Tokoh
dalam cerita
v Bunda : Ibu angkatnya Nindya (Tiwi), seorang guru
yang saat ini sedang ngabisin duitnya untuk kuliah lagi program pascasarjana
MPIPS Unila, dalam cerita ini berperan sebagai sopir
v Nindya
(Tiwi): Mahasiswa Fisip Unila, yang
punya impian pengen nginjakin kakinya di Bulan, eh Teluk Kiluan. Tiwi memiliki
mata yang indah, hanya banyak orang yang tak memperhatikannya karena tertutup
kacamatanya
v
Kristy : Mahasiswa Fisip Unila, teman kuliah
Tiwi, cantik tapi memiliki fisik yang lemah. Penakut
v Iid : Mahasiswa Fisip Unila, teman kuliah
sekaligus teman kost Tiwi, Manis dan kreatif. Dan dia paling semangat kalau
diajak bicara tentang hal yang dia sukai.
v Chiko : Mahasiswa Fisip Unila, Kurus tinggi,
memiliki jiwa pemimpin, bisa diandalkan dalam situasi darurat
v Rano : Mahasiswa Fisip Unila, kurus kecil,
sederhana, dan terlihat sensitif sifatnya.
v Rendi : Mahasiswa Fisip Unila , manis dan selalu
merasa paling ganteng diantara yang cantik,
tapi masih sedikit kekanakan, mungkin karena terlalu dijaga oleh orangtuanya.
“Kita
dibawah LANGIT yang sama, melihat BINTANG yang sama.”
I |
J
|
umat pagi. Aku lagi jengkel
banget. Sudah sengaja jauh-jauh dari Metro ke Bandarlampung untuk kuliah, eh
malah sampai jam 9 lewat, batang hidung tuh dosen belum kelihatan juga.
Kalau bayar mahal SPPnya
cuma buat ketemu kursi kosong, ngapain? Dirumahku juga banyak tuh kursi kosong.
Aku
mahasiswa pascasarjana di Magister Pendidikan IPS Universitas Lampung,
mayoritas teman kuliahku rata-rata sudah bekerja semua, guru dan juga telah
berumahtangga. Kuliah pascasarjana ini bagi sebagian dari kami hanya karena tuntutan
pekerjaan sebagai salah satu syarat untuk naik pangkat atau golongan bagi PNS.
Kami
berasal dari berbagai kabupaten diLampung, ada yang dari Pringsewu,
Tulangbawang, Kotabumi, Metro, Bandarlampung, Waykanan, bahkan ada juga yang
dari Palembang. Karena itu rasanya menyebalkan banget jika kami sudah sengaja
berangkat dari rumah eh dosennya gak masuk tanpa ada pemberitahuan dahulu.
Akhirnya
untuk mengisi waktu jam kuliah yang kosong itu, aku mengerjakan pekerjaanku
sebagai guru SMK, input nilai rapor, karena minggu depan sudah pembagian rapor.
Aku memang gak terlalu suka menghabiskan waktuku hanya untuk ngobrol ngalor
ngidul gak jelas, walau bukan berarti aku tipe yang serius, hanya jika udah menyangkut tugas kuliah dan
pekerjaan, aku selalu berusaha melakukan yang terbaik. Aku rasa setiap orang
juga berpikir yang sama.
Tiba-tiba handphoneku bergetar, ada sms masuk. Hmm....dari nindya atau biasa dipanggil Tiwi, anak angkatku yang kebetulan kuliah juga di Fakultas Fisip Unila, aku biasanya setiap istirahat atau kalau capek bolak balik Metro-Bandarlampung sering milih nginap di tempat kostnya, sebenarnya sih buat ngirit bensin juga.....hahahaha.....
“Nda,
aku mau izin pergi ya....” Bunda memang panggilanku baik oleh murid-muridku,
anak-anak angkatku baik yang dari dunia Maya ataupun mereka yang kenal dengan
diriku, bahkan teman kuliahku juga memanggilku dengan sebutan itu.
“Wah,
berarti istirahat nanti Nda terdampar dikampus dong....”
“Ini
teman-teman mau ngajakin pergi....”
“Kemana?”
“Gak
tau, belum ada tujuan juga. Lagipula gak ada kendaraan....”
“Hm,
dosen nda juga gak masuk nih....”
“Emang
pada kemana Nda?”
“Gak
tau pada kemana. Nih Nda ngerjain isi rapor
aja daripada bengong, ke Kiluan yo?” Entah darimana tuh pikiran tiba-tiba aku
ngajakin dia ke Kiluan, salah satu tempat wisata di Lampung, tepatnya di Kec.
Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus. Sebenarnya aku iseng aja, karena ingat dia
pengen banget kesana, dan karena sikonnya belum mendukung aku belum bisa
menepatin janjiku untuk ngajak dia kesana.
“Ini ada 6 orang, beneran mau ke Kiluan? Beneran Nda?
Mauuuuuu......” Gubrak, aku tepuk jidat temanku, soalnya kalau tepuk jidatku
sendiri kan sakit. Ya ampun, aku kan cuma iseng ngomongnya, tapi lihat balasan
smsnya yang antusias dan senang banget seperti itu rasanya aku jadi gak tega
kalau sampai membuyarkan rasa bahagia dia. Pyiuuuh, mana bawa duit pas-pasan
cuma buat kuliah dua hari doang.
“Apa
bunda bawa mobil?” tanya Tiwi.
“Bawa mobil....”, balasku. Mobilku sejenis
minibus, toyota avanza yang bisa menampung sekitar 8 orang. Cukuplah untuk kami
tanpa harus berdesak-desakan duduknya. Sementara itu otakku berpikir keras,
bagaimana caranya agar aku gak buat dia dan teman-temannya kecewa. Kami HARUS
PERGI.
Aku lihat teman-teman kuliahku siapa kira-kira yang bisa aku pinjam uangnya, sialan....teman yang biasa tempat aku pinjam malah lagi gak masuk pula. Dan rasanya gak enak kalau pinjam dengan orang yang aku gak dekat banget.
Akhirnya
aku sms Tiwi, aku bilang yang sebenarnya kalau aku lagi gak pegang uang banyak,
tapi kira-kira dia ada simpanan apa gak, nanti aku ganti. Aku memang biasa
jujur dengannya, gak ada yang aku tutupin darinya. Alhamdulillah, temannya si
Rano ada uang simpanan, jadi aku bisa pakai dulu uang Rano. Wah, Rano jadi Dewa
bagiku hari ini...hahahaha......
Hanya ada yang buat aku galau juga selain masalah uang,
diantara mereka yang ikut pada gak ada yang bisa nyetir, jadi hanya aku yang
bisa.
“Ade
ma Rinanda gak ikut yank?” Mereka
teman-teman Tiwi yang bisa nyetir.
“Mereka
pada gak bisa Nda, katanya Rinanda mau keWates dan Ade juga mau pergi.”
Waduuh,
yang bisa nyetir malah gak bisa ikut semua. Chiko katanya bisa, tetapi aku gak
pernah liat cara dia bawa mobil, sedangkan jalan ke Kiluan jelek banget. Aku
gak mau ambil risiko, lagipula jujur aku gak suka nyawaku ditangan orang lain.
Ya udah, berarti aku bakal full nyetir pulang perginya. Sedangkan jarak
tempuhnya kata yang udah pernah kesana sekitar 3-4 jam dari Bandarlampung. Tapi
Ok deh kalau aku sudah niatkan emang sulit buat dipatahkan, bagiku ini malah
sebuah tantangan sendiri apakah aku sanggup atau tidak melakukannya.
Aku kasih tau ke teman-teman kuliahku kalau aku mau bolos
kuliah karena mau ke Kiluan, salah satu temanku Ana langsung bilang:
“Bun,
besok pagi kan ujiannya Pak Edi, Assesment.....” Aku kaget juga dengarnya.
“Gak
salah yank?” (aku memang biasa panggil orang-orang yang aku kenal dengan
panggilan “yank” dari kata “sayang”, awalnya sih karena aku sering kesulitan
nghafalin nama murid-muridku yang jumlahnya ratusan orang, jadi supaya aman aku
panggil dengan panggilan seperti itu, jadi gak bakal keliru salah
panggil.....hahahaha, eh terus jadi kebiasaan deh dengan siapa saja aku selalu
panggil seperti itu, tapi panggilan itu juga bisa menimbulkan rasa kedekatan
dengan mereka).
“Benar
Bun, udah lain kali aja looo....sayang banget kalau sampai gak ikut ujian....”
