
Tgl 13 Desember 2013
kemarin secara dadakan tanpa planning hanya modal nekad dan rasa penasaran
doang kami berangkat ke tempat wisata teluk kiluan, Kec. Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus.
Rombongan kami semuanya ada 7 orang dan kendaraan yang kami gunakan adalah avanza.
Selama ini yang kami dengar
dan baca selalu tentang keindahan panorama pantai kiluan, laguna serta daya
tarik lumba-lumba yang ada disana. Hanya sedikit yang membahas bagaimana
buruknya akses jalan menuju kesana. Paling hanya dikatakan jalan sangat buruk,
itu saja. Tanpa gambaran yang jelas seberapa parah buruknya.
Oleh karena itu disini gw
akan lebih banyak bercerita tentang situasi jalan menuju ke teluk Kiluan, agar
siapa saja yang ada niat mau kesana mendapatkan gambaran yang jelas, sehingga
bisa mempersiapkan kondisi kendaraannya serta sopir yang akan membawanya.
Berangkat dari Bandarlampung
sekitar jam 12.30 wib, isi bensin dan isi perut sampai penuh karena perjalanan
akan terasa cukup panjang. Rute yang akan kami lalui adalah: lempasing, Batu
menyan, Padang Cermin, Punduh Pidada dan Desa Bawang. Kami berangkat lewat daerah kemiling. Dalam
perjalanan ke arah Padang Cermin nanti akan melewati beberapa pantai seperti
Pantai Mutun dan pantai Klara. Cuaca saat itu kurang baik, hujan gerimis.
Markas TNI AL

Setelah melewati Pantai Klara, barulah kami masuk ke
kawasan markas TNI AL. Saat memasuki persimpangan di Pangkalan TNI AL, ambil
jalur yang sebelah kiri menuju pangkalan AL/ bumi marinir atau Punduh Pedada. Awalnya semua lancar-lancar
saja, tetapi lepas dari kawasan markas TNI AL atau setelah melewati punduh
pidada mulailah banyak rintangan dijalan.
Jalan yang kami lalui
sebagian besar rusak berat, banyak kubangannya yang rata-rata lebar dan cukup
dalam karena saat itu mulai masuk musim hujan, jalan grompal dimana-mana, belum
lagi sebagian besar jalan masih menggunakan batu kali yang besarnya sebesar
buah kelapa, ditambah tikungan-tikungan tajam yang membuat gw (yang kebagian
peran sebagai sopir) harus ekstra hati-hati dan waspada setiap saat. Selain
tikungan yang tajam, ditambah lagi alur jalan yang menanjak dan menurun karena
masuk daerah pegunungan membuat kesulitan melihat ada tidaknya kendaraan dari
arah depan.
Dan yang lebih ekstrim
serta memacu adrenalin adalah, karena sepanjang pinggiran jalan adalah
jurang-jurang yang tanpa batas pengaman dan hutan besar dengan tanah tebing
yang sebagian longsor, sedangkan jalan yang ada lebarnya hanya pas untuk dua
mobil bersisian, itupun sulit dilakukan sebab licin terkena air hujan dan
karena parahnya jalan.
Ada bagian alur jalan yang
benar-benar membuat gw harus berjibaku banget dan menuntut konsentrasi tinggi
serta doa yang banyak-banyak (hahahahaha), karena jalan itu bentuknya menanjak,
berliku-liku serta terbelah dua dan dalam karena aliran air yang melewati jalan
tersebut dari arah gunung, sulitnya karena dipinggirnya adalah jurang yang
membentang, jadi gw harus pintar-pintar memilih jalan yang bisa dilalui atau
kami terpeleset masuk jurang.
Alhamdulillah, kami bisa
melewati bagian yang mengerikan tersebut. Tetapi bukan berarti kami sudah boleh
tenang, karena jalan masih lumayan buruk sampai didaerah desa Bawang. Masih ada
satu ujian untuk gw sebagai sopir, yaitu menyeberangi sungai berbatu. Karena
jalan yang biasa dilalui menuju desa Bawang sedang diperbaiki (dibuatkan jembatan),
yang akhirnya terpaksa akses jalan kesana melewati sungai dengan kedalaman dari
jalan sekitar 1,5 – 2 m. Kata penduduk
sana kalau sungai banjir, maka tertutuplah akses mau keluar dan masuk desa
tersebut. Jalan dari tanah serta becek penuh kubangan air, membuat jalan
menjadi licin dan kalau tidak hati-hati kendaraan kita bisa nyangkut disana.
Dari
sana, jalan terus melewati jalan tanah sampai disuatu pasar yang namanya Pasar
Bawang. Dipersimpangan pasar Bawang ambil jalan yang sebelah kanan sampai
dipersimpangan terakhir. Nanti akan kelihatan gapura Teluk Kiluan dan jalan kecil
disebelah kiri yang menurun tajam dengan bagian tengah yang rusak berat. Pada
saat turunan masih enak, tetapi sulitnya ketika balik dari kiluan karena
posisinya kebalik menjadi tanjakan dengan sisi jurang. Jika beban kendaraan
terlalu berat, keadaan mobil kurang baik, rem tidak pakem, sangat berbahaya
melewati jalan tersebut.

