Minggu, 22 Desember 2013

Mengejar Waktu Diantara DOA: True Story, Teluk Kiluan 13 Desember 2013




Tokoh dalam cerita
v  Bunda     : Ibu angkatnya Nindya (Tiwi), seorang guru yang saat ini sedang ngabisin duitnya untuk kuliah lagi program pascasarjana MPIPS Unila, dalam cerita ini berperan sebagai sopir 

v  Nindya (Tiwi):  Mahasiswa Fisip Unila, yang punya impian pengen nginjakin kakinya di Bulan, eh Teluk Kiluan. Tiwi memiliki mata yang indah, hanya banyak orang yang tak memperhatikannya karena tertutup kacamatanya

v  Kristy      : Mahasiswa Fisip Unila, teman kuliah Tiwi, cantik tapi memiliki fisik yang lemah. Penakut 

v  Iid           : Mahasiswa Fisip Unila, teman kuliah sekaligus teman kost Tiwi, Manis dan kreatif. Dan dia paling semangat kalau diajak bicara tentang hal yang dia sukai.

v  Chiko      : Mahasiswa Fisip Unila, Kurus tinggi, memiliki jiwa pemimpin, bisa diandalkan dalam situasi darurat 

v  Rano       : Mahasiswa Fisip Unila, kurus kecil, sederhana, dan terlihat sensitif sifatnya.

v  Rendi      : Mahasiswa Fisip Unila , manis dan selalu merasa paling ganteng diantara yang cantik, tapi masih sedikit kekanakan, mungkin karena terlalu dijaga oleh orangtuanya.

“Kita dibawah LANGIT yang sama, melihat BINTANG yang sama.”

I


J
umat pagi. Aku lagi jengkel banget. Sudah sengaja jauh-jauh dari Metro ke Bandarlampung untuk kuliah, eh malah sampai jam 9 lewat, batang hidung tuh dosen belum kelihatan juga.
Kalau bayar mahal SPPnya cuma buat ketemu kursi kosong, ngapain? Dirumahku juga banyak tuh kursi kosong. 
Aku mahasiswa pascasarjana di Magister Pendidikan IPS Universitas Lampung, mayoritas teman kuliahku rata-rata sudah bekerja semua, guru dan juga telah berumahtangga. Kuliah pascasarjana ini bagi sebagian dari kami hanya karena tuntutan pekerjaan sebagai salah satu syarat untuk naik pangkat atau golongan bagi PNS.
Kami berasal dari berbagai kabupaten diLampung, ada yang dari Pringsewu, Tulangbawang, Kotabumi, Metro, Bandarlampung, Waykanan, bahkan ada juga yang dari Palembang. Karena itu rasanya menyebalkan banget jika kami sudah sengaja berangkat dari rumah eh dosennya gak masuk tanpa ada pemberitahuan dahulu.
Akhirnya untuk mengisi waktu jam kuliah yang kosong itu, aku mengerjakan pekerjaanku sebagai guru SMK, input nilai rapor, karena minggu depan sudah pembagian rapor. Aku memang gak terlalu suka menghabiskan waktuku hanya untuk ngobrol ngalor ngidul gak jelas, walau bukan berarti aku tipe yang serius,  hanya jika udah menyangkut tugas kuliah dan pekerjaan, aku selalu berusaha melakukan yang terbaik. Aku rasa setiap orang juga berpikir yang sama.

Tiba-tiba handphoneku bergetar, ada sms masuk. Hmm....dari nindya atau biasa dipanggil Tiwi, anak angkatku yang kebetulan kuliah juga di Fakultas Fisip Unila, aku biasanya setiap istirahat atau kalau capek bolak balik Metro-Bandarlampung sering milih nginap di tempat kostnya, sebenarnya sih buat ngirit bensin juga.....hahahaha.....
“Nda, aku mau izin pergi ya....” Bunda memang panggilanku baik oleh murid-muridku, anak-anak angkatku baik yang dari dunia Maya ataupun mereka yang kenal dengan diriku, bahkan teman kuliahku juga memanggilku dengan sebutan itu.
“Wah, berarti istirahat nanti Nda terdampar dikampus dong....”
“Ini teman-teman mau ngajakin pergi....”
“Kemana?”
“Gak tau, belum ada tujuan juga. Lagipula gak ada kendaraan....”
“Hm, dosen nda juga gak masuk nih....”
“Emang pada kemana Nda?”
“Gak tau pada kemana. Nih Nda ngerjain  isi rapor aja daripada bengong, ke Kiluan yo?” Entah darimana tuh pikiran tiba-tiba aku ngajakin dia ke Kiluan, salah satu tempat wisata di Lampung, tepatnya di Kec. Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus. Sebenarnya aku iseng aja, karena ingat dia pengen banget kesana, dan karena sikonnya belum mendukung aku belum bisa menepatin janjiku untuk ngajak dia kesana.
            “Ini ada 6 orang, beneran mau ke Kiluan? Beneran Nda? Mauuuuuu......” Gubrak, aku tepuk jidat temanku, soalnya kalau tepuk jidatku sendiri kan sakit. Ya ampun, aku kan cuma iseng ngomongnya, tapi lihat balasan smsnya yang antusias dan senang banget seperti itu rasanya aku jadi gak tega kalau sampai membuyarkan rasa bahagia dia. Pyiuuuh, mana bawa duit pas-pasan cuma buat kuliah dua hari doang.
“Apa bunda bawa mobil?” tanya Tiwi.
 “Bawa mobil....”, balasku. Mobilku sejenis minibus, toyota avanza yang bisa menampung sekitar 8 orang. Cukuplah untuk kami tanpa harus berdesak-desakan duduknya. Sementara itu otakku berpikir keras, bagaimana caranya agar aku gak buat dia dan teman-temannya kecewa. Kami HARUS PERGI.
           
       Aku lihat teman-teman kuliahku siapa kira-kira yang bisa aku pinjam uangnya, sialan....teman yang biasa tempat aku pinjam malah lagi gak masuk pula. Dan rasanya gak enak kalau pinjam dengan orang yang aku gak dekat banget.
Akhirnya aku sms Tiwi, aku bilang yang sebenarnya kalau aku lagi gak pegang uang banyak, tapi kira-kira dia ada simpanan apa gak, nanti aku ganti. Aku memang biasa jujur dengannya, gak ada yang aku tutupin darinya. Alhamdulillah, temannya si Rano ada uang simpanan, jadi aku bisa pakai dulu uang Rano. Wah, Rano jadi Dewa bagiku hari ini...hahahaha......
            Hanya ada yang buat aku galau juga selain masalah uang, diantara mereka yang ikut pada gak ada yang bisa nyetir, jadi hanya aku yang bisa.
“Ade ma Rinanda gak ikut yank?”  Mereka teman-teman Tiwi yang bisa nyetir.
“Mereka pada gak bisa Nda, katanya Rinanda mau keWates dan Ade juga mau pergi.”
Waduuh, yang bisa nyetir malah gak bisa ikut semua. Chiko katanya bisa, tetapi aku gak pernah liat cara dia bawa mobil, sedangkan jalan ke Kiluan jelek banget. Aku gak mau ambil risiko, lagipula jujur aku gak suka nyawaku ditangan orang lain. Ya udah, berarti aku bakal full nyetir pulang perginya. Sedangkan jarak tempuhnya kata yang udah pernah kesana sekitar 3-4 jam dari Bandarlampung. Tapi Ok deh kalau aku sudah niatkan emang sulit buat dipatahkan, bagiku ini malah sebuah tantangan sendiri apakah aku sanggup atau tidak melakukannya.
            Aku kasih tau ke teman-teman kuliahku kalau aku mau bolos kuliah karena mau ke Kiluan, salah satu temanku Ana langsung bilang:
“Bun, besok pagi kan ujiannya Pak Edi, Assesment.....” Aku kaget juga dengarnya.
“Gak salah yank?” (aku memang biasa panggil orang-orang yang aku kenal dengan panggilan “yank” dari kata “sayang”, awalnya sih karena aku sering kesulitan nghafalin nama murid-muridku yang jumlahnya ratusan orang, jadi supaya aman aku panggil dengan panggilan seperti itu, jadi gak bakal keliru salah panggil.....hahahaha, eh terus jadi kebiasaan deh dengan siapa saja aku selalu panggil seperti itu, tapi panggilan itu juga bisa menimbulkan rasa kedekatan dengan mereka).