“Duh,
gimana nih?” pikirku dalam hati. Rasanya aku gak tega kalau ngebatalinnya,
karena aku juga udah pernah ngebatalin rencana ke Kiluan ini bulan kemarin,
masa mau batal lagi sih....bisa dibilangin PHP aku dengan mereka. Dan aku gak
ingin mengecewakan mereka. Sudahlah tentang besok nanti aja mikirinnya sekarang
berangkat aja dulu.
Terlalu
banyak mikir malah buat mumet aja.
“Bunda
tetap berangkat yank, nanti PP aja atau besok subuh pulangnya. Jadi masih bisa
ikut ujian,” Ana geleng-geleng kepala liat aku tetap bersikeras mau pergi ke
Kiluan.
“Bun,
Kiluan itu jauh.....mana jalannya rusak banget......nekad kalau PP, ditunda aja
kenapa toh?”
Aku
cuma senyum aja, sambil masukin laptop ke dalam tas.
Tiba-tiba dosen mata kuliah EBK jam kedua masuk.
“Alamak......gimana nih?” pikirku. Masalahnya
kalau aku keluar tanpa bawa tas sih masih bisa kabur, ini aku bawa tas ketahuan
banget kalau mau perginya.Akhirnya aku nekad aja dengan santai aku keluar
ngelewatin tuh dosen. Mana dia ngelihatin aku pula.
Masa
bodoh aaaaah.....Kiluan, I’m coming!!!
Teman-teman
kuliahku pada ngelihatin semua, karena bisa dikatakan aku termasuk rajin ikut
kuliah, sakit-sakit aja aku bela-belain tetap kuliah. Kecuali waktu aku lagi
tes ilmu di ruang ICU bulan oktober dulu, hahahaha.......
“Woiiii
Bun, mau kemana lu?” tanya sebagian dari mereka. Aku cuma senyum aja sambil
melambaikan tangan.
II
|
S
|
esampainya aku di tempat
kost, mereka sebagian sudah kumpul. Teman-teman kuliahnya Tiwi: Chiko, Rendi,
Iid, Rano, sedangkan Kristy lagi pulang dulu kerumahnya. Jadi kami menunggu
Kristy. Aku bolak balik lihat jam tangan, karena aku ingin kami segera
berangkat biar gak terlalu kesorean sampai disana. Kami harus mengejar waktu.
Mana
ada masalah dengan salah satu temannya Tiwi yaitu Rendi, ibunya gak ngebolehin
dia nginap dan ngejebur di laut. Sedangkan dia pengen sekali bisa ikut. Hal ini
mau gak mau jadi pikiranku juga. Aku gak mau karena dia ikut kami terus dia
kena marah sama orangtuanya. Walau aku kasihan juga kalau dia sampai gak bisa
ikut. Tapi aku juga gak tau bagaimana situasinya nanti disana, jadi gak pasti
bisa pulang atau gak nanti malam. Kalau keadaan gak memungkinkan untuk pulang
yah terpaksa kami harus nginap disana, itu berarti dia bakal dapat masalah. Aku
juga kepikiran dengan ujianku besoknya. Wah, belum apa-apa udah ada macam-macam
masalah, baru juga lagi mau berangkat. Entah apa yang akan terjadi nanti.
Sebenarnya aku agak gak yakin dengan kepergian kami yang mendadak ini, karena dari tadi malam perasaanku gak enak banget, dan semakin jadi perasaan itu pagi ini waktu aku mau berangkat kuliah dari Metro. Bahkan di jalan sepanjang mau keBandarlampung, berulang-ulang aku berdoa, “Ya Allah, entah kenapa perasaanku gak enak banget hari ini....mudah-mudahan hanya sekedar perasaan, bukan sebuah tanda. Ya Allah....lindungilah keluargaku yang aku tinggalkan, dan jagalah aku selama aku jauh dari mereka....Lindungilah kami semua dari hal-hal yang buruk, Amin.”
“Coba
hubungi Kristy sih, koq lama amat,” kataku pada mereka.
“Ini
dia sms, udah di jalan katanya....”
“Paling
dia baru keluar dari pintu rumah Bun, tapi bilangnya udah dijalan....” kata
Chiko sambil ketawa.
Akhirnya
Kristy sms kalau dia nunggu kami di Halte Robinson Unila. Siiiip....Kamipun
langsung berangkat.
Setelah
menjemput Kristy yang diantar ma pacarnya. Kami ambil rute lewat Kemiling, aku nyuruh
mereka untuk makan siang dulu karena perjalanan kami masih jauh, dan
informasinya disana jarang ada warung makan sampai di Kiluan nanti.
Tiwi
sempat ngasih tau kalau teman-temannya pada mau sumbangan untuk uang bensin
mobilku, tapi aku bilang gak usah karena aku tau mereka hanya anak kuliahan
yang belum kerja, kasihan kalau mereka harus keluar uang banyak.
Lagipula
aku yang ngajak mereka, jadi biarlah ini tanggunganku, yang penting aku bisa
membuat mereka senang, terutama Tiwi, karena ini impian dia. Melihat wajahnya ma
teman-temannya bahagia kayak gitu rasanya gak rugi deh aku bolos kuliah hari
ini, walau sebenarnya dosen-dosen itu yang rugi sebab hari ini gak bisa melihat
wajah manisku...... hahahaha.
III
|
S
|
etelah makan dirumah makan
Padang dan membeli bekal untuk makan minum disana, sekitar jam 12.30 wib kami
berangkat. Awalnya sepanjang jalan lancar-lancar aja. Kami sempat mutar arah
balik lagi karena lupa ngisi bensin mobil, karena takut disana gak ada
pertamina. Kami kearah Padang Cermin melewati pantai Mutun, terus kearah pantai
Klara. Jalan belum banyak yang rusak, hanya tikungan-tikungan biasa yang masih
bisa aku lewatin. Aku sempat gereget juga, pengen banget memacu kendaraan
dengan kencang setiap melewati tikungan atau jalan yang agak lebar dan mulus,
tapi Kristy selalu langsung jerit-jerit setiap aku ngebut dikit.....hahahahaha,
kayak bawa emak gw aja, pikirku dalam hati.
Sedikit-sedikit
“amazing.....bunda amazing....” yaelaaa....untung gak ada lakban dimobil, kalau
gak Kristy pasti udah aku lakban biar aku bisa ngebut, hahahaha.....Saat itu cuaca
juga kurang cerah, hujan gerimis, hal itu membuat jalan jadi agak licin.
“Bun,
nanti aku tunjukin tempat biasa kami bilas kalau dari pantai Klara, sebenarnya
karena mau ngirit aja, gak mau keluar duit buat bayar kamar mandi.....hahahaha,”
kata Tiwi.
“Tapi
tempatnya bagus,” kata Rendi atau Chiko, aku lupa.
Sempat ada sedikit pertengkaran kecil antara aku dengan Tiwi pas dijalan, kebetulan dia duduk disebelahku. Setiap ada tikungan atau jalan yang menurun dia selalu bolak balik kasih peringatan ke aku, jujur itu malah buatku jadi gak konsentrasi, seperti anak kecil aja sedikit-dikit diperingatin. Aku juga tau mana yang bahaya atau tidak, apalagi bawa rombongan seperti itu tentunya aku akan lebih berhati-hati. Mungkin memang sikapku kelihatannya santai dan meremehkan, tetapi sebenarnya aku tetap konsentrasi dengan apa yang aku hadapi. Seharusnya dia hafal ma gaya bundanya, ckckckckck......
Akhirnya
aku ngebentaknya, sambil mengrem mobil,
”
Kalau gak kamu aja deh yang bawa nih mobil!!”
Tiwi
langsung diam, dan seketika aku langsung menyesal karena udah bicara keras
seperti itu padanya dihadapan teman-temannya. Aku juga tau dia paling gak suka
kalau ada orang yang bicara keras atau bentak-bentak dirinya. Aku mengerti
maksudnya baik agar aku lebih berhati-hati. Kemudian aku minta maaf padanya,
karena sudah berkata keras dengannya. Awalnya dia diam saja, terus aku
mengulurkan jari kelingkingku tanda damai. Rasanya gak enak kalau sampai kami
ribut sedangkan perjalanan masih jauh. Akhirnya dia mau juga terima jari
kelingkingku. DAMAI.....
Kristy
langsung ketawa liat kami kayak gitu, hehehe......kayak anak kecil emang pake
baikan dengan jari kelingking saling berkaitan begitu.
Kalau
Kristy lain lagi cara kasih peringatan ma aku, setiap aku agak ngebut dia
bilang gini: “Bunda nih gak bisa banget liat jalan agak mulus ma lebar
dikit....”
Atau
setiap jalan udah mulai menyempit, dia bilang: “Jalan menyempiiiiiiiiiit......”
hahahaha, teguran halus buatku untuk ngurangi kecepatan.
Kalau
yang cowok-cowoknya malah sibuk provokatorin aku supaya ngebut bawa mobilnya,
”Hayoooo
Bun.....hayooo....yang kencang bun....” tapi Kristy sibuk jerit-jerit
sih....lagipula aku ingat mereka kan baru makan, kalau dibawa ngebut nanti
malah jadi mual, bahaya kalau sampai muntah dimobil. Sayang mobilnya, hahahaha.....
Kasihan
juga ma Chiko, dia duduk dibelakang dan karena badannya tinggi setiap aku
ngebut dan lewat jalan yang jelek kepalanya selalu benturan ma atap mobil.
Hadeuuuuh....kenapa gak dilipat aja makanya tuh badan biar bisa pendekkan dikit.
Si
iid mah dijalan lebih banyak diamnya, mungkin lagi sibuk zikiran dalam
hati....supaya kami selamat sepanjang jalan ke Kiluan, dia udah pernah ikut
mobilku jadi dia tau banget gimana caraku bawa mobil. Makanya kalau dia diam
dan sibuk berdoa dalam hati, ya aku bisa maklum....hahaha...
Sementara
Rano juga lebih banyak diam, mungkin lagi ngumpulin tenaga buat siap-siap
nyebur di Laut nanti.
Yang
lucunya, si Kristy karena takut jatuh kedepan (dia posisi duduk dideretan kedua
dan ditengah), badannya dililitin pake sabuk pengaman, yang akhirnya malah buat
dia susah sendiri kalau yang dari belakang mau keluar dari mobil, ada-ada aja.
Dimobil aku kan setel lagu-lagu Geisha yang mellow itu....si Rendi yang suka banget, dia minta dikerasin suara musiknya, teman-temannya pada ngeledekin dia, karena ada bagian dari lagu-lagu itu yang cocok ma kisah percintaannya Rendi.....Cieeee, cieeee....
Setelah
melewati Pantai Klara, kami memasuki kawasan pangkalan TNI AL. Kami sempat
berhenti sebentar di ATM BNI yang ada dipinggir jalan. Kebetulan Rendi dan Rano
juga udah kebelet, jadi ini kesempatan buat mereka bagi-bagi rezeki dimesjid
terdekat......hihihihihi....
Terus
ada bapak-bapak yang sempat menanyakan kami mau kemana. Setelah tau kami mau ke
Kiluan, dia bilang sayang kalau Ke Kiluan bawa mobil kayak mobilku itu, karena
jalan disana rusak banget. Waduuuuh......pikirku.....
Pangkalan
TNI AL
Saat memasuki persimpangan di Pangkalan TNI AL, kami ambil
jalur yang sebelah kiri menuju pangkalan AL/ bumi marinir atau Punduh Pidada. Sambil
berbelok, mataku sempat melihat sekilas ada tentara muda disitu yang tampangnya
manis, sayang amat tuh orang terdampar disini pikirku, cuma aku diam aja gak
bilang ma Tiwi, karena aku sudah bisa bayangin pasti dia ngomong gini:
“Ya ampun Bundaaaa.......sempat-sempatnya tuh mata
liat yang kayak gitu.....uuuuuh....”,
Ya namanya juga manusia normal, wajar atuh bereaksi
terhadap hal-hal yang menarik mata, itu namanya proses alam.
Kebetulan Kristy pernah ke Kiluan, walau udah lama
tapi sedikit-sedikit dia masih ingat rutenya. Penunjuk jalan ke Kiluan juga
hanya berupa papan kecil yang kalau terburu-buru bisa terlewatkan oleh mata. Berapa
kali Chiko memintaku untuk berhenti dulu kalau aku merasa capek. Tapi semua
masih terasa biasa aja bagiku,
“Bunda tau sampai dimana batas kemampuan bunda, kalau
bunda gak berhenti berarti bunda masih kuat....”kataku pada mereka.
Berulang-ulang Tiwi juga nanya ke
Kristy, masih jauh gak Kiluan itu. Terus aku bilang setengah meledeknya, “yynk
bisa sabar nahan pengen ke Kiluan berbulan-bulan, masa nahan beberapa jam aja
gak bisa sih?” Lepas
dari kawasan pangkalan TNI AL atau setelah melewati Punduh Pidada mulailah
banyak rintangan dijalan.
Jalan yang kami lalui sebagian besar rusak berat, banyak kubangan air yang rata-rata lebar dan cukup dalam karena saat itu mulai masuk musim hujan, jalan grompal dimana-mana, belum lagi sebagian besar jalan masih menggunakan batu kali yang besarnya sebesar buah kelapa, ditambah tikungan-tikungan tajam yang membuatku harus ekstra hati-hati dan waspada setiap saat. Selain tikungan yang tajam, ditambah lagi alur jalan yang menanjak dan menurun karena masuk daerah pegunungan membuatku kesulitan melihat ada tidaknya kendaraan dari arah depan.
Ada beberapa pemandangan yang menurut kami lucu juga, kami berapa kali papasan dengan rombongan ibu-ibu, tetapi mereka bawahannya pada pake kain atau sarung gitu....adat kebiasaannya masih kuat kalau ada acara-acara tertentu disitu. Aku bayangin gimana kalau gaya gitu diterapkan dikota besar, waaaaah, beribet kayaknya....
“Gimana
Bun, jalannya?” tanya Kristy berulangkali, karena aku selalu menjawab kalau
jalan itu rusaknya belum apa-apa. “Ah, masih biasa aja koq.....ini mah belum
parah banget...,” jawabku sambil tetap fokus melihat jalan didepan. Sebab selip
sedikit mobil bisa terperosok kedalam lobang dijalan. Aku juga pakai insting
aja mengira-ngira mana kubangan yang gak terlalu dalam untuk aku lewatin.
Genangan air membuat jalan tidak jelas dalam atau dangkal lobangnya.
Dan
yang lebih ekstrim serta memacu adrenalin adalah, karena sepanjang pinggiran
jalan adalah jurang-jurang yang tanpa batas pengaman dan hutan besar, sedangkan
jalan yang ada lebarnya hanya pas untuk dua mobil bersisian, itupun sulit
dilakukan sebab licin terkena air hujan dan karena parahnya jalan.
Sebalnya,
kami merasa sudah berjalan berkilo-kilometer, tetapi kenyataannya dari penunjuk
jalan bahwa kami hanya baru melalui 3-4km saja. Contohnya ada penunjuk jarak
tertulis 32 km lagi, jadi kami perkirakan sekitar kurang lebih 1 jam lagi kami
sampainya. Terus setelah berjalan jauh
yang kami perkirakan sekitar 20-25km, ternyata ada plang penunjuk jarak
tertulis: KILUAN 21km. Jiaaah.....berarti baru berapa kilometer aja yang kami
tempuh. Gubraaak banget deh.....
Pokoknya setiap kami lihat penunjuk jalan menunjukkan berapa kilometer lagi yang harus kami lewati, langsung saja kami ngoceh-ngoceh gemes sendiri, seperti dipermainkan. Masyaallah......kapan sampainya kalau begini, pikirku dalam hati.
Melewati jalan rusak seperti itu benar-benar menguras energiku, 1km jalan yang rusak sama seperti melalui 3-4km jalan yang mulus. Kami sempat juga ketemu rombongan penduduk disana yang sedang memperbaiki bagian jalan yang termasuk rusak berat dengan menggunakan batu kali yang ada. Memang parah banget jalan disitu, rasanya ikhlas kami memberi mereka sekedar uang rokok asal tuh jalan jadi mendingan untuk dilewati. Yang SEMANGAT ya Pakde, Oom, Kangmas......cemunguuut, cemunguuut....
Lagi-lagi
Tiwi nanya ke Kristy kapan sampainya di Kiluan.
“Pokoknya
kalau gunung itu sudah gak kelihatan lagi baru kita sampai....,” jawab Kristy.
Aku lihat kedepan, wah gunungnya masih terlihat jelas banget seperti
mengejekku, berarti masih lama.
“Bunda
capek?” tanya Kristy. Hahahaha....pertanyaan yang aku rasa gak perlu aku jawab.
Mereka yang cuma duduk aja udah ngerasa capek, apalagi aku yang harus
konsentrasi nyetir, dimana kaki dan tanganku harus bergerak berulang-ulang
antara kopling, gas dan rem, belum lagi punggung yang harus tegak karena biar
bisa lihat jalan dengan jelas. Tetapi jujur, aku menyukai perjalanan ini,
karena ini semacam tantangan bagiku. Lagipula aku memang senang menyetir, bisa
membuatku teralihkan dari hal-hal yang lagi tak ingin kupikirkan. Aku suka
dengan kegiatan yang memacu adrenalin, hahahahaha.....jiwa petualangnya terlalu
kuat.
Akhirnya kami sampai dijalan yang membuat kami semua benar-benar kaget, karena jalan yang kami hadapi bukan lagi parah, tapi rusaknya sangat, amat berat, benar-benar super hancur....
Ada
bagian alur jalan yang membuatku harus berjibaku dan menuntut konsentrasi tinggi
serta doa yang banyak-banyak, karena jalan itu bentuknya menanjak, berliku-liku
serta terbelah dua, retak dan dalam, disebabkan ada aliran air yang melewati
jalan tersebut dari arah gunung, sedangkan pinggirannya sebagian jalan grompal berbatu-batu
atau tanah yang becek dan licin.
Sebelah
kiri kami hutan dengan sebagian tanah tebingnya longsor terkikis terbawa air, karena
hujan.
Sedangkan
sebelah kanan kami adalah jurang yang membentang dalam dan curam, gak bisa
dibayangkan kalau mobil kami terjun bebas kebawah, dan aku gak ingin membayangkannya,
bahkan niat membayangkannya pun jauh-jauh aku singkirkan -,-“
Jadi
aku harus pintar-pintar memilih jalan yang bisa dilalui atau mobil kami
terpeleset masuk jurang. Anak-anak langsung terlihat panik, aku tahu saat itu
kami memiliki pemikiran yang sama, apa kami bisa melewati semua itu?
Tiwi
yang posisi duduk depan disebelahku tentu saja dengan jelas melihat bagaimana
rusaknya jalan yang harus kami lewati, aku bisa merasakan ketegangannya juga
yang lainnya. Aku tahu mereka takut, obrolan dan becandaan seperti saat
berangkat sudah mulai hilang, semua fokus dengan jalan yang kami hadapi
didepan, karena itu aku berusaha tetap tenang sebab mereka semua bergantung dan
berharap banyak pada diriku.
“Bismillah.....Ya Allah, lindungi kami semua,”
bisikku dalam hati. Sempat juga terbayang keluarga kecilku, anak-anakku, Abang
dan Kaka. Ya Allah, mereka gak tau kalau bundanya sedang menghadapi perjalanan
yang berbahaya seperti ini, jika sampai terjadi hal buruk pada diriku mereka
gak tau....(iih, kayak sinetron jadinya...).
Kalau aku amati, posisi kami seperti menyeberang dari gunung yang satu kegunung yang lain, makanya jalannya berbentuk melingkar, naik turun.
Mana
di daerah pegunungan ini sinyal handphone hilang, gak ada rumah penduduk
satupun, benar-benar masih alam liar, kendaraan yang lewat hanya 1-2 saja,
membuat kami terputus komunikasi dengan dunia luar.
Tapi
pada dasarnya aku memang tipe yang selalu optimis, sudah sering aku berhadapan
dengan nyawa diujung tanduk. Aku selalu yakin dengan kebesaran dan kasih sayang
Allah pada diriku. Jika selama ini Beliau selalu memberiku kekuatan dalam
menghadapi setiap ujian hidup yang kuhadapi, maka aku yakin Beliau juga akan
melindungiku saat ini.
Dengan bantuan Tiwi yang menjadi navigator dadakan, aku perlahan-lahan mengendarai melewati jalan tersebut. Benar-benar semua keahlianku menyetir terujikan disini. Tantangan. Dan bagiku ini malah lebih menantang daripada saat aku bertahan hidup diruang ICU. Sebab bukan nyawaku saja yang harus kuselamatkan, tetapi ada 6 orang yang nyawanya tergantung pada keahlianku menyetir (sayang, gak sempat didokumentasikan sebagai bukti....hahahaha, di ICU aja aku sempat foto-foto, Iiiih...lagipula dengan keadaan seperti itu siapa pula yang terpikir mau ambil foto atau video? (Hadeuuh....buun...buun, pasti mereka pada ngomong gitu).
Semua jalan itu gak ada yang baik, jadi aku hanya memilih yang kira-kira paling kecil risiko bahayanya. Tanganku sudah seperti bermata saja, meliuk-liuk secara otomatis mengendalikan stir mobil, mencari jalan yang layak dan bisa dilalui.
Alhamdulillah, kami bisa melewati bagian yang
mengerikan tersebut. Tetapi bukan berarti kami sudah boleh tenang, karena jalan
masih lumayan buruk sampai didaerah desa Bawang.
Dan
Ya Allah.....masih ada satu ujian lagi untukku sebagai sopir, yaitu
menyeberangi sungai berbatu. Karena jalan yang biasa dilewati sedang
diperbaiki, dibuatkan jembatan. Jalan dari tanah serta becek penuh kubangan
air, membuat jalan menjadi licin dan kalau tidak hati-hati kendaraan kita bisa
nyangkut disana.
Anak-anak
sudah sibuk dengan celotehan mereka karena sama kagetnya seperti aku. Posisi
sungai itu tepinya tinggi sekitar 1meter dengan posisi yang gak terlalu miring,
agak tegak lurus gitu. Jadi aku harus mengendarai mobil terjun kedalam sungai
tersebut, yang kebetulan ketinggian airnya hanya kurang lebih sejengkal, terus
menyeberang dengan posisi menanjak. Dan aku gak tau gambaran jalan yang ada
diatas. Aku malas mau turun, malas basah kakinya. Jadi aku spekulasi aja
deh..... J
“Lebih
baik kalian turun dulu, takut gak kuat nanjaknya,” kataku sama mereka. Dengan
cepat mereka segera menuruti kata-kataku. Dan sekali lagi Tiwi sebagai pemberi
arah untuk jalan yang harus aku ambil. “Bunda, ambil sebelah kiri terus
kekanan....” sementara yang lain berjaga-jaga dibelakang mobilku. Petunjuk dari
Tiwi itu aku turutin. Aku kira-kirain saja kecepatan gas mobil untuk bisa
melewati tepian sungai itu. Dan, sekali lagi aku lulus ujian.......
Anak-anak
langsung lega melihat mobil udah nyeberang sungai.
“Bunda
keren, kereeeeen banget.....” kata mereka sambil acung jempol.
Pyiuuuh.....kalau kerennya karena melewati bahaya kayak gini, hadeuuuh.....gak
usah deh, makasih....
Dari sana, kami terus melewati jalan tanah dengan sawah-sawah dipinggiran jalan hingga kami sampai disuatu pasar yang namanya Pasar Bawang. Dipersimpangan pasar Bawang, kami ambil jalan yang sebelah kanan sampai dipersimpangan terakhir, kami mengikuti berdasarkan petunjuk jalan yang ada. Rumah-rumah penduduk disini mulai rapat, dengan bentuk yang sederhana, sebagian besar rumah berbentuk panggung. Halamannya ditutupin dengan batu sungai, untuk menghindari tanah yang licin dan berlumut, sebab kalau musim hujan posisi tanah menjadi becek dan licin.
Banyak
anak-anak yang bermain di jalan, hewan peliharaan juga dengan bebasnya
berkeliaran dijalan. Disini jalannya berkerikil.
Akhirnya gapura Teluk Kiluan Kelumbayan, Kab. Tanggamus
terlihat juga oleh kami. Horeeee........Legaaa.... Setidaknya kami bisa mencapai
teluk Kiluan ini walau sulitnya jalan yang kami tempuh. Kemudian kami turun
sebentar untuk foto-foto, dan kalau sudah foto-foto gitu apa yang kami alami
sepanjang jalan tadi seperti hilang gak ada bekasnya, hahahahaha.....
Dan sebenarnya ini salah satu cara kami melepaskan
ketegangan selama dijalan tadi. Cara rileksisasi yang menyenangkan.
Apalagi alam sekitar dapat mengobati rasa lelah. Hanya
satu kata yang bisa aku katakan. Indah. Karena dengan posisi diatas gunung
seperti itu, kami bisa melihat pemandangan yang ada dibawah.....laut dan
bukit-bukit karang, pengunungan disekitarnya.
Setelah
foto-foto, kami melanjutkan perjalanan. Melewati gapura masuk Teluk Kiluan ada jalan
kecil disebelah kiri yang menurun tajam dengan bagian tengah yang rusak berat. Pinggiran
jalan masih jurang yang terjal dan disebelahnya tebing hutan. Memang itu jalan
cor semen, tetapi tampaknya yang mengerjakan jalan itu banyak korupsinya,
sehingga takaran semennya kurang. Makanya jalannya udah pada rusak seperti itu
-,-“
Setelah menuruni turunan tajam tersebut, tampak oleh
kami perkampungan dan rumah-rumah orang Bali. Di Kiluan memang banyak orang Bali
jadi jangan heran akan banyak gapura-gapura dan pura khas bali disini. Jalannya
kecil tapi cukup untuk dua mobil bersisian. Setelah melewati perkampungan orang
Bali, akhirnya sekitar jam 15.35 wib kami sampai juga di Teluk Kiluan.
Ya ampuuuuuun......kami benar-benar berada di TELUK KILUAN!!! Kayak MIMPI rasanya, padahal beberapa jam yang lalu aku masih duduk di ruang kuliah UNILA dengan badmood, sekarang sudah di daerah Tanggamus!! Buset deh.....Dan rasa lelahku langsung hilang begitu melihat wajah Tiwi yang kelihatan senang banget, begitu juga teman-temannya. Mungkin mereka gak menyangka hari ini mereka bisa menginjakkan kaki mereka di Teluk Kiluan juga akhirnya, padahal tadi kumpul-kumpul dikostnya Tiwi tanpa punya tujuan yang pasti mau ngapain....hahahahaha....
Makasih Ya Allah, aku bisa memberi kebahagiaan untuk mereka.....rasanya
letih yang kurasa raib entah kemana.
IV
|
K
|
ami
parkir mobil di halaman rumahnya Pak Yon, salah satu penduduk disana yang juga
punya bisnis menyewakan tempat penginapan untuk pendatang serta menyediakan
tempat penitipan kendaraan.
Setelah bincang-bincang sejenak menanyakan ongkos naik
perahu untuk menyeberang kepulau kelapa dengan tukang sewa perahu, akhirnya
kami pun sepakat. Biaya nyeberang Rp. 15.000/orang. Kapasitas perahu sanggup
menampung sampai dengan sekitar 10 orang, kecuali bagi mereka yang dengan
ukuran tubuh overweight sih.....
Ada lucunya juga si Rendi kan minta nomor HP si tukang
perahu, biar kami bisa nghubungi dia pas minta jemput dari pulau, Rendi save
dengan nama “Oom Kiluan”, hahahaha....., aku langsung tanya nama si tukang
perahu.
“Mas, namanya siapa ya? Masa nomornya disimpan ma dia
dengan nama “Oom Kiluan”, kataku sambil nunjuk Rendi.
Tukang perahunya ketawa,”ROBI....”
Jiaaah, keren amat namanya, terlalu bagus.....aku
pikir namanya Dullah, Joni atau paling bagus Beni....kataku dalam hati.
Saat naik perahu, sempat terjadi insiden. Karena posisi perahu yang bergoyang-goyang, Iid saat naik perahu menjadi oleng badannya. Dia langsung berusaha meraih apa saja yang ada didekatnya untuk pegangan agar gak kejebur dalam laut. Kebetulan aku berada diposisi sampingnya, sehingga bahuku yang dia pegang. Tetapi karena posisinya udah miring banget pegangannya terlepas.Jebur deh Iid..... Otomatis tangan kananku memegang tangannya, berusaha menahan agar kepala Iid bisa ketahan gak masuk kedalam air. Sementara itu Chiko yang sudah naik dan duduk dekat tukang perahu dengan sigap langsung loncat turun meraih badan Iid, sambil memeluk Iid tangannya juga berusaha mengambil handphone iid dari saku celananya agar gak masuk air, untung gak salah ambil ma pegang ya Ko?
Wah, kagum juga aku lihat kesigapan Chiko, karena dia
bisa cepat mengambil tindakan seperti itu, sementara yang lain masih terpana
lihat Iid mendadak seperti putri duyung
yang lagi jebur dalam laut......1 point nilai Chiko naik
dimataku....hahahahaha, yang gelinya Kristy pikir Iid lagi becanda, jadi dia
malah bengong liatin muka Iid. Wah, yang jelas Iid udah tes duluan tuh laut,
gak sabaran dia pengen cepat-cepat nyemplung.....
Setelah semua naik perahu (kasihan juga liat iid yang basah kuyup gitu, mana gak bawa salinan baju pula, aku sih bawa baju salinan untuk nginap tapi aku tinggal dimobil, sedangkan kami kan gak mungkin putar haluan lagi perahunya cuma buat ngambil tuh baju), akhirnya kami mulai berlayar......jiaah, berlayar bahasanya.
Yang duduk paling depan si Rendi, trus Rano, Iid, aku,
Kristy, Tiwi, Chiko, dan Robi situkang perahu (ya dia pasti
ikutlah.....hahahahaha).
Perjalanan naik perahu ke pulau Kelapa memakan waktu sekitar
kurang lebih 15 menit, mana si Robi bawa perahunya agak ngebut sehingga air
laut muncrat-muncrat kearah kami. Ngejar setoran banget tuh orang.... -,-“
Sambil menikmati pemandangan yang ada aku sibuk
ngambil foto-fotoku diatas perahu, yang buat Tiwi jadi jerit-jerit marahin aku
karena kuatir aku dan Hpku jatuh (kayaknya dia lebih sayang Hpku yang jatuh deh
daripada bundanya yang jatuh -,-“).
Begitu turun kami disambut bapak-bapak penjaga pantai
disitu, dia meminta kami membayar tarif masuk Rp.5000,-/orang. Dan kalau kami
mau nginap, cottage disitu ditawarkan Rp.200.000. Cottagenya terbuat dari
papan, berbentuk kamar-kamar seperti kost-kostan. Kamar mandinya aku lihat
masih seadanya. Kamar mandi untuk umum malah bentuknya sederhana banget. Ada
beberapa tempat sampah disetiap sudut tapi rupanya masih banyak orang yang
belum ada kesadaran tentang kebersihan, karena masih banyak sampah bekas snack
atau makanan yang tercecer dipinggiran pantai.Sayang banget.....
Disitu sudah ada beberapa pengunjung yang bermalam
termasuk ada sepasang muda mudi yang seperti sedang menikmati bulan madu, tapi
gak tau juga sih mereka suami istri atau bukan -,-“ ini termasuk jadi bahan
guyonan kami, karena tuh cewek pake celana pendek yang sexi banget.....trus
cowoknya seperti masih keturunan arab gitu dengan hiasan brewok diwajahnya, yang buat Kristy terpana (hayoooo......apakah
yang ada dalam pikiran Kristy? Tanda tanya BESAAAAR....hahaha).
Tawaran untuk nyewa cottage belum
kami ambil, karena kami masih mau lihat sikon dulu, kami belum pasti mau nginap
atau gak. Chiko dan Rano langsung ganti baju yang sudah mereka persiapkan untuk
main dilaut, Iid kekamar mandi mengganti celananya yang basah karena jadi putri
duyung tadi, untung dia pake legging, jadi celana luarnya bisa diangin-anginin
dulu biar gak terlalu basah.
Sementara itu barang bawaan kami letakkan di
pondok-pondokan terbuka tempat duduk yang ada disitu, tetapi barang berharga
aku suruh simpan diranselku biar dibawa jangan ditinggal demi keamanan, karena
disitu gak ada yang jaga.
“Sini bun, biar chiko yang bawain ranselnya....,”
Chiko menawarkan bantuan. Anak baik..... #lirik Rendi dan Rano.
Kemudian kami menyusuri pantai
disebelah kanan, karena kami gak tau kalau disebelah kiri lebih indah pantainya Chiko dan Rano langsung khilaf liat air laut,
sementara Rendi gak berani nyebur karena udah diwanti-wanti ma enyaknya supaya
gak jebur kelaut, pokoknya gak boleh basah, hahahahaha.......susah jadi anak
mami....Akhirnya dia menemani Kristy (dan ini emang yang Rendi harapin, bisa
berdekatan dengan Kristy terus.....hahahaha, dasaaaar.... ).
Sedangkan aku bertiga Iid dan Tiwi sibuk foto-foto
dikarang yang ada disitu, walau resikonya kakiku dengan kaki Tiwi jadi kegores
karang disana, lumayan pedih juga. Kompak amat emak ma anak sama-sama luka kena
karang -,-“
Hanya sayang cuaca saat itu mendung, yang membuat kami
gak bisa menikmati sepenuhnya keindahan disana. Ombak disana besar-besar dan termasuk
tinggi, sehingga walau kami sudah diatas karang yang tinggi tetap aja
kecipratan airnya. Dan karena posisiku saat itu melindungi Tiwi, badanku kena
cipratan air, lumayan buat dingin.....yang jelas jadi BASAH, hahahaha....
Berapa kali juga kami peringatin Chiko dan Rano agar
gak terlalu ketengah karena ombaknya besar gitu, khawatir aja mereka terseret. Maklum
mereka berdua kan kurus-kurus, jadi mudah keseret ombak.
Tapi Chiko
keliatan banget penasaran pengen naik kekarang yg merupakan salah satu ciri
khas diTeluk Kiluan itu. Dan horeeee......walau dengan susah payah berapa kali
keseret ombak balik kepantai Chiko berhasil juga naik kekarang tersebut.
Siiip.....salah satu pengamalan dari 18 nilai karakter bangsa sudah Chiko
terapkan: Kerja keras. (Hahahaha.......kata-kataku keliatan guru banget sih....).
Sementara melihat mereka bermain-main dengan air laut, aku duduk diam sambil memikirkan bagaimana caranya supaya kami gak usah nginap tetapi langsung pulang saja.
Dan ujian mata kuliah Assement besok benar-benar gak
bisa pergi dari pikiranku. Karena itu termasuk makul yang paling sulit aku
pahami, ditambah dosennya kalau pas ngajar sering kayak anak autis, asyik dengan
dunianya sendiri....., mikirin bakal ngikut ujian susulannya aja udah buat aku
pusing duluan, lebih pusing daripada ngelewatin jalan yang hancur pas ke Kiluan
tadi.
Tapi aku juga bisa lihat cuaca gak bagus, mendung
banget tanda mau hujan. Aku melakukan perhitungan, kira-kira kalau pulang dari
Kiluan sebelum malam bisa gak ya? Bagaimana situasi dijalan kalau malam hari
gini? Siang yang terang aja udah sulit melewati semua rute itu, apalagi malam
hari dimana cuaca mulai gelap.
Aku bertanya-tanya dengan diriku sendiri: “Apa kamu
sanggup melakukannya? Jika terjadi hal yang buruk dijalan bagaimana? Hanya kamu
yang berpengalaman nyetir, apa kondisi fisik kamu kuat bolak balik nyetir
selama 9 jam lebih? Bagaimana kalau mobil kamu rusak dijalan? Sedangkan ada
bagian rute yang lokasinya benar-benar terkucil dan terputus dari dunia luar,
sehingga sulit meminta bantuan. Kamu tuh bawa anak orang, kalau ada apa-apa
dengan mereka bagaimana?”
Aku melihat mereka satu persatu. Wajah-wajah yang sedang bahagia. Saat bermain seperti itu, mereka terlihat seperti bocah-bocah yang tanpa beban.
Lalu aku memutuskan untuk balik kepondok, aku ajak
anak-anak biar mereka makan dulu bekal yang kami bawa. Sementara kami makan,
Tiwi sibuk mengabadikan pemandangan di Kiluan baik dengan foto maupun video.
Aku memperhatikan Rendi, dia terlihat senang ikut
kami, tapi aku bisa lihat dan rasakan
kalau sebenarnya dia kepikiran kalau kami sampai nginap. Walau dia bilang gak
apa-apa, pasti perasaan khawatir bakal kena marah orangtuanya tetap ada. Hanya
dia gak enak aja kalau kami semua terpaksa pulang gara-gara dia. Sedangkan
situasi jalannya seperti itu.
Akhirnya aku katakan pada mereka bahwa aku memutuskan untuk pulang sekarang. Anak-anak hanya menurut saja apa kataku, karena bagaimanapun aku yang mereka ikutin.Selesai makan kami siap-siap mau pulang, tukang perahu sudah dihubungi untuk menjemput kami.
Saat itu jam menunjukkan sekitar pukul 17.00. Aku tau
mungkin Tiwi agak kecewa karena gak bisa melihat sunset, tetapi semua sudah aku
pertimbangan baik-baik. Ya setidaknya sebagian harapan dia sudah aku penuhin,
bisa datang keTeluk Kiluan.
Diatas perahu yang membawa kami kembali keTeluk
Kiluan, kami melihat awan semakin hitam, gerimispun mulai turun. “Gimana nih
Nda? Gelap banget awannya....” kata Tiwi. Aku diam aja, hanya berharap jangan
hujan deras sekarang, setidaknya sampai kami melewati rute-rute yang sulit
dijalan nanti.
Dengan terburu-buru kami dari pantai langsung lari
ketempat mobil kami diparkir. Aku bilang sama Bu Yon tempat kami nitip mobil,
bahwa kami mau pulang saat itu juga, dia menatapku dengan heran,
“Gak jadi nginap Bu?”
Aku jawab, “Gak Bu, kami pulang aja.....” Tiwi nanya
ke ibu itu, “Memang kalau jalan malam susah ya Bu?” Ibu itu sambil senyum,”Iya,
kalau hujan sungai tempat lewat itu
sering banjir.....jadi gak bisa lewat”.
Aku ngelihat mereka, ”Ayooo....kalau gitu kita pergi
sekarang mumpung masih terang dan belum deras hujannya...”
Karena mengejar waktu, jangan sampai ketemu gelap
didaerah yag parah banget jalannya, kami semua langsung berangkat.
Ada diantara mereka yang bertanya,”Bunda ngrasa yakin
gak nih?” Hmm....aku selalu yakin dengan diriku, terlalu yakin malah J. Kalau aku tetap nekad ngajak pulang magrib itu juga
karena semuanya sudah kupikirkan. Mungkin aku memang suka mengambil risiko,
tetapi semua pakai perhitungan. Saat itu waktu menunjukkan pukul sekitar jam
18.00 wib.
V
|
P
|
ada
saat melewati tanjakan jalan yang rusak dekat gapura Teluk Kiluan, aku sempat
kesulitan karena tanjakannya tinggi sekali, dan dengan kemiringan yang tajam, belum
lagi jalannya rusak dibagian tengah, ada beberapa lobang yang lebar-lebar, dengan
pecahan batu berserakan.
Mana pinggirannya jurang pula. AC sengaja aku matikan
biar mobilku kuat tarikannya. Tetapi kali ini benar-benar aku ketemu MASALAH!
Pas ditengah bagian jalan yang rusak, mobilku gak kuat menanjak walau gas sudah
aku tekan sekuatnya sampai dasar. Mobil kami mundur!!!! MUNDUR dan terus
bergerak mundur!!!!
Astaghfirullah.....Aku berusaha sekuatnya dengan
menggunakan kedua rem, baik rem tangan dan rem kaki....tanganku yang satunya
semampunya mengendalikan stir mobil tapi posisi mobil tetap mundur!! Aku
mencoba segala cara agar bisa maju kedepan, tetapi sekali lagi semua percuma. Dengan
beban penumpang seperti itu, rem seperti tak berfungsi.Mobil kami terus
bergerak mundur kebawah dengan posisi miring kearah jurang tak tertahankan....
Anak-anak menjadi panik, ketakutan menguasai mereka karena
jika aku gak bisa menahan lajunya mobil itu, kami semua akan masuk kedalam
jurang disamping kami....
Aku berulang-ulang menekan gas agar mobil maju kedepan, bunyi decitan ban mobil yang bergesekan dengan jalan membuat suasana semakin runyam. Saking kuatnya gas yang aku tekan membuat ban mobil mengepul keluar asap beradu dengan jalan. Bau karet terbakar langsung menusuk hidungku.
“Turun!!! Kalian semua cepat turun!!! Mobil ini terlalu
berat.....!!!” seruku sambil sekuatnya aku memegang rem tangan dan menginjak
rem kaki, perseneling tetap aku masukkan kegigi 1 agar mobil bisa bertahan gak
mundur terus.
Mereka
semua langsung secepatnya melompat turun dari mobil.
“Chiko, kita buat jalur baru...!!”seru Tiwi
disela-sela kepanikannya. Dengan gesit Chiko langsung mengambil batu-batu yang
ada, bersama Tiwi menimbunin bagian
jalan yang berlobang. Tangan Chiko sampai luka terkena batu yang tajam. Jalan yang
rusak sebenarnya hanya beberapa meter, yang lain mulus. Tetapi karena posisinya
pas ditengah-tengah tanjakan itu yang berbahaya.
Sementara itu mobilku perlahan-lahan terus turun
kearah jurang. “Ya Allah, bantu aku, aku pasrahkan diriku padaMu Ya Allah, Kau
yang memiliki diriku.....hidup matiku Kau yang berkuasa... laahaaulaawallaquataillahbillah,
bismillahhirohmannirohiim....”bisikku dalam hati. Aku tetap berusaha fokus dan
tenang.
Aku sempat mendengar mereka memanggil-manggilku karena mencemaskan keadaanku, “Bunda....bunda.....” tapi aku terus konsentrasi, aku acuhkan semuanya, aku hanya fokus dengan jalan yang ada didepan mataku.
“Tiwi, jangan
nangis.....tahan wi, jangan nangis....,” entah suara Kristy atau Iid yang aku
dengar meminta Tiwi jangan menangis. “Bunda....” suara Tiwi.
Sempat juga aku mikir, “Ngapain sih tuh anak pakai
acara mau nangis segala disituasi kayak gini? Apa gak bisa dicancel dulu
nangisnya?”
Aku menunggu Chiko dan tiwi selesai membuat jalur baru
untuk kulalui,”Bunda ambil sebelah kanan.....jangan kekiri...”kata Chiko.
Aku coba mengikuti jalur baru yang mereka buat dengan
tekanan penuh pada gas, mereka semua dengan tegang melihat mobilku melaju
dengan kencang melewati itu semua. BERHASIL!! Alhamdulillah.....
Chiko berlari-lari mengejarku.
“Chiko, kalian jalan aja ya.....bunda tunggu
diatas,”kataku. Sebab posisi jalan masih menanjak banget, aku khawatir jika aku
berhenti menunggu mereka maka mobilku akan bergerak mundur lagi, tanjakannya
sangat tinggi. Jadi aku gak mau ambil resiko untuk kedua kalinya macet ditengah
jalan.
Sampai diatas, lewat gapura gerbang Teluk Kiluan, aku berhenti dan turun dari mobil. Aku periksa kondisi mobil, karena aku khawatir gara-gara kejadian tadi ada kerusakan dibawahnya, sedangkan perjalanan kami masih jauh dan masih banyak kesulitan yang akan kami hadapi. Semua terlihat baik, syukurlah....Lalu aku masuk kembali kedalam mobil, menunggu anak-anak sambil mendengarkan musik dimobil.
Yang pertama sampai diatas Tiwi, aku lihat dia berusaha sekuatnya lari menghampiri mobilku. Aku sempat bengong juga lihat dia dengan nafas ngos-ngosan berdiri disamping jendela mobilku. Sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah dia terus menatapku.
“Lah, kenapa pula nih anak?” bingung aku jadinya. Cara
dia menatapku seperti aku ini manusia dari luar angkasa aja, hahahahaha.....
Tapi aku mengerti apa yang dia rasakan, tanpa bicara
aku tahu apa yang dia pikirkankan. Khawatir, takut semua menjadi satu.
Pengalaman tadi benar-benar terlalu berat untuk dirasakan remaja seumurnya. Aku
hanya tersenyum aja berusaha menenangkannya.
Satu persatu yang lain menyusul dengan nafas megap-megap,
dalam hati aku merasa geli dan kasihan juga lihat mereka. Tapi mau gimana lagi
ini semua demi keselamatan kami juga. Yang membuatku khawatir keadaan Kristy.
Jalan mendaki melewati tanjakan setinggi itu benar-benar menguras tenaganya.
Tubuhnya memang lemah. Untung dia dibantu teman-temannya.
“Yank, gimana? Kuatkan?” tanyaku. “Iya bun....”Kristy
menjawab lemah. Aku lirik Chiko yang gantiin Tiwi duduk didepan sebelahku.
Keliatan dia masih sibuk atur nafas.
“Aduh bun....yang gak perokok kayak Chiko aja
ngos-ngosan gitu, apalagi chiko....tadi aja karena ngejar mobil bunda, chiko
sampai tepar geletak dijalan....” hahahaha, bisa KO juga Chiko J
Aku lihat semua keliatannya baik-baik aja, hanya nafas
mereka yang masih senin-kamis, diantara mereka hanya Kristy yang tampak paling
kepayahan.
Setelah semua naik mobil kami melanjutkan perjalanan, karena kami masih harus melewati sungai batu, kami takut sungai itu banjir kalau hujan seperti kata Bu Yon tadi.
Sesampainya disana, aku gak mau ambil resiko. Aku
menyuruh mereka turun agar beban mobil lebih ringan. Pertama aku nyoba naik
gagal, karena kali ini tepian sungainya posisinya lebih tinggi dan tidak
terlalu miring seperti tepian disebrangnya. Dan aku terlalu lurus mengambil
jalan. Aku coba jalan yang disebelahnya, walau aku sempat ragu-ragu juga
melihat tanah lintasan yang seperti kubangan itu, tapi gak ada pilihan
lain.....aku harus mencobanya dan berhasil. YES!!!
Tikungan demi tikungan kami lalui, jarang kendaraan yang
papasan dengan kami, karena memang saat itu masih suasana magrib. Dan mereka
gak senekad kami jalan malam didaerah tersebut. Hmmm.....mungkin aku sopir
perempuan pertama yang melakukannya, hahahahaha......
Kali ini aku mengerahkan konsentrasi penuh, karena
kami melewati jalan-jalan tersebut dengan hanya mengandalkan lampu mobil saja.
Akhirnya sampailah kami dibagian jalan yang paling hancur, jalan dengan bagian tengahnya terbelah retak parah. Cuaca mulai gelap, dengan hutan disebelah kami dan jurang dibagian lainnya, suasana benar-benar sepi hanya suara binatang malam dan musik dari mobil aja yang terdengar. Kami semua lebih banyak diam. Membuat kami seolah-olah berada didunia yang lain. Dunia yang penuh dengan mistik yang mencekam. Segala sesuatu ada ditempat ini. Bahkan hal-hal yang kasat mata, karena waktu sekarang (magrib) adalah pergantian waktu dari siang menuju malam, dimana segala hal yang halus mulai bergerak. Dalam hati aku mengucapkan doa-doa pelindung.
Pada bagian jalan yang menurun tajam, tiba-tiba aku merasakan angin dingin yang tidak sewajarnya mengelilingi kami, dadaku mendadak terasa sesak.
Astaghfirullah....Aku paham sekali dengan tanda-tanda
tersebut....Dengan tenang aku bilang pada anak-anak, ”Hmmm....coba kalian bantu
bunda ya, kalau kalian hafal ayat kursi tolong kalian bacakan, perasaan bunda
gak enak....” Mereka terdiam, aku seperti bisa mendengar detak jantung
ketakutan yang mereka rasakan, “Iya bun....”langsung aku dengar suara pelan mereka
membaca doa.
Kemudian aku berbisik dengan apapun yang saat itu ada
mengelilingi kami. “Maaf, kami numpang lewat.....kami gak bermaksud buruk, kami
hanya ingin pulang....”sambil aku mengucapkan doa-doa dan memohon bantuan
Allah. “Ya Allah, hanya Engkau yang aku takutkan.....Engkaulah yang berkuasa
atas semuanya, aku mohon perlindunganMu dari segala hal yang buruk.....”
Entah kenapa aku lalu melepaskan pijakan kakiku dari
gas mobil, perseneling mobil aku posisikan netral. Dan seperti ada kekuatan
yang gak nampak, mobil kami terus melaju dengan kencang melewati tiap tikungan
dan jalan yang belah tersebut.
“Ko, coba kamu lihat sendiri kan kalau bunda sama
sekali gak nginjak gas, tapi mobil kita tetap jalan terus dengan
kencang,”kataku pada Chiko. “Iya, bun......” Ciko menatap kakiku yang lepas
bebas dari pijakan gas.
Walau aku merasakan aura yang
berbeda, aku merasa tenang. Karena aku paham apapun yang saat itu ada disekitar
kami, mereka tidak jahat. Tidak ada aura negatif yang kurasakan. Malah
sepertinya mereka membantu kami, memberi kemudahan jalan yang pada saat
berangkat terasa sulit sekali kami lalui, padahal waktu itu cuaca terang. “Semua
berada dibawah Kuasa dan PerintahMu.....Ya Allah....”
Sepanjang jalan, Chiko membantuku memberi arah jalan, karena memang agak sulit melewati bagian jalan yang rusak parah itu dimalam hari, kegelapan membuat jalan tidak terlalu terlihat jelas, bahkan jurang-jurang yang ada dipinggiran jalanpun tak terlihat batasnya dengan jalan. Walau sempat terjadi berapa kali misscomunication antara aku ma Chiko. Kadang petunjuknya yang gak jelas, kanan atau kiri.....
Aku berusaha tetap mengambil jalur sebelah kanan,
karena setidaknya itu lebih aman, berada jauh dari tepi jurang yang berada
disebelah kiri jalan. Akhirnya kami dapat keluar dari jalan tersebut, aku berbisik
pada sekitarku, “Terimakasih.....”
VI
|
A
|
khirnya
kami memasuki desa, suasana benar-benar sepi seperti tak ada kehidupan sama
sekali, hanya lampu-lampu disetiap rumah yang membuat kami yakin kalau
desa-desa yang kami lewatin ada penduduknya. Karena cuaca sudah memasuki malam
hari semua rumah tampak mirip dengan yang kami lalui pas berangkat tadi.
“Ini nyasar apa gak ya?” tanya mereka.
“Ini benar koq, tadi kita kan ngelewati rumah bertingkat
yang belum jadi,”kataku yakin. Tiwi juga nambahin,”Benar ini jalan yang kita
lewatin tadi...” tapi entah kenapa aku agak ragu-ragu juga karena jalan yang
kami lalui semakin mengecil, seingatku tadi kami gak melewati jalan seperti
ini. Kemudian kami memutuskan untuk bertanya dengan penduduk setempat, walau
sulit juga karena hujan dan masih suasana magrib gak ada orang yang berada
diluar. Kemudian kami melewati satu
rumah dengan kendaraan motor yang masih terparkir diluar.
“Yank, coba
kamu turun dulu tanya kerumah itu ini benar gak jalan mau keluar.....,”kataku
pada Chiko.
Dan
ternyata kami memang nyasar jauh, arah yang kami ambil bukannya menuju jalan
pulang tapi malah menuju kegunung. Kata bapak itu, memang sering sekali
orang-orang yang nyasar lewat situ. Dengan mengikuti petunjuk yang diberikan
oleh bapak tersebut, kami bisa juga keluar dari desa itu.
Jalan yang kami lalui sekarang sudah
tidak terlalu parah lagi seperti tadi, hanya tikungan-tikungan tajamnya yang membahayakan,
ditambah pula hujan yang turun membuat jalan menjadi licin.
“Bunda, capek bun?” tanya Kristy. Aku cuma
senyum-senyum aja mendengarnya.
Tiwi yang menjawab, “capeknya kita belum apa-apa
dibandingkan dengan capeknya bunda.....capeknya bunda itu dua kali, tiga kali
lipat dari capek kita....”
Entahlah, sejujurnya aku malah gak ngrasain itu semua,
karena mungkin aku terlalu sibuk konsentrasi mengendarai mobil dan melewati
jalan-jalan yang rusak itu, membuatku jadi lupa dengan rasa badan sendiri.
Perjalanan pulang sudah gak terlalu terdengar lagi suara-suara mereka yang becanda seperti waktu berangkat. Mungkin mereka kelelahan, dan karena mengalami ketegangan demi ketegangan saat keluar dari Teluk Kiluan membuat mereka gak bergairah lagi bicara banyak. Hanya suara musik mobil yang terdengar dan sekali-kali suara Chiko yang memberi arah jalan padaku.
Kami memasuki daerah Punduh Pidada. Dan tiba-tiba aku
merasa mobilku agak berat bagian stirnya. Waduh, apalagi ini? Kayaknya ban
belakang mobilku yang memang sering kempes kumat nih, ya maklum aja kepuasan
nghantam batu dan jalan berlobang sih.... pikirku.
“Hmmm....Kayaknya ban belakang kempes nih....”kataku
pada mereka. “Coba kita cari tambal ban didaerah ini, tadi pas berangkat bunda
lihat ada bengkel motor....”
Dan alhamdulillah, masih ada tambal ban yang buka
dekat kawasan militer TNI AL. Sambil ngisi angin, anak-anak kesempatan untuk
buang rezeki akibat ketegangan selama dijalan tadi......hahahahaha.
Begitu memasuki kawasan markas TNI AL menuju kepantai
Klara, rasanya lega banget. Setidaknya jalan gak terlalu buruk seperti dari
punduh pidada keTeluk Kiluan. Lagipula masih ada 1-2 rumah dijalan yang kami
lalui.
Tak kerasa sudah sekitar jam 21.00
wib, berarti hampir 3 jam sudah kami dijalan. Kepulangan kami memakan waktu
yang lebih lama, karena kami jalan dimalam hari, sehingga harus lebih
hati-hati, belum lagi masalah-masalah yang kami hadapi dari Teluk Kiluan sampai
Punduh Pidada, yang kalau diingat-ingat benar-benar suatu KEAJAIBAN kami bisa
selamat melewati semua itu.
Darahku berdesir cepat, setiap ingat bahwa nyawa kami
semua berada ditanganku saat itu. Jika aku lengah maka nyawa kami taruhannya.
Kuasa Allah yang memberiku kekuatan menghadapi ini. Pantai Klara dan akhirnya
pantai Mutun kami lewatin.
”Bun, mau lewat mana pulangnya? Kemiling apa Teluk?
Kalau kemiling disitu jalannya menanjak banget juga sepi, rawan
daerahnya.....”kata Chiko.
Setelah melewati semua jalan yang super parah dan
rusak berat disepanjang jalan dari Teluk Kiluan tadi, rasanya semua jalan rusak
yang sekarang kami lalui menuju keBandarlampung gak ada arti apa-apa. Tapi aku
sudah mulai merasa lelah, nyetir sekitar 9 jam dengan rute yang menyeramkan
tadi menguras semua tenagaku. Karenanya aku memilih lewat Telukbetung saja.
Chiko sempat menyuruhku istirahat, biar gantian dengan
dia. Tapi aku bertahan untuk tetap nyetir mobil. Aku lebih percaya dengan
diriku sendiri. Lagipula pikirku nanggung banget, udah mau sampai, dan udah
terlanjur capek, sekalian aja deh capeknya.
Begitu memasuki daerah Telukbetung dan jalan-jalan yang aku sudah paham, rasanya ketegangan yang dirasakan tubuhku semua menjadi hilang. Ini benar-benar pengalaman yang gak akan aku lupakan seumur hidupku. Perjalanan dengan maut yang setiap waktu mengintai kami. Setidaknya aku bersyukur, satu janjiku pada Tiwi telah kutepatin J Sampai diBandarlampung kota, kami nganterin Kristy dulu pulang kerumahnya. Karena hujan masih lumayan deras, kasihan kalau dia harus dibonceng naik motor dengan fisik yang masih lemah seperti itu akibat jalan mendaki diTeluk Kiluan tadi. Lagipula toh kami melewati daerah rumahnya, jadi sekalian aja pikirku.
Rendi, Chiko dan Rano masih ikut dalam mobil karena
motor Rendi dan Chiko dititip di kamar kostnya Tiwi.
“Legaaaaa.......sudah sampai Bandarlampung,” kataku.
Tiwi nyahut, “aku baru lega kalau sudah masuk gerbang
kostku....”hahahahahaha......
Kami sampai dikost sekitar jam 22.00. Rasanya lengket semua badan karena air laut membuatku ingin cepat-cepat mandi. Mana tadi aku sempat kena hujan juga, dan hujan merupakan salah satu musuh bagi fisikku. Sementara itu Chiko, Rendi dan Rano langsung pulang.
Benar-benar seperti mimpi apa yang kami alami seharian
ini, luarbiasa....Apalagi
dengan rute jalan yang memacu adrenalin seperti itu, tapi jujur saja....aku gak
kapok......hahahaha, setidaknya pengalaman sekali akan membuat kita lain kali
lebih siap dan lebih berhati-hati... (Hm, apa akan ada “LAIN KALI” itu?).
Selamat
malam anak-anak bunda, selamat tidur, semoga segala kelelahan dan ketegangan
hari ini bisa larut dalam tidur yang pula.
***********&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&***********
#Malamnya aku gak bisa
tidur, pegal semua badan ditambah batuk yang eksis gara-gara kelelahan, air
hujan plus mandi air dingin malam-malam.
##Besoknya pas cerita ma
teman-teman kuliah, mereka pada gak percaya kalau aku kemarin ke Teluk Kiluan
pulang pergi, untung ada foto-foto sebagai bukti, dan semua langsung bilang:
“GILAAAAAAA........NEKAAAAAD, malam-malam pulang dari Kiluan!!! Gilaaaa
luuuu.....”
### Pas cerita ma teman-teman
kerja di SMKN 1 Metro, commentnya sama dengan teman-teman kuliah, ditambah
geleng-geleng kepala gak berhenti-henti....untung pada gak copot tuh kepala.
####
KESIMPULANNYA:
“Kemarin emang kita semua GILAAAAA..... banget pengalamannya (bukan orangnya),
dan aku emang benar-benar nekad, spekulasi tinggi.....”
=========TUTUP
CERITA ===========
Tidak ada komentar:
Posting Komentar