Setelah menuruni turunan tajam tesebut, akan tampak
perkampungan dan rumah rumah orang bali. Di Kiluan memang banyak orang bali
jadi jangan heran akan banyak gapura-gapura dan pura khas bali disini.
Setelah melewati perkampungan, akhirnya sekitar jam
15.35 wib kami sampai juga di Teluk Kiluan.

isana
kami tidak lama, sekitar jam 18.00 wib kami nekad memutuskan untuk pulang saat
itu, berhubung cuaca masih cukup terang untuk melihat jalan. Walau saat itu
langit mulai gelap dan hujan mulai turun. Suami istri tempat kami menitipkan
mobil terlihat seperti heran melihat kami memutuskan untuk tetap pulang saat
itu juga. Seolah-olah kami ini sudah gila mungkin, hahahahaha.......Bahkan diperjalanan
pulang, saat berpapasan dengan kendaraan lain, mereka juga kelihatan heran
mukanya.

Perjalanan
kami dari teluk kiluan ke Bandarlampung, jelas lebih sulit daripada saat kami
berangkat, karena kami melakukannya waktu mulai memasuki malam hari. Bahkan
kami sempat nyasar keluar dari jalur jalan. Belum lagi saat menuju ke gapura
gerbang kiluan, ada masalah di jalan tanjakannya yang kalau gw ingat-ingat lagi
rasanya suatu KEAJAIBAN gw bisa melewati semua itu, sangat menegangkan karena
nyawa taruhannya, mobil gw gak kuat nanjak dan macet ditengah-tengah tanjakan
bagian jalan yang rusak, hal itu membuat mobil gw bergerak turun lagi dengan
kencangnya kebawah, sedangkan pinggiran jalan adalah jurang.
Subhanaallah......Allah
masih sayang dengan kami semua, Beliau melindungi kami semua, gw diberi
kekuatan untuk melewati itu semua, gw berusaha semampu gw dan tetap tenang mengendalikan
mobil gw agar tetap berada dijalur jalan, gak kelempar kejurang. Terimakasih Ya
Allah....karena aq selalu Kau berikan ketenangan berpikir disetiap situasi yang
bagi orang lain justru membuat mereka panik.
Magrib
menjelang malam pemukiman penduduk daerah kiluan seperti desa mati, sepi
seperti tak ada kehidupan sama sekali, hanya lampu-lampu disetiap rumah yang
membuat kami yakin kalau desa-desa yang kami lewatin ada penduduknya,
hahahahaha.....Karena cuaca sudah memasuki malam hari ditambah lagi hujan semakin
deras, membuat gw lebih ekstra keras berhati-hati mengamati jalan, sebab
sepanjang jalan dari teluk kiluan sampai dikawasan markas TNI AL jauh dari
pemukiman penduduk, masih daerah liar dengan hutan-hutan dan jurang disekitarnya,
sinyal untuk handphone jg tak ada. Benar-benar kami terputus komunikasi dari
pihak luar, sehingga jika sampai terjadi apa-apa dengan kami wallahualam
deh....
Lucunya, saat berangkat rombongan
kami masih terdengar celotehan dan becandaannya, tetapi saat pulang entah
karena kelelahan atau terlalu tegang menghadapi situasi perjalanan kami, sudah
jarang terdengar suara-suara. Semua hanya mengucapkan doa dan doa agar kami
bisa selamat kembali keBandarlampung.
Bahkan sempat ada masalah lain
juga, ban mobil kami bagian belakang kempes, mungkin karena terlalu sering
menghantam batu-batu jalan yang rusak, untungnya masih ada tukang tambal ban
yang buka. Wuiiih.....pengalaman ini sungguh tidak akan bisa gw lupain seumur
hidup gw, dan gw yakin itu juga yang dirasakan oleh rombongan yang ikut bersama
gw.....
Akhirnya kami sampai juga
dengan selamat diBandarlampung sekitar jam 22.00 wib kalau gx salah, kali ini
kami lewat rute Telukbetung bukan Kemiling seperti saat kami berangkat.
Pas sampai baru kerasa
pegal-pegal semua nih badan, nyetir bolak balik kurang lebih 9 jam benar-benar
pengalaman yang pertama buat gw, luarbiasa....
Apalagi
dengan rute jalan yang memacu adrenalin seperti itu, tapi jujur saja....Gw gak
kapok......hahahahahaha.....setidaknya pengalaman sekali akan membuat kita lain
kali lebih siap dan lebih berhati-hati... (Hm, apa akan ada “LAIN KALI” itu?).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar