(MAKALAH)
MATA KULIAH:
DESAIN MODEL PEMBELAJARAN IPS
DOSEN: 1.
Dr. R. GUNAWAN SUDARMANTO, SE. MM.
2.
Dr.PUJIATI, M.Pd

OLEH :
GUSNETTY JAYASINGA/ 1323031012
PROGRAM PASCASARJANA PENDIDIKAN IPS
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
LAMPUNG
2013
KATA
PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena dengan
rahmat dan hidayahNya maka tugas ini dapat diselesaikan dalam rangka memenuhi
tugas perkuliahan Desain Model Pembelajaran IPS pada Program Studi Magister
Pendidikan IPS Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.
Penulis menyadari sepenuhnya masih banyak kekurangan dalam penyajian dan
referensi yang dapat penyusun pergunakan dan menyadari bahwa dalam penulisan
makalah ini banyak kelemahan dan kekurangan sehingga diharapkan kritik dan
saran dari Bapak Dr. R. Gunawan sudarmanto, SE. MM. dan Dr.Pujiati, M.Pd
sebagai dosen pengampu mata kuliah Desain Model Pembelajaran IPS demi perbaikan
dan kesempurnaan pemahaman yang penyusun dapatkan dalam
pembuatan tugas-tugas lainnya. Demikian tugas ini disusun semoga
bermanfaat bagi semua pihak.
Metro,
Oktober 2013
Penulis
DAFTAR ISI
|
|
|
Halaman
|
|
HALAMAN JUDUL
|
...............................................................................
|
1
|
|
KATA PENGANTAR
|
...............................................................................
|
2
|
|
DAFTAR ISI
|
...............................................................................
|
3
|
|
BAB I.
|
PENDAHULUAN
...............................................
A.
Latarbelakang
...........................................
|
4
4
|
|
|
B.
Rumusan Masalah ....................................
|
5
|
|
|
C.
Batasan Masalah
......................................
|
5
|
|
|
D.
Tujuan Penulisan
......................................
|
5
|
|
|
|
|
|
BAB II.
|
PEMBAHASAN
..................................................
|
6
|
|
|
A.
Pengertian
Konsep .........................................
B.
Pengertian Prinsip ...........................................
C.
Pengertian Prosedur Desain Pembelajaran.......
|
6
9
12
|
|
BAB III.
|
PENUTUP
...........................................................
|
14
|
|
DAFTAR PUSTAKA
|
...............................................................................
|
15
|
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Konsep biasa
dikenal dengan rancangan dasar pembelajaran. Secara sederhana, proses belajar
dapat dikatakan sebagai proses yang menjadi kan individu yang sebelumnya tidak
tahu menjadi tahu, tidak terampil menjadi terampil.
Pada
hakikatnya, belajar adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada
disekitar individu. Belajar dapat dipandang sebagai proses yang diarahkan
kepada tujuan dan proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Belajar juga
merupakan proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu. (Sudjana, 1989: 28).
Sedangkan menurut Gagne (1984) belajar merupakan suatu proses di mana suatu
organisma berubah prilakunya sebagai akibat pengalaman. Dari pengertian
tersebut terdapat tiga unsur pokok dalam belajar, yaitu proses, perubahan
prilaku, dan pengalaman.
Dalam
belajar ada yang dinamakan proses pembelajaran. Proses pembelajaran disini
merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh seorang guru atau pendidik untuk
membelajarkan siswa yang belajar. Sebenarnya, peran guru dalam pembelajaran
sangat luas, guru sebagai pengajar, sebagai pembimbing, sebagai ilmuwan, dan
sebagai pribadi. Oleh karena itu, guru hendaknya berperan dalam memfasilitasi
agar terjadi proses mental emosional siswa tersebut sehingga kemajuan belajar
dapat dicapai.
Banyak
hal yang menjadi landasan atau tumpuan pada konsep belajar, mulai dari landasan
filsafat, psikologi, sosiologi, komunikasi, dan bahkan teknologi.
Landasan-landasan yang sepertinya sudah tidak asing tersebut berkaitan
erat dengan pembelajaran karena digunakan sebagai tumpuan dalam melaksanakan
kegiatan pembelajaran.
Kemudian
hal lain yang menjadi konsep dasar belajar ialah proses pembelajaran. Di dalam
proses pembelajaran tersbut di awali dengan tahap persiapan, kemudian
penyampaian, latihan, penampilan hasil. Dalam kegiatan proses persiapan ini
menyangkut kegiatan penyususan rencana pembelajaran yang akan diselenggarakan.
Kemudian proses penyampaian disini merupakan peran guru untuk mentransfer
ilmunya kepada siswa, namun juga proses penyampaian di sini menggambarkan
dinamika kegiatan belajar siswa yang dibuat sedinamis mungkin oleh seorang
pendidik. Latihan, proses latihan merupakan proses belajar dengan pengulangan.
Artinya siswa dituntut untuk menggunakan pengalaman belajar yang sudah didapat
secara keseluruhan dalam proses pembelajaran yang sudah dilakukan. Selanjutnya
adalah penampilan hasil, Nilai setiap program belajar terungkap hanya dalam
tahap ini. Bahwa tahap ini merupakan satu kesatuan dengan keseluruhan proses
belajar. Tujuan tahap penampilan hasil ini adalah untuk memastikan bahwa
pembelajaran tetap melekat dan berhasil diterapkan.
Setelah mengalami proses pembelajaran ada yang
dinamakan hasil belajar sebagai suatu yang ditentukan oleh usaha sesorang dalam
melaksanakan kegiatan dalam hal ini belajar. Pada dasarnya, hasil belajar ini
ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku secara keseluruhan baik yang
meliputi segi kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Dan hasil belajar ini
dipengaruhi oleh beberapa faktor dalam mencapai tujuannya Baik itu
faktor internal maupun faktor eksternal. Dimana faktor internal adalah faktor
yang berasal dari salam diri siswa seperti faktor fisiologis, psikologis,
kematangan baik fisik maupun psikis. Dan faktor eksternal adalah faktor yang
berasal dari luar siswa seperti lingkungan. Faktor faktor itulah yang baik
secara langsung maupun tidak langsung yang dapat mempengaruhi hasil belajar
yang dimaksud.
a.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan pada latar belakang yang sudah penulis
uraikan tersebut di atas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai
berikut :
1.
Apakah
pengertian dari konsep?
2.
Apakah pengertian dari prinsip?
3.
Apakah pengertian prosedur desain pembelajaran?
b. Batasan Masalah
Dalam hal ini penulis
membatasi masalah pada pengertian konsep, prinsip dan prosedur desain pembelajaran.
c.
Tujuan
Penulisan
1. Memahami
pengertian dari konsep.
2. Memahami
pengertian dari prinsip?
3. Memahami
pengertian prosedur desain pembelajaran?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Konsep
Setelah
mengerti tentang belajar dan pembelajaran sekarang kita akan membahas mengenai
konsep belajar dan konsep pembelajaran. Secara umum konsep
adalah suatu abstraksi yang menggambarkan ciri-ciri umum sekelompok objek,
peristiwa atau fenomena lainnya. Woodruff , mendefinisikan konsep sebagai
berikut: (1) suatu gagasan/ide yang relatif sempurna dan bermakna, (2) suatu
pengertian tentang suatu objek, (3) produk subjektif yang berasal dari cara
seseorang membuat pengertian terhadap objek-objek atau benda-benda melalui
pengalamannya (setelah melakukan persepsi terhadap objek/benda).
Pada
tingkat konkrit, konsep merupakan suatu gambaran mental dari beberapa objek
atau kejadian yang sesungguhnya. Pada tingkat abstrak dan komplek, konsep
merupakan sintesis sejumlah kesimpulan yang telah ditarik dari pengalaman
dengan objek atau kejadian tertentu.
Pada konsep
pembelajaran terkandung lima unsur utama yakni, kata interaksi yang mengandung
arti pengaruh timbal balik, saling mempengaruhi satu sama lain.
Peserta
didik sebagai anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri
melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang dan jenis
pendidikan tertentu. Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi
sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaswara, tutor, instruktur,
fasilitator dan sebutan lain sesuai kekhususannya, serta berpartisipasi aktif
dalam menyelenggarakan pendidikan.
Sumber
belajar segala sesuatu yang dapat digunakan oleh peserta didik dan
pendidik dalam proses belajar dan pembelajaran, berupa sumber belajara
tertulis/ cetakan, terekam, tersiar, jaringan, dan lingkungan (alam sosial,
budaya dan spritual). Lingkungan belajar adalah lingkungan yang menjadi latar
terjadinya proses belajar seperti di kelas, perpustakaan, sekolah, tempat
kursus, warnet, keluarga, masyarakat dan alam semesta (Ocha, 2011).
Konsep itu
sendiri merupakan suatu fakta dan keadaan yang memiliki ciri/unsur tertentu
yang membentuk suatu pengertian dan makna. Hilgard dan Bower, dalam
buku Theories of Learning. Belajar berhubungan dengan perubahan
tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh
pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah
laku itu tidak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan respon pembawaan,
kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh
obat, dan sebagainya). Sedangkan konsep pembelajaran dapat didefinisikan
sebagai suatu sistem atau proses membelajarkan subyek didik/ pembelajar yang
direncanakan atau didesain, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis agar
subyek didik/pembelajar dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara
efektif dan efisien (Fauzan, 2011).
Ada banyak
sekali konsep pembelajaran yang diterapkan khususnya di Indonesia. Salah
satunya konsep pembelajaran konstekstual yang dipandang sebagai salah
satu strategi yang memenuhi prinsip pembelajaran. Konsep pembelajaran yang
konstekstual ini merupakan pembelajaran aktif antara guru dan siswa. Dan di
dalam konsep pembelajaran konstekstual ada unsur-unsurnya (Mifta, 2010).
1. Constructivisme
Belajar
adalah proses aktif mengonstruksi pengetahuan dari abstraksi pengalaman alami
maupun manusiawi, yang dilakukan secara pribadi dan sosial untuk mencari makna
dengan memproses informasi sehingga dirasakan masuk akal sesuai dengan kerangka
berpikir yang dimiliki. Belajar berarti menyediakan kondisi agar memungkinkan
peserta didik membangun sendiri pengetahuannya. Kegiatan belajar dikemas
menjadi proses mengonstruksi pengetahu-an, bukan menerima pengetahuan sehingga
belajar dimulai dari apa yang diketahui peserta didik. Peserta didik menemukan
ide dan pengetahuan (konsep, prinsip) baru, menerapkan ide-ide, kemudian
peserta didik mencari strategi belajar yang efektif agar mencapai kompetensi
dan memberikan kepuasan atas penemuannya itu (Mifta, 2010).
2. Inquiry
Siklus
inkuiri; observasi dimulai dengan bertanya, mengajukan hipotesis, mengumpulkan
data, dan menarik simpulan. Langkah-langkah inkuiri dengan merumuskan masalah,
melakukan observasi, analisis data, kemudian mengomunikasikan hasilnya.
Inquiri merupakan pembelajaran untuk dapat berpikir nyata dan kritis dalam
menyikapinya. Biasanya untuk inkuiri ini berbentuk kasus untuk dianalisis
berdasarkan teori yang ada (Mifta, 2010).
3. Questioning
Berguna bagi
guru untuk: mendorong, membimbing dan menilai peserta didik; menggali informasi
tentang pemahaman, perhatian, dan pengetahuan peserta didik. Berguna bagi
peserta didik sebagai salah satu teknik dan strategi belajar. Jika pertanyaan
bagus maka akan memberikan rasa ingin tahu kepada peserta didik (Mifta, 2010).
4. Learning
Community
Dilakukan
melalui pembelajaran kolaboratif. Belajar dilakukan dalam kelompok-kelompok
kecil sehingga kemampuan sosial dan komunikasi berkembang (Mifta, 2010).
5. Modelling
Berguna
sebagai contoh yang baik yang dapat ditiru oleh peserta didik seperti cara
menggali informasi, demonstrasi, dan lain-lain. Pemodelan ini dapat dilakukan
oleh guru (sebagai teladan), peserta didik, dan tokoh lain (Mifta, 2010).
6. Reflection
Yaitu
tentang cara berpikir apa yang baru dipelajari. Sehingga ada respon terhadap
kejadian, aktivitas/pengetahuan yang baru. Hasilnya nanti merupakan konstruksi
pengetahuan yang baru. Bentuknya dapat berupa kesan, catatan atau hasil karya
yang dapat memberikan imbal balik (Mifta, 2010).
7. Autentic
Assesment
Yaitu
menilai sikap, pengetahuan, dan ketrampilan. Hal iuni berlangsung selama proses
pembelajaran secara terintegras. Pada unsur ini dapat dilakukan melalui
berbagai cara yaitu test dan non-test. Alternative bentuk yang dapat dilakukan
kinerja, observasi, portofolio, dan/atau jurnal (Mifta, 2010).
Seorang ahli
yang bernama Rogers mengajukan konsep pembelajaran lain daripada konsep
pembelajaran konstektual yaitu “Student Centered Learning” yang intinya
sebagai berikut.
1. Kita
tidak bisa mengajar orang lain tetapi kita hanya bisa menfasilitasi belajarnya.
2. Seseorang
akan belajar secarasignifikan hanya pada hal-hal yang dapat
memperkuat/menumbuhkan “self”nya.
3. Manusia
tidak bisa belajar kalau berada dibawah tekanan.
4. Pendidikan
akan membelajarkan peserta didik secara signifkan bila tidak ada tekanan
terhadap peserta didik, dan adanya perbedaan persepsi/pendapat difasilitasi/
diakomodir (Mifta, 2010).
Dari kedua
konsep tersebut memang tidak ada yang salah dalam pembelajaran. Biasanya yang
terjadi kekeliruan adalah pada saat prakteknya. Banyak pengajar yang
mempraktekkan sesuka dirinya sehingga jika dikatakan seorang pengajar itu hanya
menggunakan satu konsep, itu merupakan pernyataan yang salah. Banyak para
pengajar yang menggunakan kombinasi berbagai konsep. Hal ini agar menunjang
pembelajaran yang baik dan agar bisa di mengerti oleh siswanya dengan baik.
Ketika seorang pengajar menggunakan konsep terdiri hanya satu itupun sebenarnya
tidak salah, karena banyak sekali pengajar yang mengajar dengan konsep sama
tetapi terjadi perbedaan di teknik-teknik pembelajarannya. Maka haruslah
dimengerti untuk konsep ini bebas dilakukan oleh pengajar apakah memilih satu
atau dua konsep (Mifta, 2010).
B.
Pengertian Prinsip
Prinsip
adalah suatu pernyataan fundamental atau kebenaran umum ataupun individual yang
disajikan seseorang/kelompok sebagai pedoman untuk berpikir/bertindak. Prinsip
desain instruksional yang berhubungan dengan penggunaan teori belajar antara
lain :
a.
untuk memahami proses belajar
b.
mengetahui kondisi dan faktor yang mempengaruhi proses
belajar
c.
prediksi yang akurat tentang hasil yang diharapkan
d.
meningkatkan performa sebagai pengajar yang efektif.
Prinsip desain instruksional
(Suparman, 1997) antara lain :
a. Respon-respon
baru diulang sebagai akibat dari respon
b. Perilaku tidak hanya dikontrol
oleh akibat dari respon,
tetapi juga dibawah pengaruh kondisi atau
tanda-tanda yang
terdapat di lingkungan peserta didik
c. Perilaku
yang ditimbulkan oleh tanda-tanda tertentu akan hilang atau berkurang
frekuensinya bila tidak diperkuat dengan akibat yang menyengkan.
d. Belajar
yang berbentuk respon terhadap tanda-tanda yang terbatas akan ditransfer kepada
situasi lain
e. Belajar
menggeneralisasi dan membedakan adalah dasar untuk belajar sesuatu yang
kompleks
f. Status
mental peserta didik untuk menghadapi pelajaran akan mempengaruhi perhatian dan
ketakutan peserta didik selama belajar
g. Kegiatan
belajar yang dibagikan menjadi langkah kecil dan disertai umpan balik
h. Kebutuhanmemecahmateri belajar yangkompleks
i.
Keterampilan tingkat tinggi sepertiketerampilan
memecahkan masalah
j.
Belajar cenderungmenjadi cepat dan efisien serta menyenangkan bila peserta didikdiberi
informasi bahwa peserta didikenjadi
lebihampu dalam
keterampilan memecahkan masalah
k. Perkembangan
dan kecepatan belajar peserta didik bervariasi
l.
Dengan persiapan peserta didik dapat
mengembangkan kemampuan menorganisasikan kegiatan belajarnya sendiri dan menimbulkan umpan
balik.
Arthur W. Chickering dan Zelda F.
Gamson mengetengahkan tentang 7 (tujuh) prinsip praktik pembelajaran yang baik
yang dapat dijadikan sebagai panduan dalam upaya meningkatkan kualitas
pembelajaran, baik bagi guru, siswa, kepala sekolah, pemerintah, maupun pihak
lainnya yang terkait dengan pendidikan. Di bawah ini akan dijelaskan mengenai
prinsip pembelajaran tersebut.
1. Encourages
Contact Between Students and Faculty
Frekuensi
kontak antara guru dengan siswa, baik di dalam maupun di luar kelas merupakan
faktor yang amat penting untuk meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa
dalam belajar. Dengan seringnya kontak antara guru-siswa ini, guru dapat lebih
meningkatkan kepedulian terhadap siswanya. Guru dapat membantu siswa ketika
melewati masa-masa sulitnya. Begitu juga, guru dapat berusaha memelihara
semangat belajar, meningkatkan komitmen intelektual siswa, mendorong mereka
untuk berpikir tentang nilai-nilai mereka sendiri serta membantu menyusun
rencana masa depannya (Mifta, 2010).
2. Develops
Reciprocity and Cooperation Among Students
Upaya
meningkatkan belajar siswa lebih baik dilakukan secara tim dibandingkan melalui
perpacuan individual (solo race). Belajar yang baik tak ubahnya seperti bekerja
yang baik, yakni kolaboratif dan sosial, bukan kompetitif dan terisolasi.
Melalui bekerja dengan orang lain, siswa dapat meningkatkan keterlibatannya
dalam belajar. Saling berbagi ide dan mereaksi atas tanggapan orang lain dapat
semakin mempertajam pemikiran dan memperdalam pemahamannya tentang sesuatu
(Mifta, 2010).
3. Encourages
Active Learning
Belajar
bukanlah seperti sedang menonton olahraga atau pertunjukkan film. Siswa tidak
hanya sekedar duduk di kelas untuk mendengarkan penjelasan guru, menghafal
paket materi yang telah dikemas guru, atau menjawab pertanyaan guru. Tetapi
mereka harus berbicara tentang apa yang mereka pelajari dan dapat
menuliskannya, mengaitkan dengan pengalaman masa lalu, serta menerapkannya
dalam kehidupan sehari-hari mereka. Mereka harus menjadikan apa yang mereka
pelajari sebagai bagian dari dirinya sendiri (Mifta, 2010).
4. Gives
Prompt Feedback
Siswa
membutuhkan umpan balik yang tepat dan memadai atas kinerjanya sehingga mereka
dapat mengambil manfaat dari apa yang telah dipelajarinya. Ketika hendak
memulai belajar, siswa membutuhkan bantuan untuk menilai pengetahuan dan
kompetensi yang ada. Di kelas, siswa perlu sering diberi kesempatan tampil dan
menerima saran agar terjadi perbaikan. Dan pada bagian akhir, siswa perlu
diberikan kesempatan untuk merefleksikan apa yang telah dipelajari, apa yang
masih perlu diketahui, dan bagaimana menilai dirinya sendiri (Mifta, 2010).
5. Emphasizes
Time on Task
Ada pernyataan waktu
+ energi = belajar. Memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya merupakan
sesuatu yang sangat penting bagi siswa. Siswa membutuhkan bantuan dalam
mengelola waktu efektif belajarnya. Mengalokasikan jumlah waktu yang realistis
artinya sama dengan belajar yang efektif bagi siswa dan pengajaran yang efektif
bagi guru. Sekolah seyogyanya dapat mendefinisikan ekspektasi waktu bagi para
siswa, guru, kepala sekolah, dan staf lainnya untuk membangun kinerja yang
tinggi bagi semuanya (Mifta, 2010).
6. Communicates
High Expectations
Berharap
lebih dan Anda akan mendapatkan lebih. Harapan yang tinggi merupakan hal
penting bagi semua orang. Mengharapkan para siswa berkinerja atau berprestasi
baik pada gilirannya akan mendorong guru maupun sekolah bekerja keras dan
berusaha ekstra untuk dapat memenuhinya (Mifta, 2010).
7. Respects
Diverse Talents and Ways of Learning
Ada banyak
jalan untuk belajar. Para siswa datang dengan membawa bakat dan gaya belajarnya
masing-masing Ada yang kuat dalam matematika, tetapi lemah dalam bahasa, ada
yang mahir dalam praktik tetapi lemah dalam teori, dan sebagainya. Dalam hal
ini, siswa perlu diberi kesempatan untuk menunjukkan bakatnya dan belajar
dengan cara kerja mereka masing-masing. Kemudian mereka didorong untuk belajar
dengan cara-cara baru, yang mungkin ini bukanlah hal mudah bagi guru untuk
melakukannya. Pada bagian lain, Arthur dan Gamson mengatakan bahwa guru dan
siswa memegang peran dan tanggung jawab penting untuk meningkatkan mutu
pembelajaran, tetapi mereka tetap membutuhkan bantuan dan dukungan dari
berbagai pihak untuk membentuk sebuah lingkungan belajar yang kondusif bagi
praktik pembelajaran yang baik (Mifta, 2010).
Setiap siswa
juga memilki tempo perkembangan sendiri-sendiri, maka guru dapat memberi
pelajaran sesuai dengan temponya masing-masing. Perbedaan individual ini
berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa. Karenanya, perbedaan individu
perlu diperhatikan oleh guru dalam upaya pembelajaran. Sistem pendidikan
kalsikal yang dilakukan di sekolah kita kurang memperhatikan masalah perbedaan
individual, umumnya pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan melihat siswa
sebagai individu dengan kemampuan rata-rata, kebiasaan yang kurang lebih sama,
demikian pula dengan pengetahuannya (Shvoong, 2011).
C.
Pengertian Prosedur
Desain Pembelajaran
Suatu
bentuk pembaharuan sistem instruksional dan sistem pendidikan agar prosedur
yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta perkembangan iptek.
Tujuannya adalah meningkatkan produktifitas dan eksistensi proses pembelajaran.
Pembelajaran
adalah sebuah kegiatan yang tidak bisa dilakukan secara sembarangan, tetapi
harus mengikuti prosedur tertentu. Secara umum, prosedur atau langkah-langkah
pembelajaran dilakukan melalui 3 tahapan yaitu; (1) kegiatan pendahuluan; (2)
kegiatan inti; (3) kegiatan akhir dan tindak lanjut. Dapat dijelaskan sebagai
berikut.