“Benar Bun, udah lain kali aja looo....sayang banget kalau sampai gak ikut ujian....”
“Duh, gimana nih?” pikirku dalam hati. Rasanya aku gak tega kalau ngebatalinnya, karena aku juga udah pernah ngebatalin rencana ke Kiluan ini bulan kemarin, masa mau batal lagi sih....bisa dibilangin PHP aku dengan mereka. Dan aku gak ingin mengecewakan mereka. Sudahlah tentang besok nanti aja mikirinnya sekarang berangkat aja dulu.
Terlalu banyak mikir malah buat mumet aja.
“Bunda tetap berangkat yank, nanti PP aja atau besok subuh pulangnya. Jadi masih bisa ikut ujian,” Ana geleng-geleng kepala liat aku tetap bersikeras mau pergi ke Kiluan.
“Bun, Kiluan itu jauh.....mana jalannya rusak banget......nekad kalau PP, ditunda aja kenapa toh?”
Aku cuma senyum aja, sambil masukin laptop ke dalam tas.
            Tiba-tiba dosen mata kuliah  EBK jam kedua masuk.
 “Alamak......gimana nih?” pikirku. Masalahnya kalau aku keluar tanpa bawa tas sih masih bisa kabur, ini aku bawa tas ketahuan banget kalau mau perginya.Akhirnya aku nekad aja dengan santai aku keluar ngelewatin tuh dosen. Mana dia ngelihatin aku pula.
Masa bodoh aaaaah.....Kiluan, I’m coming!!!
Teman-teman kuliahku pada ngelihatin semua, karena bisa dikatakan aku termasuk rajin ikut kuliah, sakit-sakit aja aku bela-belain tetap kuliah. Kecuali waktu aku lagi tes ilmu di ruang ICU bulan oktober dulu, hahahaha.......
“Woiiii Bun, mau kemana lu?” tanya sebagian dari mereka. Aku cuma senyum aja sambil melambaikan tangan.

II


S
esampainya aku di tempat kost, mereka sebagian sudah kumpul. Teman-teman kuliahnya Tiwi: Chiko, Rendi, Iid, Rano, sedangkan Kristy lagi pulang dulu kerumahnya. Jadi kami menunggu Kristy. Aku bolak balik lihat jam tangan, karena aku ingin kami segera berangkat biar gak terlalu kesorean sampai disana. Kami harus mengejar waktu.
Mana ada masalah dengan salah satu temannya Tiwi yaitu Rendi, ibunya gak ngebolehin dia nginap dan ngejebur di laut. Sedangkan dia pengen sekali bisa ikut. Hal ini mau gak mau jadi pikiranku juga. Aku gak mau karena dia ikut kami terus dia kena marah sama orangtuanya. Walau aku kasihan juga kalau dia sampai gak bisa ikut. Tapi aku juga gak tau bagaimana situasinya nanti disana, jadi gak pasti bisa pulang atau gak nanti malam. Kalau keadaan gak memungkinkan untuk pulang yah terpaksa kami harus nginap disana, itu berarti dia bakal dapat masalah. Aku juga kepikiran dengan ujianku besoknya. Wah, belum apa-apa udah ada macam-macam masalah, baru juga lagi mau berangkat. Entah apa yang akan terjadi nanti.

Sebenarnya aku agak gak yakin dengan kepergian kami yang mendadak ini, karena dari tadi malam perasaanku gak enak banget, dan semakin jadi perasaan itu pagi ini waktu aku mau berangkat kuliah dari Metro. Bahkan di jalan sepanjang mau keBandarlampung, berulang-ulang aku berdoa, “Ya Allah, entah kenapa perasaanku gak enak banget hari ini....mudah-mudahan hanya sekedar perasaan, bukan sebuah tanda. Ya Allah....lindungilah keluargaku yang aku tinggalkan, dan jagalah aku selama aku jauh dari mereka....Lindungilah kami semua dari hal-hal yang buruk, Amin.”
“Coba hubungi Kristy sih, koq lama amat,” kataku pada mereka.
“Ini dia sms, udah di jalan katanya....”
“Paling dia baru keluar dari pintu rumah Bun, tapi bilangnya udah dijalan....” kata Chiko sambil ketawa.
Akhirnya Kristy sms kalau dia nunggu kami di Halte Robinson Unila. Siiiip....Kamipun langsung berangkat.
Setelah menjemput Kristy yang diantar ma pacarnya. Kami ambil rute lewat Kemiling, aku nyuruh mereka untuk makan siang dulu karena perjalanan kami masih jauh, dan informasinya disana jarang ada warung makan sampai di Kiluan nanti.
Tiwi sempat ngasih tau kalau teman-temannya pada mau sumbangan untuk uang bensin mobilku, tapi aku bilang gak usah karena aku tau mereka hanya anak kuliahan yang belum kerja, kasihan kalau mereka harus keluar uang banyak.
Lagipula aku yang ngajak mereka, jadi biarlah ini tanggunganku, yang penting aku bisa membuat mereka senang, terutama Tiwi, karena ini impian dia. Melihat wajahnya ma teman-temannya bahagia kayak gitu rasanya gak rugi deh aku bolos kuliah hari ini, walau sebenarnya dosen-dosen itu yang rugi sebab hari ini gak bisa melihat wajah manisku...... hahahaha.

III


S
etelah makan dirumah makan Padang dan membeli bekal untuk makan minum disana, sekitar jam 12.30 wib kami berangkat. Awalnya sepanjang jalan lancar-lancar aja. Kami sempat mutar arah balik lagi karena lupa ngisi bensin mobil, karena takut disana gak ada pertamina. Kami kearah Padang Cermin melewati pantai Mutun, terus kearah pantai Klara. Jalan belum banyak yang rusak, hanya tikungan-tikungan biasa yang masih bisa aku lewatin. Aku sempat gereget juga, pengen banget memacu kendaraan dengan kencang setiap melewati tikungan atau jalan yang agak lebar dan mulus, tapi Kristy selalu langsung jerit-jerit setiap aku ngebut dikit.....hahahahaha, kayak bawa emak gw aja, pikirku dalam hati.
Sedikit-sedikit “amazing.....bunda amazing....” yaelaaa....untung gak ada lakban dimobil, kalau gak Kristy pasti udah aku lakban biar aku bisa ngebut, hahahaha.....Saat itu cuaca juga kurang cerah, hujan gerimis, hal itu membuat jalan jadi agak licin.
“Bun, nanti aku tunjukin tempat biasa kami bilas kalau dari pantai Klara, sebenarnya karena mau ngirit aja, gak mau keluar duit buat bayar kamar mandi.....hahahaha,” kata Tiwi.
“Tapi tempatnya bagus,” kata Rendi atau Chiko, aku lupa.

         Sempat ada sedikit pertengkaran kecil antara aku dengan Tiwi pas dijalan, kebetulan dia duduk disebelahku. Setiap ada tikungan atau jalan yang menurun dia selalu bolak balik kasih peringatan ke aku, jujur itu malah buatku jadi gak konsentrasi, seperti anak kecil aja sedikit-dikit diperingatin. Aku juga tau mana yang bahaya atau tidak,  apalagi bawa rombongan seperti itu tentunya aku akan lebih berhati-hati. Mungkin memang sikapku kelihatannya santai dan meremehkan, tetapi sebenarnya aku tetap konsentrasi dengan apa yang aku hadapi. Seharusnya dia hafal ma gaya bundanya, ckckckckck......
Akhirnya aku ngebentaknya, sambil mengrem mobil,
” Kalau gak kamu aja deh yang bawa nih mobil!!”
Tiwi langsung diam, dan seketika aku langsung menyesal karena udah bicara keras seperti itu padanya dihadapan teman-temannya. Aku juga tau dia paling gak suka kalau ada orang yang bicara keras atau bentak-bentak dirinya. Aku mengerti maksudnya baik agar aku lebih berhati-hati. Kemudian aku minta maaf padanya, karena sudah berkata keras dengannya. Awalnya dia diam saja, terus aku mengulurkan jari kelingkingku tanda damai. Rasanya gak enak kalau sampai kami ribut sedangkan perjalanan masih jauh. Akhirnya dia mau juga terima jari kelingkingku. DAMAI.....
Kristy langsung ketawa liat kami kayak gitu, hehehe......kayak anak kecil emang pake baikan dengan jari kelingking saling berkaitan begitu. 
Kalau Kristy lain lagi cara kasih peringatan ma aku, setiap aku agak ngebut dia bilang gini: “Bunda nih gak bisa banget liat jalan agak mulus ma lebar dikit....”
Atau setiap jalan udah mulai menyempit, dia bilang: “Jalan menyempiiiiiiiiiit......” hahahaha, teguran halus buatku untuk ngurangi kecepatan. 
Kalau yang cowok-cowoknya malah sibuk provokatorin aku supaya ngebut bawa mobilnya,
”Hayoooo Bun.....hayooo....yang kencang bun....” tapi Kristy sibuk jerit-jerit sih....lagipula aku ingat mereka kan baru makan, kalau dibawa ngebut nanti malah jadi mual, bahaya kalau sampai muntah dimobil. Sayang mobilnya, hahahaha.....
Kasihan juga ma Chiko, dia duduk dibelakang dan karena badannya tinggi setiap aku ngebut dan lewat jalan yang jelek kepalanya selalu benturan ma atap mobil. Hadeuuuuh....kenapa gak dilipat aja makanya tuh badan biar bisa pendekkan dikit. 
Si iid mah dijalan lebih banyak diamnya, mungkin lagi sibuk zikiran dalam hati....supaya kami selamat sepanjang jalan ke Kiluan, dia udah pernah ikut mobilku jadi dia tau banget gimana caraku bawa mobil. Makanya kalau dia diam dan sibuk berdoa dalam hati, ya aku bisa maklum....hahaha...
Sementara Rano juga lebih banyak diam, mungkin lagi ngumpulin tenaga buat siap-siap nyebur di Laut nanti. 
Yang lucunya, si Kristy karena takut jatuh kedepan (dia posisi duduk dideretan kedua dan ditengah), badannya dililitin pake sabuk pengaman, yang akhirnya malah buat dia susah sendiri kalau yang dari belakang mau keluar dari mobil, ada-ada aja.

         Dimobil aku kan setel lagu-lagu Geisha yang mellow itu....si Rendi yang suka banget, dia minta dikerasin suara musiknya, teman-temannya pada ngeledekin dia, karena ada bagian dari lagu-lagu itu yang cocok ma kisah percintaannya Rendi.....Cieeee, cieeee....
Setelah melewati Pantai Klara, kami memasuki kawasan pangkalan TNI AL. Kami sempat berhenti sebentar di ATM BNI yang ada dipinggir jalan. Kebetulan Rendi dan Rano juga udah kebelet, jadi ini kesempatan buat mereka bagi-bagi rezeki dimesjid terdekat......hihihihihi....
Terus ada bapak-bapak yang sempat menanyakan kami mau kemana. Setelah tau kami mau ke Kiluan, dia bilang sayang kalau Ke Kiluan bawa mobil kayak mobilku itu, karena jalan disana rusak banget. Waduuuuh......pikirku.....

Pangkalan TNI AL

Saat memasuki persimpangan di Pangkalan TNI AL, kami ambil jalur yang sebelah kiri menuju pangkalan AL/ bumi marinir atau Punduh Pidada. Sambil berbelok, mataku sempat melihat sekilas ada tentara muda disitu yang tampangnya manis, sayang amat tuh orang terdampar disini pikirku, cuma aku diam aja gak bilang ma Tiwi, karena aku sudah bisa bayangin pasti dia ngomong gini:
“Ya ampun Bundaaaa.......sempat-sempatnya tuh mata liat yang kayak gitu.....uuuuuh....”, 
Ya namanya juga manusia normal, wajar atuh bereaksi terhadap hal-hal yang menarik mata, itu namanya proses alam. 
Kebetulan Kristy pernah ke Kiluan, walau udah lama tapi sedikit-sedikit dia masih ingat rutenya. Penunjuk jalan ke Kiluan juga hanya berupa papan kecil yang kalau terburu-buru bisa terlewatkan oleh mata. Berapa kali Chiko memintaku untuk berhenti dulu kalau aku merasa capek. Tapi semua masih terasa biasa aja bagiku,
“Bunda tau sampai dimana batas kemampuan bunda, kalau bunda gak berhenti berarti bunda masih kuat....”kataku pada mereka.
            Berulang-ulang Tiwi juga nanya ke Kristy, masih jauh gak Kiluan itu. Terus aku bilang setengah meledeknya, “yynk bisa sabar nahan pengen ke Kiluan berbulan-bulan, masa nahan beberapa jam aja gak bisa sih?” Lepas dari kawasan pangkalan TNI AL atau setelah melewati Punduh Pidada mulailah banyak rintangan dijalan.

        Jalan yang kami lalui sebagian besar rusak berat, banyak kubangan air yang rata-rata lebar dan cukup dalam karena saat itu mulai masuk musim hujan, jalan grompal dimana-mana, belum lagi sebagian besar jalan masih menggunakan batu kali yang besarnya sebesar buah kelapa, ditambah tikungan-tikungan tajam yang membuatku harus ekstra hati-hati dan waspada setiap saat. Selain tikungan yang tajam, ditambah lagi alur jalan yang menanjak dan menurun karena masuk daerah pegunungan membuatku kesulitan melihat ada tidaknya kendaraan dari arah depan.

         Ada beberapa pemandangan yang menurut kami lucu juga, kami berapa kali papasan dengan rombongan ibu-ibu, tetapi mereka bawahannya pada pake kain atau sarung gitu....adat kebiasaannya masih kuat kalau ada acara-acara tertentu disitu. Aku bayangin gimana kalau gaya gitu diterapkan dikota besar, waaaaah, beribet kayaknya....
“Gimana Bun, jalannya?” tanya Kristy berulangkali, karena aku selalu menjawab kalau jalan itu rusaknya belum apa-apa. “Ah, masih biasa aja koq.....ini mah belum parah banget...,” jawabku sambil tetap fokus melihat jalan didepan. Sebab selip sedikit mobil bisa terperosok kedalam lobang dijalan. Aku juga pakai insting aja mengira-ngira mana kubangan yang gak terlalu dalam untuk aku lewatin. Genangan air membuat jalan tidak jelas dalam atau dangkal lobangnya.
Dan yang lebih ekstrim serta memacu adrenalin adalah, karena sepanjang pinggiran jalan adalah jurang-jurang yang tanpa batas pengaman dan hutan besar, sedangkan jalan yang ada lebarnya hanya pas untuk dua mobil bersisian, itupun sulit dilakukan sebab licin terkena air hujan dan karena parahnya jalan.
Sebalnya, kami merasa sudah berjalan berkilo-kilometer, tetapi kenyataannya dari penunjuk jalan bahwa kami hanya baru melalui 3-4km saja. Contohnya ada penunjuk jarak tertulis 32 km lagi, jadi kami perkirakan sekitar kurang lebih 1 jam lagi kami sampainya.  Terus setelah berjalan jauh yang kami perkirakan sekitar 20-25km, ternyata ada plang penunjuk jarak tertulis: KILUAN 21km. Jiaaah.....berarti baru berapa kilometer aja yang kami tempuh. Gubraaak banget deh.....

       Pokoknya setiap kami lihat penunjuk jalan menunjukkan berapa kilometer lagi yang harus kami lewati, langsung saja kami ngoceh-ngoceh gemes sendiri, seperti dipermainkan. Masyaallah......kapan sampainya kalau begini, pikirku dalam hati.

          Melewati jalan rusak seperti itu benar-benar menguras energiku, 1km jalan yang rusak  sama seperti melalui 3-4km jalan yang mulus. Kami sempat juga ketemu rombongan penduduk disana yang sedang memperbaiki bagian jalan yang termasuk rusak berat dengan menggunakan batu kali yang ada. Memang parah banget jalan disitu, rasanya ikhlas kami memberi mereka sekedar uang rokok asal tuh jalan jadi mendingan untuk dilewati. Yang SEMANGAT ya Pakde, Oom, Kangmas......cemunguuut, cemunguuut.... 
Lagi-lagi Tiwi nanya ke Kristy kapan sampainya di Kiluan.
“Pokoknya kalau gunung itu sudah gak kelihatan lagi baru kita sampai....,” jawab Kristy. Aku lihat kedepan, wah gunungnya masih terlihat jelas banget seperti mengejekku, berarti masih lama.
“Bunda capek?” tanya Kristy. Hahahaha....pertanyaan yang aku rasa gak perlu aku jawab. Mereka yang cuma duduk aja udah ngerasa capek, apalagi aku yang harus konsentrasi nyetir, dimana kaki dan tanganku harus bergerak berulang-ulang antara kopling, gas dan rem, belum lagi punggung yang harus tegak karena biar bisa lihat jalan dengan jelas. Tetapi jujur, aku menyukai perjalanan ini, karena ini semacam tantangan bagiku. Lagipula aku memang senang menyetir, bisa membuatku teralihkan dari hal-hal yang lagi tak ingin kupikirkan. Aku suka dengan kegiatan yang memacu adrenalin, hahahahaha.....jiwa petualangnya terlalu kuat. 

          Akhirnya kami sampai dijalan yang membuat kami semua benar-benar kaget,  karena jalan yang kami hadapi bukan lagi parah, tapi rusaknya sangat, amat berat, benar-benar super hancur....
Ada bagian alur jalan yang membuatku harus berjibaku dan menuntut konsentrasi tinggi serta doa yang banyak-banyak, karena jalan itu bentuknya menanjak, berliku-liku serta terbelah dua, retak dan dalam, disebabkan ada aliran air yang melewati jalan tersebut dari arah gunung, sedangkan pinggirannya sebagian jalan grompal berbatu-batu atau tanah yang becek dan licin.
Sebelah kiri kami hutan dengan sebagian tanah tebingnya longsor terkikis terbawa air, karena hujan.
Sedangkan sebelah kanan kami adalah jurang yang membentang dalam dan curam, gak bisa dibayangkan kalau mobil kami terjun bebas kebawah, dan aku gak ingin membayangkannya, bahkan niat membayangkannya pun jauh-jauh aku singkirkan -,-“
Jadi aku harus pintar-pintar memilih jalan yang bisa dilalui atau mobil kami terpeleset masuk jurang. Anak-anak langsung terlihat panik, aku tahu saat itu kami memiliki pemikiran yang sama, apa kami bisa melewati semua itu?
Tiwi yang posisi duduk depan disebelahku tentu saja dengan jelas melihat bagaimana rusaknya jalan yang harus kami lewati, aku bisa merasakan ketegangannya juga yang lainnya. Aku tahu mereka takut, obrolan dan becandaan seperti saat berangkat sudah mulai hilang, semua fokus dengan jalan yang kami hadapi didepan, karena itu aku berusaha tetap tenang sebab mereka semua bergantung dan berharap banyak pada diriku.
 “Bismillah.....Ya Allah, lindungi kami semua,” bisikku dalam hati. Sempat juga terbayang keluarga kecilku, anak-anakku, Abang dan Kaka. Ya Allah, mereka gak tau kalau bundanya sedang menghadapi perjalanan yang berbahaya seperti ini, jika sampai terjadi hal buruk pada diriku mereka gak tau....(iih, kayak sinetron jadinya...).

Kalau aku amati, posisi kami seperti menyeberang dari gunung yang satu kegunung yang lain, makanya jalannya berbentuk melingkar, naik turun.
Mana di daerah pegunungan ini sinyal handphone hilang, gak ada rumah penduduk satupun, benar-benar masih alam liar, kendaraan yang lewat hanya 1-2 saja, membuat kami terputus komunikasi dengan dunia luar.
Tapi pada dasarnya aku memang tipe yang selalu optimis, sudah sering aku berhadapan dengan nyawa diujung tanduk. Aku selalu yakin dengan kebesaran dan kasih sayang Allah pada diriku. Jika selama ini Beliau selalu memberiku kekuatan dalam menghadapi setiap ujian hidup yang kuhadapi, maka aku yakin Beliau juga akan melindungiku saat ini.

       Dengan bantuan Tiwi yang menjadi navigator dadakan, aku perlahan-lahan mengendarai melewati jalan tersebut. Benar-benar semua keahlianku menyetir terujikan disini. Tantangan. Dan bagiku ini malah lebih menantang daripada saat aku bertahan hidup diruang ICU. Sebab bukan nyawaku saja yang harus kuselamatkan, tetapi ada 6 orang yang nyawanya tergantung pada keahlianku menyetir (sayang, gak sempat didokumentasikan sebagai bukti....hahahaha, di ICU aja aku sempat foto-foto, Iiiih...lagipula dengan keadaan seperti itu siapa pula yang terpikir mau ambil foto atau video? (Hadeuuh....buun...buun, pasti mereka pada ngomong gitu).

          Semua jalan itu gak ada yang baik, jadi aku hanya memilih yang kira-kira paling kecil risiko bahayanya. Tanganku sudah seperti bermata saja, meliuk-liuk secara otomatis mengendalikan stir mobil, mencari jalan yang layak dan bisa dilalui.
 Alhamdulillah, kami bisa melewati bagian yang mengerikan tersebut. Tetapi bukan berarti kami sudah boleh tenang, karena jalan masih lumayan buruk sampai didaerah desa Bawang.
  Dan Ya Allah.....masih ada satu ujian lagi untukku sebagai sopir, yaitu menyeberangi sungai berbatu. Karena jalan yang biasa dilewati sedang diperbaiki, dibuatkan jembatan. Jalan dari tanah serta becek penuh kubangan air, membuat jalan menjadi licin dan kalau tidak hati-hati kendaraan kita bisa nyangkut disana.
Anak-anak sudah sibuk dengan celotehan mereka karena sama kagetnya seperti aku. Posisi sungai itu tepinya tinggi sekitar 1meter dengan posisi yang gak terlalu miring, agak tegak lurus gitu. Jadi aku harus mengendarai mobil terjun kedalam sungai tersebut, yang kebetulan ketinggian airnya hanya kurang lebih sejengkal, terus menyeberang dengan posisi menanjak. Dan aku gak tau gambaran jalan yang ada diatas. Aku malas mau turun, malas basah kakinya. Jadi aku spekulasi aja deh..... J
“Lebih baik kalian turun dulu, takut gak kuat nanjaknya,” kataku sama mereka. Dengan cepat mereka segera menuruti kata-kataku. Dan sekali lagi Tiwi sebagai pemberi arah untuk jalan yang harus aku ambil. “Bunda, ambil sebelah kiri terus kekanan....” sementara yang lain berjaga-jaga dibelakang mobilku. Petunjuk dari Tiwi itu aku turutin. Aku kira-kirain saja kecepatan gas mobil untuk bisa melewati tepian sungai itu. Dan, sekali lagi aku lulus ujian.......
Anak-anak langsung lega melihat mobil udah nyeberang sungai.
“Bunda keren, kereeeeen banget.....” kata mereka sambil acung jempol. Pyiuuuh.....kalau kerennya karena melewati bahaya kayak gini, hadeuuuh.....gak usah deh, makasih....

         Dari sana, kami terus melewati jalan tanah dengan sawah-sawah dipinggiran jalan hingga kami sampai disuatu pasar yang namanya Pasar Bawang. Dipersimpangan pasar Bawang, kami ambil jalan yang sebelah kanan sampai dipersimpangan terakhir, kami mengikuti berdasarkan petunjuk jalan yang ada. Rumah-rumah penduduk disini mulai rapat, dengan bentuk yang sederhana, sebagian besar rumah berbentuk panggung. Halamannya ditutupin dengan batu sungai, untuk menghindari tanah yang licin dan berlumut, sebab kalau musim hujan posisi tanah menjadi becek dan licin.
Banyak anak-anak yang bermain di jalan, hewan peliharaan juga dengan bebasnya berkeliaran dijalan. Disini jalannya berkerikil.
Akhirnya gapura Teluk Kiluan Kelumbayan, Kab. Tanggamus terlihat juga oleh kami. Horeeee........Legaaa.... Setidaknya kami bisa mencapai teluk Kiluan ini walau sulitnya jalan yang kami tempuh. Kemudian kami turun sebentar untuk foto-foto, dan kalau sudah foto-foto gitu apa yang kami alami sepanjang jalan tadi seperti hilang gak ada bekasnya, hahahahaha.....
Dan sebenarnya ini salah satu cara kami melepaskan ketegangan selama dijalan tadi. Cara rileksisasi yang menyenangkan. 
Apalagi alam sekitar dapat mengobati rasa lelah. Hanya satu kata yang bisa aku katakan. Indah. Karena dengan posisi diatas gunung seperti itu, kami bisa melihat pemandangan yang ada dibawah.....laut dan bukit-bukit karang, pengunungan disekitarnya.
            Setelah foto-foto, kami melanjutkan perjalanan. Melewati gapura masuk Teluk Kiluan ada jalan kecil disebelah kiri yang menurun tajam dengan bagian tengah yang rusak berat. Pinggiran jalan masih jurang yang terjal dan disebelahnya tebing hutan. Memang itu jalan cor semen, tetapi tampaknya yang mengerjakan jalan itu banyak korupsinya, sehingga takaran semennya kurang. Makanya jalannya udah pada rusak seperti itu -,-“
Setelah menuruni turunan tajam tersebut, tampak oleh kami perkampungan dan rumah-rumah orang Bali. Di Kiluan memang banyak orang Bali jadi jangan heran akan banyak gapura-gapura dan pura khas bali disini. Jalannya kecil tapi cukup untuk dua mobil bersisian. Setelah melewati perkampungan orang Bali, akhirnya sekitar jam 15.35 wib kami sampai juga di Teluk Kiluan.


