatan
aktualisasi diri
2.
Konsep diri
Konsep
diri merupakan penilaian tentang dirinya oleh orang lain yang menyangkut aspek
physical, pereptual, dan attitudinal.
3.
Sikap
Konsep
sikap merujuk pada masalah yang lebih banyak bersifat evaluatif afektif
terhadap suatu kecenderungan atas reaksi yang dipilihnya. Sikap pun menunjukkan
penilaian kita apakah iu bersifat positif ataupun negatif terhadap
bermacam-macam entitas, misalnya individu, kelompok, objek, tindakan dan
lembaga (Manis, 2000:49).
4.
Persepsi
Istilah
persepsi dalam Kamus Lengkap Psikologi
karya Chaplin (1999:358), memiliki arti:
a. Proses
mengetahui atau mengenali objek dan kejadian objektif dengan bantuan indra.
b. Kesadaran
dari proses organis
c. Satu
kelompok pengindraan dengan penambahan arti-arti yang berasal dari pengalaman
dimasa lalu.
d. Variabel
yang menghalangi atau ikut campur tangan berasal dari kemampuan organisme untuk
melakukan pembedaan diantara perangsang.
e. Kesadaran
intuitif mengenai kebenaran langsung atau keyakinan yang serta merta mengenai
sesuatu.
5.
Frustasi
Konsep
frustasi setidaknya menunjuk pada dua pengertian berkut:
a. Frustasi
merujuk pada terhalangnya tercapainya tujuan yang diharapkan pada saat tertentu
dalam rangkaian perilaku.
b. Frustasi
sebagai reaksi emosional internal yang disebabkan oleh sesuatu penghalang.
6.
Sugesti
Sugesti
merupakan bagian dari bentuk interaksi sosial yang menerima dengan mudah
pengaruh orang lain tanpa diseleksi dengan pemikiran yang kritis. Seseorang
dapat dengan mudah menerima sugesti yang terjadi karena berbagai hal:
a. Bila
yang bersangkutan mengalami hambatan dalam daya pikir kritisnya, apakah itu
karena stimulus yang emosional atau karena kelelahan fisik dan mental.
b. Karena
seseorang mengalami disosiasi atau terpecah belah pemikirannya.
c. Karena
adanya dukungan mayoritas yang dapat mempengaruhi perubahan opini, prinsip, dan
pendapat maka individu ataupun kelompok minoritas dapat berubh pendapat.
7.
Prestasi
Prestasi
merupakan pencapaian atau hasil yang telah dicapai yang memrlukan suatu
kecakapan/keahlian dalam tugas-tugas akademis maupun nonakademis (Chaplin,
1999:310).
8.
Crowding
(kerumunan massa)
Crowding
atau kerumunan massa merupaka suatu kumpulan orang-orang yang memiliki
kepentingan yang sama walaupun mungkin tidak saling mengenal dengan emosi-emosi
yang mudah dibangkitkan dan tidak kritis (Chaplin 1999:118).
9.
Imitasi
Imitasi
merupakan salah satu proses interaksi sosial yang banyak terjadi dalam
kehidupan sehari-hari dengan meniru perbuatan orang lain secara disengaja.
10. Kesadaran
Kesadaran
memiliki makna inti yang merujuk pada suatu kondisi atau kontinum dimana kita
mampu merasakan, berfikir dan membuat persepsi (Wright, 2000:162).
11. Fantasi
Konsep
fantasi merujuk pada kapasitas manusia yang luarbiasa dalam memberikan sosok
pada sesuatu yan
g
sesungguhnya tidak ada, kemudian melengkapinya dengan aneka pengandaian, baik
itu secara spontan maupun sengaja (Janjnes,1977).
12. Personalitas
Personalitas
berasal dari bahasa latin, yaitu kata persona yang artinya topeng aktor. Merupakan sebuah konsep samar yang mencangkup seluruh
karakteristik psikoloi yang membedakan seseorang dengan yang lainnya (Colman,
2000:745).
13. Pikiran
Istilah
mind atau pikiran berasal dari bahasa
teutonic kuno yaitu gamundi yang
artinya berfikir, mengingat, bermaksud atau intend (Valentine:2000:667).
14. Insting/naluri
Istilah
insting atau naluri merujuk pada macam macam aktivitas yang luas, oleh karena
itu menyulitkan pembahasan secara ilmiah. Ada beberapa pendapat ilmiah mengenai
insting atau naluri diantaranya darwin dalam The origin of species (1859) mengartikan naluri sebagai suatu yang
terpisah dari pengalaman hidup, sedangkan freud melihat naluri sebagai suatu
dorongan biologis yang ada pada setiap maluk hidup yang melandasi prilakunya
untuk mempertahankan dirinya dan berproduksi.
15. Mimpi
Mimpi
secara psikologis merujuk pada sustu aktivitas sederetan tamsil simbolik, ide,
gagasan,hasrat terpendam, kebutuhan dan konflik yang saling berkaitandan
berlangsung selama tidur. (Chaplin, 1999:147)
e.
Teori
Psikologi
1.
Teori agresi psikoanalisi Sigmund Freud
Teori yang dimotori
oleh Sigmund Freud dalam Beyond the
Pleasure Principle (1920). Yang memiliki inti teori sebagai berikut:
a.
Prilaku manusia pada dasarnya didorong
oleh kekuatan dasar manusia yaitu insting naluri kehidupan (eros) dan insting naluri kematian (thanatos)
b.
Eros mendorong manusia mencari
kesenangan duniawi sedangkan thanatos
tindakan tindakan nya diarahkan pada desdruktif diri serta perasaan
berdosa.
c.
Karena sifat antagonistiknya kedua
insting / naluri ini akan menjadi konflik intrafisik pada manusia.
2.
Teori disonansi kognitif Festinger
Teori ini dimuat dalam karya A Theory Of Cognitive dissonance (1957),
arti dari disonasi adalah hubungan dua elemen yang terjadi disertai suatu
penyangkalan.
3.
Teori kepribadian Erich Fromm
Secara singkat teori kepribadian yang
digagas oleh Fromm menyatakan bahwa Manusia berusaha memecahkan kontradiksi
dasarnya , yaitu manusia sebagai pribadi
yang memiliki kebutuhan fisiologis yang harus dipuaskan, dan sebagai
manusia yang memiliki kesadaran diri, pikiran, daya khayal, cinta, dan kasuh
sayang.
4.
Teori deprivasi relatif Gurr
Merupakan hasil pemikiran dan penelitian
Ted Robert Gurr dalam karyanya Why Men Rebel (1970) yang membagi deprivasi
menjadi beberapa pola perubahan yaitu deprevasi presisten, deprevasi apresional,
deprevasi dekremental, dan deprevasi progresive.
5.
Teori kecerdasan majemuk Howard Gardner
Dalam teorinya Gardner mengidentifikasi
delapan kecerdasan yang relatif otonom
yaitu:
a. Kecerdasan
Linguistik
b. Kecerdasan
Ligika Matematika
c. Kecerdasan
Spasial
d. Kecerdasan
Kinestetik Jasmaniah
e. Kecerdasan
Interpersonal
f. Kecerdasan
Intrapersonal
g. Kecerdasan
Naturalis
BAB 111
PENUTUP
IPS
merupakan perwujudan dari satu pendekatan interdisipliner dari pelajaran
ilmu-ilmu sosial. Ia merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial
antara lain: Sosiologi, Antropologi Budaya, Sejarah, Psikologi Sosial,
Geografi, Ekonomi, Politik, dan Ekologi.
Antropologi
berasal dari dua kata Yunani, anthropos yang berarti manusia dan logos yang
berarti ilmu. Jadi, antropologi merupakan ilmu yang berusaha mencapai
pengertian atau pemahaman tentang manusia dengan mempelajari aneka warna bentuk
fisik, masyarakat, dan kebudayaannnya.
Secara
terminologi sosiologi berasal dari bahasa Yunani, yakni kata socius yang
berarti kawan, berkawan ataupun bermasyarakat dan logos berarti ilmu atau dapat
juga berbicara tentang sesuatu. Dengan demikian, secara harfiah istilah
sosiologi dapat diartikan ilmu tentang masyarakat (Spencer dan Inkeles, 1982:4;
Abdulsyani, 1987:1).
Para
ahli psikologi terdahulu mendefinisikan psikologi sebagai studi kegiatan mental
(Atkinson, 1996:18). Sedangkan menurut Kenneth Clark dan George Millter (1970)
mendefinisikan bahwa psikologi sebagai studi ilmiah mengenai prilaku. Dari
berbagai definisi tersebut secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa psikologi
sebagai studi ilmiah mengenai proses perilaku dan proses-proses mental.
DAFTAR PUSTAKA
Helen dan Simon. 2005. Pengantar Antropologi. PT. Nuansa:
Bandung.
Supardan, Dadan. 2008. Pengantar Ilmu Sosial. PT. Bumi Aksara:
Jakarta.
Koentjaraningrat. 2009.
Pengantar Ilmu Antropogi. PT. Rineka
Cipta: Jakarta.