1. Pendahuluan
Winataputra, mengemukakan hal-hal
yang dilakukan dalam kegiatan pendahuluan, sebagai berikut.
1.
Menciptakan kondisi awal pembelajaran; meliputi:
membina keakraban, menciptakan kesiapan belajar peserta didik dan menciptakan
suasana belajar yang demokratis.
2.
Apersepsi meliputi: kegiatan mengajukan pertanyaan
untuk mengaitkan materi yang akan dibelajarkan dengan materi atau pengetahuan
yang telah dikuasai siswa sebelumnya, memberikan komentar atas jawaban yang
diberikan peserta didik dan membangkitkan motivasi dan perhatian peserta didik
untuk mengikuti kegiatan pembelajaran (Sudrajat, 2008).
Hal senada disampaikan oleh
Depdiknas bahwa dalam kegiatan pendahuluan, perlu dilakukan pemanasan dan
apersepsi, didalamnya mencakup: (1) bahwa pelajaran dimulai dengan hal-hal yang
diketahui dan dipahami peserta didik; (2) motivasi peserta didik ditumbuhkan
dengan bahan ajar yang menarik dan berguna bagi peserta didik; dan (3) peserta
didik didorong agar tertarik untuk mengetahui hal-hal yang baru (Sudrajat,
2008).
1. Kegiatan
Inti
Kegiatan
inti pada dasarnya merupakan kegiatan untuk mencapai tujuan pembelajaran atau
proses untuk pencapaian kompetensi, yang dilakukan secara interaktif,
inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk
berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa,
kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik
serta psikologis peserta didik, degan menggunakan metode yang disesuaikan
dengan karakteristik pesertadidikdan materi pelajaran Winataputra,
mengemukakan hal-hal yang dilakukan dalam kegiatan inti, yaitu; (1)
menyampaikan tujuan yang ingin dicapai, baik secara lisan maupun tulisan, (2)
menyampaikan alternatif kegiatan belajar yang akan ditempuh, dan (3) membahas
materi (Sudrajat, 2008).
Depdiknas
mengemukakan tiga bentuk kegiatan ini yaitu; (1) eksplorasi; (2) konsolidasi
pembelajaran, dan (3) pembentukan sikap dan perilaku. Dapat dijelaskan sebagai
berikut.
a.
Kegiatan eksplorasi merupakan usaha memperoleh atau
mencari informasi baru. Yang perlu diperhatikan dalam kegiatan eksplorasi,
yaitu; (a) memperkenalkan materi/keterampilan baru, (b) mengaitkan materi
dengan pengetahuan yang sudah ada pada peserta didik, (c) mencari metodologi
yang paling tepat dalam meningkatkan penerimaaan peserta didik akan materi baru
tersebut (Sudrajat, 2008).
b. Konsolidasi
merupakan merupakan negosiasi dalam rangka mencapai pengetahuan baru. Dalam
kegiatan konsolidasi pembelajaran yang perlu diperhatikan adalah; (a)
melibatkan peserta didik secara aktif dalam menafsirkan dan memahami materi
ajar baru, (b) melibatkan peserta didik secara aktif dalam pemecahan masalah,
(c) meletakkan penekanan pada kaitan struktural, yaitu kaitan antara materi
pelajaran yang baru dengan berbagai aspek kegiatan dan kehidupan di dalam
lingkungan, dan (d) mencari metodologi yang paling tepat sehingga materi ajar
dapat terproses menjadi bagian dari pengetahuan peserta didik (Sudrajat, 2008).
c. Pembentukan
sikap dan perilaku merupakan pemrosesan pengetahuan menjadi nilai, sikap dan
perilaku. Yang perlu diperhatikan dalam pembentukan sikap dan perilaku, adalah
: (a) peserta didik didorong untuk menerapkan konsep atau pengertian yang dipelajarinya
dalam kehidupan sehari-hari; (b) peserta didik membangun sikap dan perilaku
baru dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan pengertian yang dipelajari; dan
(c) cari metodologi yang paling tepat agar terjadi perubahan sikap dan perilaku
peserta didik (Sudrajat, 2008).
2. Kegiatan
Akhir dan Tindak Lanjut Pembelajaran
Winataputra,
mengemukakan hal-hal yang dilakukan dalam kegiatan akhir dan tindak lanjut
pembelajaran, yaitu: (a) penilaian akhir; (b) analisis hasil penilaian akhir;
(c) tindak lanjut; (d) mengemukakan topik yang akan dibahas pada waktu yang
akan datang; dan (e) menutup kegiatan pembelajaran (Sudrajat, 2008).
Mulyasa
mengemukakan dua kegiatan pokok pada akhir pembelajaran, yaitu; (a) pemberian
tugas dan (b) post tes. Sementara itu, Depdiknas (2003) mengemukakan dalam
kegiatan akhir perlu dilakukan penilaian formatif, dengan memperhatikan hal-hal
berikut; (a) kembangkan cara-cara untuk menilai hasil pembelajaran peserta
didik, (b) gunakan hasil penilaian tersebut untuk melihat kelemahan atau kekurangan
peserta didik dan masalah-masalah yang dihadapi guru, dan (c) cari metodologi
yang paling tepat yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai (Sudrajat,
2008).
BAB III
PENUTUP
Secara
umum konsep adalah suatu abstraksi yang menggambarkan ciri-ciri umum sekelompok
objek, peristiwa atau fenomena lainnya. Woodruff , mendefinisikan konsep
sebagai berikut: (1) suatu gagasan/ide yang relatif sempurna dan bermakna, (2)
suatu pengertian tentang suatu objek, (3) produk subjektif yang berasal dari
cara seseorang membuat pengertian terhadap objek-objek atau benda-benda melalui
pengalamannya (setelah melakukan persepsi terhadap objek/benda).
Prinsip
adalah suatu pernyataan fundamental atau kebenaran umum ataupun individual yang
disajikan seseorang/kelompok sebagai pedoman untuk berpikir/bertindak. Prinsip
desain instruksional yang berhubungan dengan penggunaan teori belajar antara
lain :
a.
untuk memahami proses belajar
b.
mengetahui kondisi dan faktor yang mempengaruhi proses
belajar
c.
prediksi yang akurat tentang hasil yang diharapkan
d.
meningkatkan performa sebagai pengajar yang efektif.
Suatu
bentuk pembaharuan sistem instruksional dan sistem pendidikan agar prosedur
yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta perkembangan iptek.
Tujuannya adalah meningkatkan produktifitas dan eksistensi proses
pembelajaran.
Pembelajaran adalah sebuah kegiatan
yang tidak bisa dilakukan secara sembarangan, tetapi harus mengikuti prosedur
tertentu. Secara umum, prosedur atau langkah-langkah pembelajaran dilakukan
melalui 3 tahapan yaitu; (1) kegiatan pendahuluan; (2) kegiatan inti; (3)
kegiatan akhir dan tindak lanjut
DAFTAR PUSTAKA
http://andrimuktielektronation.blogspot.com/2011/12/konsep-prinsip-prosedur-strategi-metode.html diakses 24/09/2013 at 16.29
diakses 24/09/2013 at
16.27
Dewi Salma Prawiradilaga.
2008. Prinsip Disain Pembelajaran. Cetakan kedua. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group.
Martinis Yamin. 2008. Desain
Pembelajaran Berbasis Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: GP Press.
Soeharto. 1988. Disain
Instruksional: Sebuah Pendekatan Praktis untuk Pendidikan Tehnologi dan
Kejuruan. Jakarta: Debdikbud.
http://belajarbarengabqo.blogspot.com/2011/11/pertemuan-2-konsep-prinsip-dan-prosedur.html
diakses 24/09/2013 at 16.24
24/09/2013 at 18.56
http://opini.berita.upi.edu/2013/03/24/konsep-dasar-pembelajaran/
diakses 25/09/2013 at 23.02
Tidak ada komentar:
Posting Komentar