          Ya ampuuuuuun......kami benar-benar berada di TELUK KILUAN!!! Kayak MIMPI rasanya, padahal beberapa jam yang lalu aku masih duduk di ruang kuliah UNILA dengan badmood, sekarang sudah di daerah Tanggamus!! Buset deh.....Dan rasa lelahku langsung hilang begitu melihat wajah Tiwi yang kelihatan senang banget, begitu juga teman-temannya. Mungkin mereka gak menyangka hari ini mereka bisa menginjakkan kaki mereka di Teluk Kiluan juga akhirnya, padahal tadi kumpul-kumpul dikostnya Tiwi tanpa punya tujuan yang pasti mau ngapain....hahahahaha....
Makasih Ya Allah, aku bisa memberi kebahagiaan untuk mereka.....rasanya letih yang kurasa raib entah kemana.

IV


K
ami parkir mobil di halaman rumahnya Pak Yon, salah satu penduduk disana yang juga punya bisnis menyewakan tempat penginapan untuk pendatang serta menyediakan tempat penitipan kendaraan.
Setelah bincang-bincang sejenak menanyakan ongkos naik perahu untuk menyeberang kepulau kelapa dengan tukang sewa perahu, akhirnya kami pun sepakat. Biaya nyeberang Rp. 15.000/orang. Kapasitas perahu sanggup menampung sampai dengan sekitar 10 orang, kecuali bagi mereka yang dengan ukuran tubuh overweight sih..... 
Ada lucunya juga si Rendi kan minta nomor HP si tukang perahu, biar kami bisa nghubungi dia pas minta jemput dari pulau, Rendi save dengan nama “Oom Kiluan”, hahahaha....., aku langsung tanya nama si tukang perahu.
“Mas, namanya siapa ya? Masa nomornya disimpan ma dia dengan nama “Oom Kiluan”, kataku sambil nunjuk Rendi.
Tukang perahunya ketawa,”ROBI....”
Jiaaah, keren amat namanya, terlalu bagus.....aku pikir namanya Dullah, Joni atau paling bagus Beni....kataku dalam hati.

          Saat naik perahu, sempat terjadi insiden. Karena posisi perahu yang bergoyang-goyang, Iid saat naik perahu menjadi oleng badannya. Dia langsung berusaha meraih apa saja yang ada didekatnya untuk pegangan agar gak kejebur dalam laut. Kebetulan aku berada diposisi sampingnya, sehingga bahuku yang dia pegang. Tetapi karena posisinya udah miring banget pegangannya terlepas.Jebur deh Iid..... Otomatis tangan kananku memegang tangannya, berusaha menahan agar kepala Iid bisa ketahan gak masuk kedalam air. Sementara itu Chiko  yang sudah naik dan duduk dekat tukang perahu dengan sigap langsung loncat turun meraih badan Iid, sambil memeluk Iid tangannya juga berusaha mengambil handphone iid dari saku celananya agar gak masuk air, untung gak salah ambil ma pegang ya Ko? 
Wah, kagum juga aku lihat kesigapan Chiko, karena dia bisa cepat mengambil tindakan seperti itu, sementara yang lain masih terpana lihat Iid mendadak seperti putri duyung  yang lagi jebur dalam laut......1 point nilai Chiko naik dimataku....hahahahaha, yang gelinya Kristy pikir Iid lagi becanda, jadi dia malah bengong liatin muka Iid. Wah, yang jelas Iid udah tes duluan tuh laut, gak sabaran dia pengen cepat-cepat nyemplung..... 

            Setelah semua naik perahu (kasihan juga liat iid yang basah kuyup gitu, mana gak bawa salinan baju pula, aku sih bawa baju salinan untuk nginap tapi aku tinggal dimobil, sedangkan kami kan gak mungkin putar haluan lagi perahunya cuma buat ngambil tuh baju), akhirnya kami mulai berlayar......jiaah, berlayar bahasanya.
Yang duduk paling depan si Rendi, trus Rano, Iid, aku, Kristy, Tiwi, Chiko, dan Robi situkang perahu (ya dia pasti ikutlah.....hahahahaha).
Perjalanan naik perahu ke pulau Kelapa memakan waktu sekitar kurang lebih 15 menit, mana si Robi bawa perahunya agak ngebut sehingga air laut muncrat-muncrat kearah kami. Ngejar setoran banget tuh orang.... -,-“
Sambil menikmati pemandangan yang ada aku sibuk ngambil foto-fotoku diatas perahu, yang buat Tiwi jadi jerit-jerit marahin aku karena kuatir aku dan Hpku jatuh (kayaknya dia lebih sayang Hpku yang jatuh deh daripada bundanya yang jatuh -,-“).
Begitu turun kami disambut bapak-bapak penjaga pantai disitu, dia meminta kami membayar tarif masuk Rp.5000,-/orang. Dan kalau kami mau nginap, cottage disitu ditawarkan Rp.200.000. Cottagenya terbuat dari papan, berbentuk kamar-kamar seperti kost-kostan. Kamar mandinya aku lihat masih seadanya. Kamar mandi untuk umum malah bentuknya sederhana banget. Ada beberapa tempat sampah disetiap sudut tapi rupanya masih banyak orang yang belum ada kesadaran tentang kebersihan, karena masih banyak sampah bekas snack atau makanan yang tercecer dipinggiran pantai.Sayang banget.....
Disitu sudah ada beberapa pengunjung yang bermalam termasuk ada sepasang muda mudi yang seperti sedang menikmati bulan madu, tapi gak tau juga sih mereka suami istri atau bukan -,-“ ini termasuk jadi bahan guyonan kami, karena tuh cewek pake celana pendek yang sexi banget.....trus cowoknya seperti masih keturunan arab gitu dengan hiasan brewok diwajahnya,  yang buat Kristy terpana (hayoooo......apakah yang ada dalam pikiran Kristy? Tanda tanya BESAAAAR....hahaha).
            Tawaran untuk nyewa cottage belum kami ambil, karena kami masih mau lihat sikon dulu, kami belum pasti mau nginap atau gak. Chiko dan Rano langsung ganti baju yang sudah mereka persiapkan untuk main dilaut, Iid kekamar mandi mengganti celananya yang basah karena jadi putri duyung tadi, untung dia pake legging, jadi celana luarnya bisa diangin-anginin dulu biar gak terlalu basah.
Sementara itu barang bawaan kami letakkan di pondok-pondokan terbuka tempat duduk yang ada disitu, tetapi barang berharga aku suruh simpan diranselku biar dibawa jangan ditinggal demi keamanan, karena disitu gak ada yang jaga.
“Sini bun, biar chiko yang bawain ranselnya....,” Chiko menawarkan bantuan. Anak baik..... #lirik Rendi dan Rano. 
            Kemudian kami menyusuri pantai disebelah kanan, karena kami gak tau kalau disebelah kiri lebih indah pantainya  Chiko dan Rano langsung khilaf liat air laut, sementara Rendi gak berani nyebur karena udah diwanti-wanti ma enyaknya supaya gak jebur kelaut, pokoknya gak boleh basah, hahahahaha.......susah jadi anak mami....Akhirnya dia menemani Kristy (dan ini emang yang Rendi harapin, bisa berdekatan dengan Kristy terus.....hahahaha, dasaaaar.... ).
Sedangkan aku bertiga Iid dan Tiwi sibuk foto-foto dikarang yang ada disitu, walau resikonya kakiku dengan kaki Tiwi jadi kegores karang disana, lumayan pedih juga. Kompak amat emak ma anak sama-sama luka kena karang -,-“
Hanya sayang cuaca saat itu mendung, yang membuat kami gak bisa menikmati sepenuhnya keindahan disana. Ombak disana besar-besar dan termasuk tinggi, sehingga walau kami sudah diatas karang yang tinggi tetap aja kecipratan airnya. Dan karena posisiku saat itu melindungi Tiwi, badanku kena cipratan air, lumayan buat dingin.....yang jelas jadi BASAH, hahahaha....
Berapa kali juga kami peringatin Chiko dan Rano agar gak terlalu ketengah karena ombaknya besar gitu, khawatir aja mereka terseret. Maklum mereka berdua kan kurus-kurus, jadi mudah keseret ombak. 
 Tapi Chiko keliatan banget penasaran pengen naik kekarang yg merupakan salah satu ciri khas diTeluk Kiluan itu. Dan horeeee......walau dengan susah payah berapa kali keseret ombak balik kepantai Chiko berhasil juga naik kekarang tersebut. Siiip.....salah satu pengamalan dari 18 nilai karakter bangsa sudah Chiko terapkan: Kerja keras. (Hahahaha.......kata-kataku keliatan guru banget sih....).
           
          Sementara melihat mereka bermain-main dengan air laut, aku duduk diam sambil memikirkan bagaimana caranya supaya kami gak usah nginap tetapi langsung pulang saja.
Dan ujian mata kuliah Assement besok benar-benar gak bisa pergi dari pikiranku. Karena itu termasuk makul yang paling sulit aku pahami, ditambah dosennya kalau pas ngajar sering kayak anak autis, asyik dengan dunianya sendiri....., mikirin bakal ngikut ujian susulannya aja udah buat aku pusing duluan, lebih pusing daripada ngelewatin jalan yang hancur pas ke Kiluan tadi. 
Tapi aku juga bisa lihat cuaca gak bagus, mendung banget tanda mau hujan. Aku melakukan perhitungan, kira-kira kalau pulang dari Kiluan sebelum malam bisa gak ya? Bagaimana situasi dijalan kalau malam hari gini? Siang yang terang aja udah sulit melewati semua rute itu, apalagi malam hari dimana cuaca mulai gelap.
Aku bertanya-tanya dengan diriku sendiri: “Apa kamu sanggup melakukannya? Jika terjadi hal yang buruk dijalan bagaimana? Hanya kamu yang berpengalaman nyetir, apa kondisi fisik kamu kuat bolak balik nyetir selama 9 jam lebih? Bagaimana kalau mobil kamu rusak dijalan? Sedangkan ada bagian rute yang lokasinya benar-benar terkucil dan terputus dari dunia luar, sehingga sulit meminta bantuan. Kamu tuh bawa anak orang, kalau ada apa-apa dengan mereka bagaimana?”

           Aku melihat mereka satu persatu. Wajah-wajah yang sedang bahagia. Saat bermain seperti itu, mereka terlihat seperti bocah-bocah yang tanpa beban.
Lalu aku memutuskan untuk balik kepondok, aku ajak anak-anak biar mereka makan dulu bekal yang kami bawa. Sementara kami makan, Tiwi sibuk mengabadikan pemandangan di Kiluan baik dengan foto maupun video.
Aku memperhatikan Rendi, dia terlihat senang ikut kami,  tapi aku bisa lihat dan rasakan kalau sebenarnya dia kepikiran kalau kami sampai nginap. Walau dia bilang gak apa-apa, pasti perasaan khawatir bakal kena marah orangtuanya tetap ada. Hanya dia gak enak aja kalau kami semua terpaksa pulang gara-gara dia. Sedangkan situasi jalannya seperti itu.

        Akhirnya aku katakan pada mereka bahwa aku memutuskan untuk pulang sekarang. Anak-anak hanya menurut  saja apa kataku, karena bagaimanapun aku yang mereka ikutin.Selesai makan kami siap-siap mau pulang, tukang perahu sudah dihubungi untuk menjemput kami.
Saat itu jam menunjukkan sekitar pukul 17.00. Aku tau mungkin Tiwi agak kecewa karena gak bisa melihat sunset, tetapi semua sudah aku pertimbangan baik-baik. Ya setidaknya sebagian harapan dia sudah aku penuhin, bisa datang keTeluk Kiluan.
Diatas perahu yang membawa kami kembali keTeluk Kiluan, kami melihat awan semakin hitam, gerimispun mulai turun. “Gimana nih Nda? Gelap banget awannya....” kata Tiwi. Aku diam aja, hanya berharap jangan hujan deras sekarang, setidaknya sampai kami melewati rute-rute yang sulit dijalan nanti.
Dengan terburu-buru kami dari pantai langsung lari ketempat mobil kami diparkir. Aku bilang sama Bu Yon tempat kami nitip mobil, bahwa kami mau pulang saat itu juga, dia menatapku dengan heran,
“Gak jadi nginap Bu?”
Aku jawab, “Gak Bu, kami pulang aja.....” Tiwi nanya ke ibu itu, “Memang kalau jalan malam susah ya Bu?” Ibu itu sambil senyum,”Iya, kalau hujan sungai tempat  lewat itu sering banjir.....jadi gak bisa lewat”.
Aku ngelihat mereka, ”Ayooo....kalau gitu kita pergi sekarang mumpung masih terang dan belum deras hujannya...”
Karena mengejar waktu, jangan sampai ketemu gelap didaerah yag parah banget jalannya, kami semua langsung berangkat.
Ada diantara mereka yang bertanya,”Bunda ngrasa yakin gak nih?” Hmm....aku selalu yakin dengan diriku, terlalu yakin malah J. Kalau aku tetap nekad ngajak pulang magrib itu juga karena semuanya sudah kupikirkan. Mungkin aku memang suka mengambil risiko, tetapi semua pakai perhitungan. Saat itu waktu menunjukkan pukul sekitar jam 18.00 wib.

V


P
ada saat melewati tanjakan jalan yang rusak dekat gapura Teluk Kiluan, aku sempat kesulitan karena tanjakannya tinggi sekali, dan dengan kemiringan yang tajam, belum lagi jalannya rusak dibagian tengah, ada beberapa lobang yang lebar-lebar, dengan pecahan batu berserakan.
Mana pinggirannya jurang pula. AC sengaja aku matikan biar mobilku kuat tarikannya. Tetapi kali ini benar-benar aku ketemu MASALAH! Pas ditengah bagian jalan yang rusak, mobilku gak kuat menanjak walau gas sudah aku tekan sekuatnya sampai dasar. Mobil kami mundur!!!! MUNDUR dan terus bergerak mundur!!!!
Astaghfirullah.....Aku berusaha sekuatnya dengan menggunakan kedua rem, baik rem tangan dan rem kaki....tanganku yang satunya semampunya mengendalikan stir mobil tapi posisi mobil tetap mundur!! Aku mencoba segala cara agar bisa maju kedepan, tetapi sekali lagi semua percuma. Dengan beban penumpang seperti itu, rem seperti tak berfungsi.Mobil kami terus bergerak mundur kebawah dengan posisi miring kearah jurang tak tertahankan....
Anak-anak menjadi panik, ketakutan menguasai mereka karena jika aku gak bisa menahan lajunya mobil itu, kami semua akan masuk kedalam jurang disamping kami....


            Aku berulang-ulang menekan gas agar mobil maju kedepan, bunyi decitan ban mobil yang bergesekan dengan jalan membuat suasana semakin runyam. Saking kuatnya gas yang aku tekan membuat ban mobil mengepul keluar asap beradu dengan jalan. Bau karet terbakar langsung menusuk hidungku.
“Turun!!! Kalian semua cepat turun!!! Mobil ini terlalu berat.....!!!” seruku sambil sekuatnya aku memegang rem tangan dan menginjak rem kaki, perseneling tetap aku masukkan kegigi 1 agar mobil bisa bertahan gak mundur terus.
Mereka semua langsung secepatnya melompat turun dari mobil.
“Chiko, kita buat jalur baru...!!”seru Tiwi disela-sela kepanikannya. Dengan gesit Chiko langsung mengambil batu-batu yang ada, bersama Tiwi  menimbunin bagian jalan yang berlobang. Tangan Chiko sampai luka terkena batu yang tajam. Jalan yang rusak sebenarnya hanya beberapa meter, yang lain mulus. Tetapi karena posisinya pas ditengah-tengah tanjakan itu yang berbahaya.
Sementara itu mobilku perlahan-lahan terus turun kearah jurang. “Ya Allah, bantu aku, aku pasrahkan diriku padaMu Ya Allah, Kau yang memiliki diriku.....hidup matiku Kau yang berkuasa... laahaaulaawallaquataillahbillah, bismillahhirohmannirohiim....”bisikku dalam hati. Aku tetap berusaha fokus dan tenang.

            Aku sempat mendengar mereka memanggil-manggilku karena mencemaskan keadaanku, “Bunda....bunda.....” tapi aku terus konsentrasi, aku acuhkan semuanya, aku hanya fokus dengan jalan yang ada didepan mataku.
 “Tiwi, jangan nangis.....tahan wi, jangan nangis....,” entah suara Kristy atau Iid yang aku dengar meminta Tiwi jangan menangis. “Bunda....” suara Tiwi.
Sempat juga aku mikir, “Ngapain sih tuh anak pakai acara mau nangis segala disituasi kayak gini? Apa gak bisa dicancel dulu nangisnya?”
Aku menunggu Chiko dan tiwi selesai membuat jalur baru untuk kulalui,”Bunda ambil sebelah kanan.....jangan kekiri...”kata Chiko.
Aku coba mengikuti jalur baru yang mereka buat dengan tekanan penuh pada gas, mereka semua dengan tegang melihat mobilku melaju dengan kencang melewati itu semua. BERHASIL!! Alhamdulillah.....
Chiko berlari-lari mengejarku.
“Chiko, kalian jalan aja ya.....bunda tunggu diatas,”kataku. Sebab posisi jalan masih menanjak banget, aku khawatir jika aku berhenti menunggu mereka maka mobilku akan bergerak mundur lagi, tanjakannya sangat tinggi. Jadi aku gak mau ambil resiko untuk kedua kalinya macet ditengah jalan.

         Sampai diatas, lewat gapura gerbang Teluk Kiluan, aku berhenti dan turun dari mobil. Aku periksa kondisi mobil, karena aku khawatir gara-gara kejadian tadi ada kerusakan dibawahnya, sedangkan perjalanan kami masih jauh dan masih banyak kesulitan yang akan kami hadapi. Semua terlihat baik, syukurlah....Lalu aku masuk kembali kedalam mobil, menunggu anak-anak sambil mendengarkan musik dimobil.

          Yang pertama sampai diatas Tiwi, aku lihat dia berusaha sekuatnya lari menghampiri mobilku. Aku sempat bengong juga lihat dia dengan nafas ngos-ngosan berdiri disamping jendela mobilku. Sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah dia terus menatapku.
“Lah, kenapa pula nih anak?” bingung aku jadinya. Cara dia menatapku seperti aku ini manusia dari luar angkasa aja, hahahahaha..... 
Tapi aku mengerti apa yang dia rasakan, tanpa bicara aku tahu apa yang dia pikirkankan. Khawatir, takut semua menjadi satu. Pengalaman tadi benar-benar terlalu berat untuk dirasakan remaja seumurnya. Aku hanya tersenyum aja berusaha menenangkannya.
Satu persatu yang lain menyusul dengan nafas megap-megap, dalam hati aku merasa geli dan kasihan juga lihat mereka. Tapi mau gimana lagi ini semua demi keselamatan kami juga. Yang membuatku khawatir keadaan Kristy. Jalan mendaki melewati tanjakan setinggi itu benar-benar menguras tenaganya. Tubuhnya memang lemah. Untung dia dibantu teman-temannya.
“Yank, gimana? Kuatkan?” tanyaku. “Iya bun....”Kristy menjawab lemah. Aku lirik Chiko yang gantiin Tiwi duduk didepan sebelahku. Keliatan dia masih sibuk atur nafas.
“Aduh bun....yang gak perokok kayak Chiko aja ngos-ngosan gitu, apalagi chiko....tadi aja karena ngejar mobil bunda, chiko sampai tepar geletak dijalan....” hahahaha, bisa KO juga Chiko J
Aku lihat semua keliatannya baik-baik aja, hanya nafas mereka yang masih senin-kamis, diantara mereka hanya Kristy yang tampak paling kepayahan.

         Setelah semua naik mobil kami melanjutkan perjalanan, karena kami masih harus melewati sungai batu, kami takut sungai itu banjir kalau hujan seperti kata Bu Yon tadi.
Sesampainya disana, aku gak mau ambil resiko. Aku menyuruh mereka turun agar beban mobil lebih ringan. Pertama aku nyoba naik gagal, karena kali ini tepian sungainya posisinya lebih tinggi dan tidak terlalu miring seperti tepian disebrangnya. Dan aku terlalu lurus mengambil jalan. Aku coba jalan yang disebelahnya, walau aku sempat ragu-ragu juga melihat tanah lintasan yang seperti kubangan itu, tapi gak ada pilihan lain.....aku harus mencobanya dan berhasil. YES!!!
Tikungan demi tikungan kami lalui, jarang kendaraan yang papasan dengan kami, karena memang saat itu masih suasana magrib. Dan mereka gak senekad kami jalan malam didaerah tersebut. Hmmm.....mungkin aku sopir perempuan pertama yang melakukannya, hahahahaha......
Kali ini aku mengerahkan konsentrasi penuh, karena kami melewati jalan-jalan tersebut dengan hanya mengandalkan lampu mobil saja.

         Akhirnya sampailah kami dibagian jalan yang paling hancur, jalan dengan bagian tengahnya terbelah retak parah. Cuaca mulai gelap, dengan hutan disebelah kami dan jurang dibagian lainnya, suasana benar-benar sepi hanya suara binatang malam dan musik dari mobil aja yang terdengar. Kami semua lebih banyak diam. Membuat kami seolah-olah berada didunia yang lain. Dunia yang penuh dengan mistik yang mencekam. Segala sesuatu ada ditempat ini. Bahkan hal-hal yang kasat mata, karena waktu sekarang (magrib) adalah pergantian waktu dari siang menuju malam, dimana segala hal yang halus mulai bergerak. Dalam hati aku mengucapkan doa-doa pelindung.

        Pada bagian jalan yang menurun tajam, tiba-tiba aku merasakan angin dingin yang tidak sewajarnya mengelilingi kami, dadaku mendadak terasa sesak.
Astaghfirullah....Aku paham sekali dengan tanda-tanda tersebut....Dengan tenang aku bilang pada anak-anak, ”Hmmm....coba kalian bantu bunda ya, kalau kalian hafal ayat kursi tolong kalian bacakan, perasaan bunda gak enak....” Mereka terdiam, aku seperti bisa mendengar detak jantung ketakutan yang mereka rasakan, “Iya bun....”langsung aku dengar suara pelan mereka membaca doa.
Kemudian aku berbisik dengan apapun yang saat itu ada mengelilingi kami. “Maaf, kami numpang lewat.....kami gak bermaksud buruk, kami hanya ingin pulang....”sambil aku mengucapkan doa-doa dan memohon bantuan Allah. “Ya Allah, hanya Engkau yang aku takutkan.....Engkaulah yang berkuasa atas semuanya, aku mohon perlindunganMu dari segala hal yang buruk.....”
Entah kenapa aku lalu melepaskan pijakan kakiku dari gas mobil, perseneling mobil aku posisikan netral. Dan seperti ada kekuatan yang gak nampak, mobil kami terus melaju dengan kencang melewati tiap tikungan dan jalan yang belah tersebut.
“Ko, coba kamu lihat sendiri kan kalau bunda sama sekali gak nginjak gas, tapi mobil kita tetap jalan terus dengan kencang,”kataku pada Chiko. “Iya, bun......” Ciko menatap kakiku yang lepas bebas dari pijakan gas.
            Walau aku merasakan aura yang berbeda, aku merasa tenang. Karena aku paham apapun yang saat itu ada disekitar kami, mereka tidak jahat. Tidak ada aura negatif yang kurasakan. Malah sepertinya mereka membantu kami, memberi kemudahan jalan yang pada saat berangkat terasa sulit sekali kami lalui, padahal waktu itu cuaca terang. “Semua berada dibawah Kuasa dan PerintahMu.....Ya Allah....”

         Sepanjang jalan, Chiko membantuku memberi arah jalan, karena memang agak sulit melewati bagian jalan yang rusak parah itu dimalam hari, kegelapan membuat jalan tidak terlalu terlihat jelas, bahkan jurang-jurang yang ada dipinggiran jalanpun tak terlihat batasnya dengan jalan. Walau sempat terjadi berapa kali misscomunication antara aku ma Chiko. Kadang petunjuknya yang gak jelas, kanan atau kiri.....
Aku berusaha tetap mengambil jalur sebelah kanan, karena setidaknya itu lebih aman, berada jauh dari tepi jurang yang berada disebelah kiri jalan. Akhirnya kami dapat keluar dari jalan tersebut, aku berbisik pada sekitarku, “Terimakasih.....”

VI

A
khirnya kami memasuki desa, suasana benar-benar sepi seperti tak ada kehidupan sama sekali, hanya lampu-lampu disetiap rumah yang membuat kami yakin kalau desa-desa yang kami lewatin ada penduduknya. Karena cuaca sudah memasuki malam hari semua rumah tampak mirip dengan yang kami lalui pas berangkat tadi.
“Ini nyasar apa gak ya?” tanya  mereka.
“Ini benar koq, tadi kita kan ngelewati rumah bertingkat yang belum jadi,”kataku yakin. Tiwi juga nambahin,”Benar ini jalan yang kita lewatin tadi...” tapi entah kenapa aku agak ragu-ragu juga karena jalan yang kami lalui semakin mengecil, seingatku tadi kami gak melewati jalan seperti ini. Kemudian kami memutuskan untuk bertanya dengan penduduk setempat, walau sulit juga karena hujan dan masih suasana magrib gak ada orang yang berada diluar.  Kemudian kami melewati satu rumah dengan kendaraan motor yang masih terparkir diluar.
 “Yank, coba kamu turun dulu tanya kerumah itu ini benar gak jalan mau keluar.....,”kataku pada Chiko.
            Dan ternyata kami memang nyasar jauh, arah yang kami ambil bukannya menuju jalan pulang tapi malah menuju kegunung. Kata bapak itu, memang sering sekali orang-orang yang nyasar lewat situ. Dengan mengikuti petunjuk yang diberikan oleh bapak tersebut, kami bisa juga keluar dari desa itu.
            Jalan yang kami lalui sekarang sudah tidak terlalu parah lagi seperti tadi, hanya tikungan-tikungan tajamnya yang membahayakan, ditambah pula hujan yang turun membuat jalan menjadi licin.
“Bunda, capek bun?” tanya Kristy. Aku cuma senyum-senyum aja mendengarnya.
Tiwi yang menjawab, “capeknya kita belum apa-apa dibandingkan dengan capeknya bunda.....capeknya bunda itu dua kali, tiga kali lipat dari capek kita....”
Entahlah, sejujurnya aku malah gak ngrasain itu semua, karena mungkin aku terlalu sibuk konsentrasi mengendarai mobil dan melewati jalan-jalan yang rusak itu, membuatku jadi lupa dengan rasa badan sendiri.
           
          Perjalanan pulang sudah gak terlalu terdengar lagi suara-suara mereka yang becanda seperti waktu berangkat. Mungkin mereka kelelahan, dan karena mengalami ketegangan demi ketegangan saat keluar dari Teluk Kiluan membuat mereka gak bergairah lagi bicara banyak. Hanya suara musik mobil yang terdengar dan sekali-kali suara Chiko yang memberi arah jalan padaku.
Kami memasuki daerah Punduh Pidada. Dan tiba-tiba aku merasa mobilku agak berat bagian stirnya. Waduh, apalagi ini? Kayaknya ban belakang mobilku yang memang sering kempes kumat nih, ya maklum aja kepuasan nghantam batu dan jalan berlobang sih.... pikirku.
“Hmmm....Kayaknya ban belakang kempes nih....”kataku pada mereka. “Coba kita cari tambal ban didaerah ini, tadi pas berangkat bunda lihat ada bengkel motor....”
Dan alhamdulillah, masih ada tambal ban yang buka dekat kawasan militer TNI AL. Sambil ngisi angin, anak-anak kesempatan untuk buang rezeki akibat ketegangan selama dijalan tadi......hahahahaha.
Begitu memasuki kawasan markas TNI AL menuju kepantai Klara, rasanya lega banget. Setidaknya jalan gak terlalu buruk seperti dari punduh pidada keTeluk Kiluan. Lagipula masih ada 1-2 rumah dijalan yang kami lalui.
            Tak kerasa sudah sekitar jam 21.00 wib, berarti hampir 3 jam sudah kami dijalan. Kepulangan kami memakan waktu yang lebih lama, karena kami jalan dimalam hari, sehingga harus lebih hati-hati, belum lagi masalah-masalah yang kami hadapi dari Teluk Kiluan sampai Punduh Pidada, yang kalau diingat-ingat benar-benar suatu KEAJAIBAN kami bisa selamat melewati semua itu.
Darahku berdesir cepat, setiap ingat bahwa nyawa kami semua berada ditanganku saat itu. Jika aku lengah maka nyawa kami taruhannya. Kuasa Allah yang memberiku kekuatan menghadapi ini. Pantai Klara dan akhirnya pantai Mutun kami lewatin.
”Bun, mau lewat mana pulangnya? Kemiling apa Teluk? Kalau kemiling disitu jalannya menanjak banget juga sepi, rawan daerahnya.....”kata Chiko.
Setelah melewati semua jalan yang super parah dan rusak berat disepanjang jalan dari Teluk Kiluan tadi, rasanya semua jalan rusak yang sekarang kami lalui menuju keBandarlampung gak ada arti apa-apa. Tapi aku sudah mulai merasa lelah, nyetir sekitar 9 jam dengan rute yang menyeramkan tadi menguras semua tenagaku. Karenanya aku memilih lewat Telukbetung saja.
Chiko sempat menyuruhku istirahat, biar gantian dengan dia. Tapi aku bertahan untuk tetap nyetir mobil. Aku lebih percaya dengan diriku sendiri. Lagipula pikirku nanggung banget, udah mau sampai, dan udah terlanjur capek, sekalian aja deh capeknya.

    Begitu memasuki daerah Telukbetung dan jalan-jalan yang aku sudah paham, rasanya ketegangan yang dirasakan tubuhku semua menjadi hilang. Ini benar-benar pengalaman yang gak akan aku lupakan seumur hidupku. Perjalanan dengan maut yang setiap waktu mengintai kami. Setidaknya aku bersyukur, satu janjiku pada Tiwi telah kutepatin J Sampai diBandarlampung kota, kami nganterin Kristy dulu pulang kerumahnya. Karena hujan masih lumayan deras, kasihan kalau dia harus dibonceng naik motor dengan fisik yang masih lemah seperti itu akibat jalan mendaki diTeluk Kiluan tadi. Lagipula toh kami melewati daerah rumahnya, jadi sekalian aja pikirku.
Rendi, Chiko dan Rano masih ikut dalam mobil karena motor Rendi dan Chiko dititip di kamar kostnya Tiwi.
“Legaaaaa.......sudah sampai Bandarlampung,” kataku.
Tiwi nyahut, “aku baru lega kalau sudah masuk gerbang kostku....”hahahahahaha......
            
         Kami sampai dikost sekitar jam 22.00. Rasanya lengket semua badan karena air laut membuatku ingin cepat-cepat mandi. Mana tadi aku sempat kena hujan juga, dan hujan merupakan salah satu musuh bagi fisikku. Sementara itu Chiko, Rendi dan Rano langsung pulang.
Benar-benar seperti mimpi apa yang kami alami seharian ini, luarbiasa....Apalagi dengan rute jalan yang memacu adrenalin seperti itu, tapi jujur saja....aku gak kapok......hahahaha, setidaknya pengalaman sekali akan membuat kita lain kali lebih siap dan lebih berhati-hati... (Hm, apa akan ada “LAIN KALI” itu?).
Selamat malam anak-anak bunda, selamat tidur, semoga segala kelelahan dan ketegangan hari ini bisa larut dalam tidur yang pula. 


***********&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&***********

#Malamnya aku gak bisa tidur, pegal semua badan ditambah batuk yang eksis gara-gara kelelahan, air hujan plus mandi air dingin malam-malam. 

##Besoknya pas cerita ma teman-teman kuliah, mereka pada gak percaya kalau aku kemarin ke Teluk Kiluan pulang pergi, untung ada foto-foto sebagai bukti, dan semua langsung bilang: “GILAAAAAAA........NEKAAAAAD, malam-malam pulang dari Kiluan!!! Gilaaaa luuuu.....” 

### Pas cerita ma teman-teman kerja di SMKN 1 Metro, commentnya sama dengan teman-teman kuliah, ditambah geleng-geleng kepala gak berhenti-henti....untung pada gak copot tuh kepala. 

#### KESIMPULANNYA: “Kemarin emang kita semua GILAAAAA..... banget pengalamannya (bukan orangnya), dan aku emang benar-benar nekad, spekulasi tinggi.....”


=========TUTUP CERITA ===========

Tidak ada komentar:

Posting Komentar